BIAR BERBEDA NAMUN SATU DI DALAM KRISTUS


PERBEDAAN MEMBAWA KESATUAN DI DALAM KRISTUS[1]

(Efesus 4:1-7)

1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu 2  Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. 3  Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: 4  satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, 5  satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, 6  satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. 7  Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

1. Susahnya Untuk Bersatu!

Bila kita menoleh kembali kepada sejarah berdirinya Negara Indonesia, satu hal yang menarik adalah ketika terjadi perdebatan tentang apa yang menjadi dasar negara Indonesia nantinya?[2]. Dasar yang dimaksud adalah untuk mempersatukan daerah-daerah di Indonesia yang pada saat itu saling terpecah belah dan saling mengurus dirinya masing-masing.  Kurangnya kerjasama yang baik diantara daerah tersebut karena perbedaan budaya, bahasa terlebih agama, juga menambah masalah yang dihadapi.

Hal ini terjadi pada pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 29 Mei s/d 01 Juni 1945.  Dalam 3 hari rapat tersebut sulit untuk mengambil keputusan. Untunglah Ir. Sukarno tampil dan menyampaikan pidato dengan memberi satu gagasan dasar negara Indonesia adalah PANCASILA (Lima Sila) yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun dikemudian hari terdapat perdebatan khususnya Sila I dengan bertambahnya Syariat Islam, namun dengan kesepakatan bersama hal itu dihapuskan. Belum lagi banyak usaha yang mengganti Pancasila dengan dasar lain dan munculnya semangat kedaerahan yang tinggi; namun satu hal yang dicatat bahwa Pancasila tetap menjadi dasar negara yang mempersatukan rakyat Indonesia hingga sekarang ini.

Persoalan tentang dasar kesatuan ini juga dihadapi Paulus kurang lebih 2000 tahun yang lalu khususnya di Jemaat Efesus. Selama 2 (dua) tahun Paulus mengajar dengan berani (Kisah 19:8-10) mulai dari rumah ibadat hingga ruang kuliah Tiranus (Kisah 19:8-10). Ia juga melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (Kisah 19:11). Semua ini membuat firman Tuhan terdengar oleh semua orang (Kis 19:10) dan makin berkuasa (Kis. 19: 20). Meskipun banyak tantangan yang dihadapi khususnya dengan munculnya penyembahan berhala khususnya kepada Dewi Artimis dan munculnya para tukang sihir khsusnya Demetrius, namun Paulus tetap teguh mewartakan Firman Tuhan banyak yang percaya dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan Yesus. (Kisah 19:19, 23-24 dan 35). Itulah sebabnya Paulus menggambarkannya sebagai pelayanan yang banyak mencucurkan air mata, banyak percobaan dan usaha pembunuhan (Kisah 20:19).

Namun sekarang persoalan muncul di tengah-tengah Jemaat Efesus. Persoalan pertama adalah perbedaan latar belakang budaya. Hal itu bermula dari ketidakharmonisan antara warga yang berasal dari non-Yahudi (Yunani, Romawi) dengan warga yang berasal dari kaum Yahudi. Perbedaan ini bertitik tolak dari perbedaan pandangan tentang keselamatan yang menurut orang Yahudi hanya kepada mereka; pandangan tentang aturan-aturan dalam hukum taurat seperti sunat, makanan haram, puasa yang tidak dapat dipahami oleh warga non-Yahudi. Persoalan ini menjadi perdebatan yang sangat hebat dan dapat membawa kepada perpecahan.

Persoalan kedua adalah masalah immoralitas, Kota Efesus ini terletak di Asia Kecil (kawasan di Asia Barat Daya yang letaknya saat ini kurang lebih di Turki bagian Asia). Pada zaman Perjanjian Baru, kota Efesus adalah kota tua yang punya peradaban tinggi selama berabad-abad dan merupakan kota perdagangan yang kaya. Pada abad-abad pertama, Efesus adalah pelabuhan tersibuk di kawasan Asia Kecil. Ia terkenal dengan julukan ”metropolis pertama dan terbesar di Asia”. Bahkan saking kagumnya, seorang pujangga, menyebutnya ”Lumen Asiae” atau ”Cahaya Asia”.

