Hidup Bersama di Dalam Kristus


Hidup Bersama di Dalam Kristus[1]

(Renungan dari Filipi 2:1-5)

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus

Pengantar

Memasuki tahun 2010, Jemaat BNKP Depok memulai satu kegiatan pembinaan jemaat dengan melaksanakan kebaktian bersama pada hari Jumat, 29 Januari 2010 dengan Tema : Keluarga Bahagia. Pada awalnya ketika penulis diundang menjadi pembicara, ada keragu-raguan dalam hati. Penulis bertanya apa keluarga penulis juga sudah bahagia? Apa sudah layak menyampaikan materi ini dihadapan seluruh majelis dan warga jemaat BNKP Depok, sementara penulis masih “muda” dalam pelayanan?. Namun dengan kekuatan doa dan membaca beberapa buku referensi, akhirnya penulis menyampaikan materi renungan yang sebagian besar ada dalam bagian ini..

Kriteria Bahagia?

Berbicara masalah kebahagiaan ini sulit kita definisikan karena hal tersebut abstrak dan tergantung bagi pribadi seseorang. Ada keluarga bahagia ketika punya anak, namun di keluarga lain mereka bahagia ketika memiliki segala sesuatunya. Keluarga yang lain juga melihat bahagia dari bagaimana mereka menikmati kehidupan mereka apa adanya. Dan banyak hal yang lain. Namun kebahagian yang kita idamkan adalah bahagia di dunia dan juga di akhirat kelak. Amin?

Krisis Kasih

Dewasa ini mulai ada kecenderungan munculnya krisis kasih.

  • Orang mulai tidak peduli dengan sesamanya dengan muncul istilah “Siapa Lu, Siapa Gua”. Hal ini juga berlaku di dalam keluarga. Awalnya ketika membentuk mahligai keluarga, kata sayang dihamburkan. Sekarang menjadi kata yang sulit untuk diungkapkan.
  • Orangtua sekarang lebih sibuk mengejar materi namun melupakan kebahagiaan dalam keluarga. Sehingga pembinaan dan perkembangan anak terabaikan.
  • Akibatnya, sekarang kita tidak jarang melihat keluarga menjadi broken home dimana terjadi krisis kasih.
  • Terjadi pertikaian di antara orangtua akibat perselingkuhan, orang ketiga, dll. Akhirnya gejala ini dapat membawa kepada perceraian.
  • Dampak berikutnya muncul Poligami. Bahkan sekarang sudah ada perkumpulan poligami.
  • Juga antara orangtua dengan anak-anak kurang komunikasi karena disibukkan dengan aktivitas masing-masing.

Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Dalam ay. 3-4 menjelaskan hal tersebut.

  • Egoisme : hanya ingin didengarkan, namun tidak mau mendengarkan
  • Hanya mau diakui kelebihan, namun tidak menerima kelebihan pasangan
  • Mencari kepentingan sendiri – disini muncul perselingkuhan.

Gejala ini juga yang dihadapi oleh Paulus di tengah-tengah jemaat Filipi. Jemaat Filipi yang merupakan hasil penginjilan Paulus sangat kuat dan teguh dalam iman kepada Kristus. Bahkan mereka membantu pelayanan Paulus meskipun mereka berkekurangan. Persoalan muncul adalah ketidakharmonisan diantara mereka khususnya masalah budaya yang berbeda (Yunani dan Yahudi), gender termasuk dalam keluarga. Untuk itu Paulus menegur mereka dengan memberikan satu kekuatan agar “Hidup bersama di dalam Kristus” (ay. 5). Intinya segala kehidupan berdasar kepada kasih Kristus.

Pernikahan adalah mandat Allah sendiri (dari Alllah, oleh Allah dan untuk Allah)

Dalam berbagai pelayanan konseling dengan warga jemaat yang mau menikah dan juga sharing dengan pemuda selalu muncul pertanyaan kenapa anda mau menikah?. Jawaban agak bervariasi.

