JANJI-JANJI YANG DIINGKARI


JANJI-JANJI YANG DIINGKARI?

Saudara yang kekasih, ada lagu mengatakan “kau yang memulai, kau yang mengakhiri, kau yang berjanji, kau yang mengingkari”. Dalam hal ini kita sering mengumbar janji kepada sesama, teman, keluarga bahkan Tuhan, dimana tanpa kita sadari kita juga mengingkarinya. Saya jadi teringat ketika masa-masa pemilihan calon legislatif 2009 yang lalu. Setiap caleg menyampaikan visi dan misinya. Dalam merebut hati massa, setiap caleg tentu berusaha semaksimal mungkin memberikan rayuan yang terbaik dalam merebut simpatik massa. Melalui baliho, kartu atau kata-kata yang dapat menggugah perasaan pemilih. Melalui alat-alat ini ditambah dengan kata-kata yang syahdu di setiap pertemuan muncul janji-janji yang menggairahkan. Seorang caleg misalnya berkata, “jika bapak/ibu memilih saya, saya akan membangun jalan di daerah ini”. Emangnya dia punya uang banyak membangun jalan?. Yang lain berkata, “jika memilih saya, saya akan memberikan gaji saya setengah untuk kepentingan rakyat. Pertanyaan, uang sosialisasi saja dipinjam disana sini, bagaimana mau membagi gaji? Lagian rakyat yang dimaksud siapa?. Keluarganya (istri, anak dan saudaranya) juga rakyat. Yang lain ada yang berkata, akan merubah diri, tidak seperti yang sebelum-sebelumnya. Ya perubahan ini bisa positif atau negatif. Belum lagi ada janji yang mengatakan jika terpilih akan melawan korupsi dan tidak menerima uang suap. Bagaimana bisa, menjadi caleg saja menyiram uang? Setelah menang, lupa dengan janji-janji tadi. Yang tidak lupa hanya janji kepada keluarganya saja. He..he..he..Namun ini tidak semua bro, banyak juga caleg yang jujur, tulus dan mau merealisasikan janjinya.

Dalam kehidupan kekristenan kita mengumbar janji dihadapan Tuhan adalah hal biasa. Ketika sakit kita berjanji akan setia kepada Tuhan jika sembuh. Ketika ada pergumulan, kita berjanji mau berubah sikap jika selesai. Ketika ada ujian, kita berjanji mau melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Setelah dikabulkan, jangankan melakukan, mengucap syukur saja lupa. Sama halnya ketika beribadah dengan semangat bernyanyi “jiwaku terbuka untuk-Mu Tuhan”, dengan suara syahdu sambil menyesal..e..e..setelah selesai kebaktian, tahunya menyanyi “aku masih seperti yang dulu” lagunya Pance era 1980-an. Artinya kembali deh kepada kehidupan semula.

Firman Tuhan  hari ini berkata dalam Matius 12:36-37 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”. Ingat bahwa apa yang kita katakan sudah dicatat Tuhan di surga. Untuk itu jangan begitu mudah kita berjanji dihadapan Tuhan dan sesama. Jika kita tidak mampu untuk berbuat, lebih baik jangan dipaksakan. Kita jalani hidup ini apa adanya yang penting tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sekarang di dunia ini tidak apa-apa, tapi bagaimana setelah kematian? Mari kita jawab sendiri. (Pdt. Gustav Harefa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s