Dalam konteks di atas masalah immoralitas muncul. Efesus adalah lahan subur bagi agama-agama kafir khususnya sebagai pusat pemujaan Dewi Artemis. Pemujaan kepada Dewi Artemis ini berpadu dengan kesenangan duniawai melalui kehadiran ratusan gadis cantik jelita yang berfungsi rangkap sebagai imam dan sebagai pelacur suci di kuil-kuil Artemis. Orang-orang Romawi menyatukan diri dengan pujaan mereka dengan cara menyetubuhi pelacur-pelacur ”suci” itu.  Di samping sebagai sentral kehidupan seks bebas, Efesus juga merupakan pusat berkumpulnya penjahat-penjahat buronan kelas kakap dari segala penjuru. Di sini konon berlaku aturan, penjahat apa pun yang berhasil mencapai Efesus akan memperoleh suaka, dan bebas dari kejaran hukum. Masalah immoralitas ini juga mempengaruhi kehidupan Jemaat Efesus yang baru tumbuh pada saat itu.

Di dalam menghadapi persoalan di atas, Paulus yang sedang berada di dalam penjara bersedih hati dan perlu memberikan satu nasehat kepada Jemaat Efesus agar tidak terlalu jauh jatuh ke dalam dosa (ay.1).

2. Perlu Kesatuan Di Dalam Kristus

Dalam menjawab persoalan di atas, pandangan utama yang ditekankan oleh Paulus adalah ”semua mereka sama-sama dipanggil oleh Kristus baik yang ”jauh” maupun yang ”dekat” untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah” (Efesus 2:17-18)[3]. Semua orang yang telah dipanggil itu dipersatukan di dalam Kristus sendiri dan diharapkan hidup berpadanan dengan yang memanggil itu, yaitu Yesus sendiri. Inilah yang disebut Paulus sebagai Jemaat atau gereja adalah seperti tubuh dengan Kristus sebagai kepalanya, atau seperti sebuah bangunan yang batu sendinya ialah Kristus. Inti yang mau dikatakan oleh Paulus adalah pusat atau dasar dari kesatuan mereka adalah Yesus Kristus sendiri.

Dalam mencapai kesatuan itu Paulus menganjurkan beberapa hal yang dilakukan oleh Jemaat Efesus yakni :

a. Memiliki hati yang membawa kepada kesatuan (ay. 2)

Bagi Paulus langkah pertama yang dilakukan dalam mencapai kesatuan di dalam Kristus adalah memiliki hati yang penuh dengan rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Ketiga sifat ini disempurnakan dengan menunjukkan kasih dalam hal saling membantu. Hati yang membawa kepada kesatuan ini penting dalam menghadapi tantangan dan perbedaan di antara mereka.

b. Memelihara Dasar-Dasar Kesatuan (ay. 3-6)

Dalam hal ini Paulus mengemukakan Sapta Sila Kesatuan yakni : Satu tubuh—yakni Kristus adalah kepala, Satu pengharapan—yakni sama-sama melangkah untuk mendapatkan hidup yang kekal di dalam Kristus; Satu Tuhan—yang dipercayai menjadi pemimpin yang melebihi dari penguasa dunia termasuk kaisar pada saat itu; Satu iman—kita semua memercayai pengurbanan Yesus untuk keselamatan kita; Satu baptisan—sebagai jalan menjadi warga kerajaan Allah di dalam Kristus serta keikutsertaan di dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Roma 6:4-5) dan satu Allah – yang melebihi allah lain termasuk Artemis.

c. Saling Berbagi Melalui Karunia Yang Ada (ay. 7)

Setiap manusia diberikan karunia yang berbeda-beda. Dalam Roma 12:6-8, Paulus mengatakan bahwa ”Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;  jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”. Intinya dalam kesatuan di dalam Kristus perlu saling melengkapi di antara satu dengan yang lain melalui karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.

3. Bagaimana Dengan Kita??

Gereja-gereja di Nias dimana BNKP hidup didalamnya adalah bagian dari tubuh Kristus. Dalam keperbedaan itu, sekarang ini selalu didengungkan pentingnya kesatuan atau yang diistilahkan dengan Oikumene. Namun sadar atau tidak sadar justru masih kurang adanya kesatuan diantara Warga dari denominasi yang satu dengan denominasi yang lain. Fenomena ini muncul dalam kehidupan bergereja termasuk dalam kehidupan bermasyarakat.