  • Ada yang mengatakan karena “terpaksa” artinya terlanjur termakan budi sampai terlanjur basah (seperti dalam nyanyian).
  • Ada juga jawaban karena “dipaksa” oleh orang tua.
  • Ada juga mengatakan karena “masa depan terjamin” artinya kesenangan.
  • Ada juga mengatakan karena “masa depan terjamin” artinya kesenangan.
  • Faktor  “umur” – ABODA (Asala Noa, Boi Zilo’o, Dali Mano)
  • Ada juga karena “kepribadian yang menarik” artinya materi, rumah pribadi, tanah pribadi, mobil pribadi, dll.
  • Ada juga karena “faktor keturunan” artinya memperbaiki keturunan.
  • Dan tentu ada juga yang mengatakan karena “fisik” seperti ganteng, cantik, manis, menarik dll. Semua jawaban ini sah-sah saja dan itu juga pendapat masing-masing.

Namun, diatas semuanya alasan menikah karena saling mengasihi dan menyayangi. Seperti dalam ay. 1-2 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.

Allah adalah Kasih

Kasih itu sendiri berasal dari Allah. Dan ini juga yang menjadi  esensi dasar dari pernikahan itu sendiri bahwa Allah sendiri yang merencanakan munculnya pernikahan dengan menciptakan laki-laki dan perempuan yang segambar dengan diri-Nya (Kej. 1:26-28). Dalam hal ini Allah sendiri prihatin tentang keberadaan hidup manusia yang pertama yaitu Adam  yang hanya seorang diri (Kej. 2:18-25).

Rencana Allah ini akhirnya diwujudkan-Nya sendiri ketika Dia menciptakan seorang penolong kepada manusia yang pertama yaitu Adam. Dalm hal ini Allah sendiri berfirman : ”tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18)[2]. Pemahaman ini menunjukkan bahwa oleh kasih Sang Pencipta, menganggap keberadaan Adam kurang lengkap ketika ia hidup tanpa komunitas atau tanpa rekan yang sepadan.

Itulah sebabnya Allah menciptakan perempuan yaitu Hawa dari tulang rusuk laki-laki. Tentang pemahaman dari tulang rusuk ini, Agustinus, seorang bapa gereja pernah menulis sajak yang digubah nantinya oleh Dale S. Hadley sebagai berikut[3] :

“Wanita diciptakan dari rusuk pria

Bukan dari kepalanya untuk menjadi atasan

Bukan pula dari kaki untuk dijadikan alas

Melainkan dari sisinya

Untuk menjadi mitra sederajat

Dekat pada lengannya untuk dilindungi

Dan dekat dihatinya untuk dicintai”

Dari pemahaman ini jelas bahwa pernikahan adalah kehendak Allah sendiri dengan mempertemukan dua manusia yang berbeda jenis kelamin menjadi satu di dalam kasih-Nya. Untuk itu orang yang telah dipersatukan oleh Tuhan hendaknya sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.

Proses membina Keluarga.

Seperti membangun rumah yang dihubungkan dengan kasih. Ada 4 kasih dalam bahasa Yunani :

  • DASAR – KASIH EROS
  • TIANG –KASIH PHILIA
  • ATAP – KASIH STORGE
  • ISI – KASIH AGAPE

Pernikahan membawa satu tanggungjawab dihadapan Tuhan

Dengan menikah berarti ada satu tanggungjawab penuh dalam menghidupi keluarga. Dalam hal ini muncul yang namanya pembagian tugas. Dalam teks Efesus 5:22-27 jelas dikatakan bahwa laki-laki sebagai kepala keluarga mesti bertanggungjawab kepada istri dan anaknya dalam hal kebutuhan hidup baik jasmani dan rohani. Menjadi kepala bukan menunjukkan kekuasaan melainkan berdasar kepada kasih Kristus. Istri juga sebagai pendamping bertugas untuk menolong dan mendukung suami dalam tugas pelayanan. Kesatuan hati dalam tanggungjawab ini akan menghasilkan kelanggengan dalam rumah tangga.

Namun perlu diingat bahwa dengan memiliki tanggingjawab ini maka hubungan dengan orangtua lepas. Kesan selama ini menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang sudah berkeluarga memahami teks meninggalkan ayah dan ibu sebagai tanda bahwa sudah tidak ada ikatan dengan kedua orangtua. Kita tidak akan bisa lepas dari orangtua apalagi keluarga yang telah mengasihi kita. Kata meninggalkan disini hanya dalam hal tanggungjawab. Tetapi kasih dan hubungan tetap sampai kematian memisahkan kita.

Saling menerima satu dengan yang lain

Biasanya orang yang pacaran, yang nampak adalah yang baik-baik saja. Jarang ditunjukkan yang tidak baik. Mana pernah seorang laki-laki mengatakan, maaf ya aku orangnya rakus. Atau aku orangnya pemalas. Demikian juga perempuan, dengan mengatakan maaf, aku tidak bisa masak. Aku orangnya suka jalan-jalan saja. Pasti semua baik. Kelemahan baru mulai muncul ketika telah membentuk mahligai keturunan. Disinilah masa-masa yang menentukan karena bila tidak dibarengi dengan kasih, maka akan muncul penyakit seperti yang diutarakan pada ay. 3 dan 4 egois dan dan tinggi hati (tidak mau diatur).

Disalah satu surat kabar Kompas diberitakan ada pasangan suami istri di Inggris yang pada 01 Juni 2005 merayakan Hari Ulang Tahun Perkawinan mereka yang ke-80 (menikah 1 Juni 1925). Mereka adalah Percy dan Forence Arrowsmith. Ditanyakan kepada mereka ”Apa resep sehingga perkawinan mereka awet?”. Mereka menjawab, ”kami tidak  pernah menghilangkan  kata sayang, cinta  dan maaf dalam perkawinan kami. Itulah resepnya!”. Usia pernikahan mereka yang awet ini akhirnya menjadi rekor dengan usia perkawinan tertua di dunia dan masuk dalam Guinness World Records (Buku Rekor Dunia)[4]. Pengalaman ini menjadi pengalaman berharga bagi pasangan baru ini agar mereka tetap menjaga kelangsungan pernikahan dalam kata sayang, cinta dan maaf yang didasari dari kasih Kristus sendiri.

Hidup Bersama Di dalam Kristus.

Saya yakin tujuan kita adalah bagaimana hidup dalam keluarga bahagia. Saya teringat dengan 3 (tiga) falsafah orang Batak yang mengatakan 3 H, Hamoraon (Kekayaan), Hasangapon (Kehormatan), Hagabeon (Keturunan). Namun, semuanya belum sempurna jika tidak dilengkapi dengan H yang satu lagi yaitu. Harajaon Ni Debata (Mencari Kerajaan Allah). Mateus 6:33 “Sai jumolo ma lului hamu harajaon ni Debata dohot hatigoranna…” Apa itu Kerajaan Allah? Dalam Roma 14:17 dikatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”. Ketika kita menggabungkan semuanya, kebahagiaan yang kita peroleh baik dalam hidup, keturunan, pekerjaan dan juga dikehidupan masa depan.  Bila kita menyanyikan lagu “Anakkonki Do Hamoraon di Au”, jelas bagaimana orangtua rela melakukan apa saja demi kebahagiaan anaknya. Persoalannya apa kita juga mau melakukan untuk Tuhan dengan mencari Kerajaan-Nya?..

Suka dan duka tetap di dalam Kasih Tuhan.

Bagi orang yang baru menikah selalu digelari sebagai pasangan baru, hidup baru. Pertanyaan apakah sukacita yang baru hari ini akan terus berlangsung ke depan?. Menarik buku yang dikarang oleh Andar Ismail, Dosen STT Jakarta bidang Pendidikan Agama Kristen, judul bukunya Selamat Ribut Rukun. Dalam buku ini dia mengatakan bahwa dalam membina rumah tangga ada kalanya ribut. Tetapi akhirnya akan rukun kembali. Namun keributan yang membawa kerukunan hanya akan terjadi jika kedua pasangan tetap memelihara kasih sayang di antara mereka.

Dalam hal ini ke depan juga banyak tantangan yang dihadapi. Kebutuhan hidup, pekerjaan, tempat tinggal, kebutuhan anak-anak. Kadang-kadang ini akan membawa kita kepada perbedaan pendapat. Tetapi sekali lagi sandarkanlah semuanya kepada kasih Kristus.

Saya teringat dengan sebuah pengalaman Jusuf Roni, pengkhotbah terkenal dalam memberikan konseling kepada keluarga yang suka bertengkar. Suami suka memukul. Sementara istri suka marah tanpa alasan. Dia memberikan tips begini :

”Bila suami ingin istrinya tidak suka marah lagi, maka biarkan suatu malam dia tidur duluan. Lalu tumpangkan tangan anda di mulutnya yang suka marah sambil berdoa, ”di dalam nama Yesus, semua roh cerewet keluar dari mulutmu”. Tapi ingat jangan kuat menekan mulutnya. Dia bisa mati kehabisan nafas atau dia bangun dan marah lagi”.