  • Tidak jarang kita melihat diantara gereja saling menjatuhkan dengan menganggap dirinya yang terbaik, penuh roh, penuh kuasa dan memiliki ibadah yang hidup padahal Alkitab yang dipakai dan Bapa yang disembah adalah sama.
  • Tidak jarang kita melihat diantara gereja terjadi saling ”mencuri domba” yang kebanyakan ”korbannya” adalah warga BNKP sendiri.
  • Tidak jarang dalam kehidupan bermasyarakat terjadi pemilahan antara warga gereja yang satu dengan gereja yang lain. Ketika adanya kegiatan suka dan duka dari satu gereja, maka warga gereja yang lain menganggap itu bukan bagian dari kehidupannya.
  • Dalam kehidupan bermasyarakat juga tidak jarang kita temui dalam penempatan orang tertentu yang duduk dalam satu kegiatan di desa, kecamatan termasuk kabupaten perbedaan denominasi ini terbawa-bawa.

Realita di atas juga merasuki dalam kehidupan BNKP. Warga BNKP yang terdiri dari latar belakang yang berbeda baik dalam hal sosial budaya, kehidupan ekonomi, dan dalam kehidupan bermasyarakat juga diperhadapkan dengan pertanyaan, apakah kesatuan di dalam Kristus telah terwujud di antara warga BNKP sendiri?. Adakah juga di antara pelayan termasuk kita yang hadir pada saat ini telah tercipta kesatuan?.

  • Kita melihat bahwa ada kecenderungan jemaat yang satu memisah dengan jemaat induk dengan alasan pemekaran. Namun apakah semua motivasi murni karena pemekaran? Ataukah ada dalih lain oleh karena ketidakcocokan di antara pelayan itu sendiri? Ataukah dengan dalih lain sudah tidak terpilih lagi menjadi pelayan sehingga dengan membentuk jemaat yang baru ada jabatan?
  • Belum lagi kurang harmonisnya jemaat yang satu dengan jemaat yang lain akibat ”luka masa lalu” akibat perpecahan. Yang juga terbawa di dalam pelayanan.
  • Belum lagi ada kecenderungan di antara pelayan memilih-memilih dan membeda-bedakan orang dalam melayani yang dikaitkan dengan strata sosial orang yang dilayani. Sehingga muncul rasa ketidaksenangan dan ketidakpuasan dalam pelayanan.

Jikalau hal ini terus berlangsung, bagaimana kita dapat berbicara kesatuan di dalam Kristus?. Pasti Yesus sedih dan sakit melihat kenyataan ini!. Dirinya tercabik-cabik oleh karena perbuatan kita sendiri. Justru persoalan-persoalan penting di tengah masyarakat seperti kemiskinan, ketertinggalan, krisis ekonomi . Belum lagi adanya sikap masih percaya kepada ocultisme termasuk munculnya kecenderungan meng-ilah-kan alat  modern (seperti TV, Internet, Hp, termasuk tempat pelacuran dll), gereja perlu bersatu di dalam menghadapinya. Tetapi apa gereja telah melakukannya?. Siapa yang mempersatukan perbedaan ini?

Dalam konteks diatas, kita sebagai pelayan yang diutus Tuhan dipanggil untuk menjadi ’Paulus Zaman ini” dengan menjadi alat dalam menyampaikan kesatuan itu. Hal itu tentu kita laksanakan melalui pelayanan holistik dimana bukan hanya melalui pemberitaan Firman Tuhan, tetapi juga kita mulai dulu dari diri kita sendiri melalui integritas dan spritualitas kita sehari-hari. Sehingga pada akhirnya kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:13-15). Selamat Menjadi Alat Pemersatu!!!


[1]. Renungan ini pernah disampaikan pada Ibadah  Raker  Pendeta BNKP, Rabu, 11 Maret 2009 di Jemaat BNKP Lahewa

[2]. Pertanyaan ini sendiri dimunculkan oleh dr. Radjiman Wediodininggrat, Ketua PPKI dalam pidato Pembukaan. Perdebatan dan proses munculnya Pancasila dapat dibaca buku Eka Darmaputera, Pancasila:Identitas & Modernitas (Jakarta:BPK-GM, 1997).

[3]. Dalam konteks PB, istilah jauh menunjuk kepada non-Yahudi, sementara dekat adalah orang Yahudi. Hal ini berkaitan dengan konsep panggilan Allah yang dimulai dari bangsa Israel (asal usul orang Yahudi)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s