“Bila istri yang suka suaminya berubah dari yang suka mukul, maka sama seperti hal diatas biarkan suatu malam dia tidur duluan. Lalu tumpangkan tangan anda di mulutnya yang suka marah sambil berdoa, ”di dalam nama Yesus, semua roh pemukul keluar dari tanganmu”. Tapi ingat jangan kuat suaranya. Dia bisa bangun dan marah lagi dengan memukulmu”.

Apa makna yang tersirat dari perkataan di atas?. Bahwa dalam suka dan duka pernikahan di selesaikan melalui doa kepada Tuhan. Doa bukan hanya sekedar kata-kata tetapi juga sebagai bagian dari jiwa  dan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Doa juga yang akan menghantarkan dan membantu kita dalam pergumulan yang kita hadapi. Sehingga kesatuan yang telah ditetapkan Tuhan tetap abadi selama kita hidup di dunia ini. Selamat Ribut Rukun di dalam keluarga. Amin.

Depok,  29 Januari 2010
Pdt. Gustav Gabriel Harefa

Jemaat Bergembira


[1]. Renungan yang disampaikan pada acara PEMBINAAN JEMAAT BNKP DEPOK, Jumat, 29 Januari 2010.

[2]. Kata penolong yang sepadan dalam bahasa Ibrani adalah ezer kenegdo. “Ezer” yang berarti “yang menyelamatkan” atau “yang menolong”, bahkan lebih tegas yaitu “yang menguatkan”. Sementara itu “kenegdo” berarti “yang sejajar”, “yang sepadan”. Dengan demikian penolong yang sepadan itu adalah seimbang, serupa namun tidak sama (jenis kelamin). Penolong yang sepadan juga tambahan sekaligus pelengkap bagi kekurangan manusia dalam meniadakan kesepiannya.  Melalui penolong manusia diluputkan dari kesepiannya dan ditentukan untuk bertemu, berjumpa, berteman, bersahabat, bersaudara, bergaul, bersekutu, bersama-sama, beserta, untuk mengambil bagian, untuk bercakap-cakap, berkenalan, untuk memberi jawab dan menerima jawab. W. Lemp. Tafsiran Alkitab Kejadian 1:1-4:26 (Jakarta:BPK-GM, 1976, hlm.74-75.

[3]. Dikutip oleh Andar Ismail, Selamat Ribut Rukun, (Jakarta:BPK_GM, 2003, cet. 10), hlm. 10

[4]. Kilasan Kawat Dunia, Harian Kompas, 02 Juni 2005, hlm 12.

2 gagasan untuk “Hidup Bersama di Dalam Kristus

  1. Yaahowu Pak Pendeta.
    Terima kasih atas tulisannya tentang keberadaan BNKP yang mana dapat membuka wawasan tentang organiasi gereja yang kita cintai ini.
    Saya juga seorang warga gereja BNKP. Saya sangat merindukan bahwa BNKP ini – sebagai wadah yang besar bagi umat Kristen di Nias – menjadi sebuah organisasi gereja yang mampu melayani umat, serta mengajarkan umat untuk mencintai Yesus bukan karena kebetulan terlahir sebagai orang Kristen bersuku Nias, akan tetapi karena pemahaman yang mendalam mengenai ajaran agama yang diakuinya.
    Saya mengamati, bahwa ada banyak umat yang mengaku Kristen dan memang tulus dan serius menjadi orang Kristen tetapi pemahamannya (yang kemudian berlanjut pada sikap dan tindakannya) tidak menggambarkan ajaran Kristen yang sebenarnya (paling tidak menurut pemahaman saya karena ini hasil pengamatan saya). Mungkin saja saya juga adalah salah seorang di dalam golongan itu.
    Ada banayak hal dalam benak saya selaku orang yang ingin mencintai Yesus dengan segala ajarannya, yang sangat mengganggu pemikiran saya tentang doktrin, tradisi dan sampai pada aturan aturan gereja (terutama BNKP yang kita cintai) dan sampai sekarang masih menjadi pertanyaan dalam batin saya.
    Saya mengerti bahwa memahami ajaran Tuhan adalah harus didasari dengan iman. Tetapi itu mungkin berlaku bagi hal-hal yang memang secara gamblang Tuhan menyatakannya demikian yang dibuktikan dengan referensi yaitu Alkitab. Namun, terkadang ini selalu menjadi senjata bagi “hamba Tuhan” takkala mereka tidak dapat menjelaskan secara logis apa yang menjadi pertanyaan warga jemaat.
    Pernah, pada suatu saat, ketika di dalam sebuah PA, kebetulan, yang membawa renungan adalah Satua Niha Keriso. Saat itu saya mencoba membuat sebuah pertanyaan tentang FANGEHETA NIHA KERISO.
    Seperti kita ketahui bahwa dalam aturan tata gerja BNKP (saya kurang tahu apakah demikian juga di organisasi gereja yang lain) seorang yang telah terbukti melakukan perzinahan akan diberlakukan kepadanya “LAHETA IA NIHA KERISO” walaupun itu hanya sampai dia bertobat. Kalau “LAHETA IA MOROI BA BNKP” mungkin ini tidak akan menjadi pertanyaan dalam benak saya.
    Yang mengganggu benak saya dalam hal ini adalah:
    1. Apa dasar hak gereja mengeluarkan seseorang dari “NIHA KERISO”. Bukankah menjadi Niha Keriso itu adalah sesuatu yang menjadi hak azasi? Bukankah Yesus berpesan: “Jadikanlah semua bangsa muridKu”? Dan menurut pemahaman saya, Yesus tidak pernah menyatakan bahwa ada hak seseorang menyatakan kepada orang lain bahwa ia bukan ORANG KRISTEN lagi.
    2. Bagi orang yang telah dikeluarkan dari ORANG KRISTEN, ia tidak berhak mendapatkan pelayanan layaknya seorang Kristen ketika ia meninggal. Memang benar bahwa ia masih bisa beribadah di dalam persekutuan di gereja, tetapi apakah dia harus diperlakukan demikian? Bukankan kita harus memperlakukan semua orang sama? Allah saja memberikan matahari bagi orang yang benar dan yang tidak benar. Yesus saja mengampuni perempuan berdosa yang kedapatan berzinah ketika perempuan itu hendak dirajam oleh orang-orang Yahudi, walaupun perempuan itu kemudian Dia suruh bertobat dari perbuatannya. Jadi, siapakah kita sehingga kita berhak untuk memperlakukan sesame kita – bahkan sesama orang Kristen (walau dia telah jatuh dalam dosa) ?
    3. Mengapa aturan ini hanya diberlakukan kepada orang yang berzinah saja? Bukankah masih banyak dosa lain yang lebih parah? Bukankah memiliki ilah lain, menyembah berhala, menyebut nama TUHAN dengan sembarangan, tidak menghormati orang tua, tidak menguduskan Sabat, mencuri, membunuh, mengucapkan saksi dusta dan mengingini kepunyaan orang lain itu juga adalah dosa? Atau adakah dosa yang lebih besar selain dosa yang tidak dapat diampuni yakni menghujat Roh Kudus (seperti yang Yesus telah nyatakan)?

    Jadi, Pak Pendeta, ini dalah hanya contoh saja dari bagian kegundahan hati saya dalam memahami iman Kristen kita. Kalau bisa pak Pendeta membantu kegundahan hati saya ini, saya akan sangat berterima kasih dan akan saya bagikan kegundahan-kegundahan yang lainnya.
    Harapan saya, Pak Pendeta, seperti yang telah saya nyatakan di awal tadi, bahwa saya merindukan BNKP kita sebagai organisasi gereja yang mampu melayani umat, serta mengajarkan umat untuk mencintai Yesus bukan karena kebetulan terlahir sebagai orang Kristen bersuku Nias, akan tetapi karena pemahaman yang mendalam mengenai ajaran agama yang diakuinya.
    Amin.
    Junius Zebua-Gunungsitoli.

  2. Yang terkasih di dalam Kristus saudaraku Junius Zebua.

    Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih sekaligus senang sekali bahwa p’junius mau mampir di blog yang sangat sederhana ini. Kedua, kegembiraan saya semakin bertambah ketika p’junius mau sharing dan berbagi pengalaman melalui komentarnya. Sekali lagi trimakasih.
    Apa “Unek-unek” dan saran yang disampaikan oleh p’junius itu benar bahwa ada beberapa hal yang perlu diluruskan pemahaman tentang ajaran-ajaran yang berlaku di BNKP. Itu menjadi bahan masukan buat kami para pelayan di BNKP sekaligus pergumulan kita bersama untuk membenahinya agar BNKP selalu menjadi berkat bagi Jemaat dan dunia sekitarnya.
    Tentang pertanyaan yang disampaikan p’junius, saya tidak bisa menjawabnya secara sempurna. Namun saya mencoba memberikan tanggapan semampu hikmat yang diberikan Tuhan kepada saya akan pengenalan tentang BNKP dan pelayanannya.
    1. Tentang istilah “fangeheta Niha Keriso”, itu terus menjadi pergumulan dan perdebatan bukan hanya di kalangan warga jemaat namun juga dikalangan para pelayan. Sebenarnya itu adalah warisan dari peraturan-peraturan lama yang sarat dengan sikap ekslusif dan diskriminatif. Namun tidak usah kwatir, sekarang sedang dibuat satu peraturan yang baru tentang Penggembalaan di BNKP (termasuk apa yang bisa atau tidak dilakukan Gereja buat mereka mis. sakramen, penguburan, dll). Mudahan dalam waktu segera sudah disahkan. Saya sendiri (juga beberapa pelayan lainnya) lebih senang memakai istilah “fokubaloi” (penggembalaan) dibanding dengan “fangeheta” yang maknanya bernuansa “negatif” dan menghakimi. Dalam arti bagaimana kita menolong mereka dengan memberikan pendampingan pastoral akan apa yang telah mereka lakukan sekaligus tetap menghargai mereka sebagai sesama ciptaan Tuhan.
    2. Akan tetapi, kita juga perlu memberi sikap demikian sebagai bahan pembelajaran ke depan bukan hanya kepada mereka, juga kepada jemaat lain. Tentu kita tidak ingin ada kekacauan di tengah-tengah jemaat. Biasanya ketika kita membiarkan hal itu terjadi, maka jemaat lain memiliki kesan, “jika mereka dibiarkan, maka kami juga bisa”.
    3. Tentang penggembalaan yang sepertinya bernuansa diskriminatif karena hanya kepada “dosa perzinahan” padahal ada 9 hukum taurat lainnya, sepengetahuan saya bahwa itu sebenarnya lebih kepada budaya dan tradisi Nias. Sebenarnya dalam peraturan penggembalaan BNKP yang masih berlaku semua yang melanggar hukum taurat termasuk melawan orang tua, membunuh, mencuri, menyembah patung, dll ada teguran buat mereka. Persoalannya jarang sekali jemaat yang mengangkat topik tersebut dan seakan-akan menyembunyikan. Sementara dosa perzinahan biasanya jelas dan selalu menjadi bahan gunjingan. Mis. jika ada anak yang melawan orang tua (memukul, memaki, tidak memperdulikan), maka anak tersebut diberikan penggembalaan 3-6 bulan. Persoalannya jarang (bahkan sepengetahuan saya, tidak ada) orang tua yang ingin anaknya diperlakukan seperti itu. Sehingga gereja tidak mungkin ikut terlalu mendalam dengan persoalan keluarga tersebut. Demikian juga yang membunuh, sudah mendapat “imbalannya” dengan hukuman baik masyarakat dan negara (mis. penjara dalam kurun waktu tertentu).
    4. Sikap terhadap dosa perzinahan secara harfiah, sepertinya memang bertentangan dengan sikap Yesus dalam Yoh. 8 yang mengampuni dosa perempuan berzinah. Tapi perlu kita ingat juga, BNKP hidup dan berkembang dalam budaya Nias yang sangat dan sangat “mensakralkan” pernikahan. Pernikahan adalah ikatan suci. Selain itu, budaya Nias lebih dahulu ada sebelum Injil. Jika BNKP tetap berpatokan kepada perintah Yesus, tentu akan mengingkari budaya Nias dan dampaknya bisa saja terjadi “krisis moral” di antara pemuda/i Nias dengan mudahnya melakukan perzinahan atau pernikahan jika orangtua tidak setuju (kawin lari), karena tokh gereja akan mendukung mereka. Tentu kita tidak ingin terjadi hal yang demikian. Memang dilematis. Tetapi Yesus juga tidak ingin ada kekacauan. Dia sendiri tetap menghargai budaya Yahudi yang telah mendarah daging dalam diri-Nya, meskipun hal-hal prinsipil perlu mendapat pemahaman yang baru.

    Hanya ini yang dapat saya berikan tanggapan, semoga bermanfaat. Selamat beraktivitas dan selamat melayani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s