Kota Gunungsitoli dan Sekitarnya Dapat Subsidi 10 Ribu Vaksin Cegah Ancaman Rabies


Pengantar :

Akhir-akhir ini di sekitar kota Gunungsitoli dihebohkan dengan adanya penyakit rabies-anjing gila. Ketika penulis kembali ke Nias bulan Desember lalu, banyak cerita yang penulis dengar tentang penyakit ini. Bahkan seorang paramedis mengungkapkan sudah ada beberapa orang yang datang berobat kepadanya akibat digigit anjing peliharaan mereka yang tiba-tiba mengamuk. dan menggigit siapa saja termasuk pemiliknya Untuk itu perlu kewaspadaan dalam menghadapinya. Sehubungan dengan itu, penulis juga ingin menurunkan kepada kita satu berita tentang apa dan bagaimana penyakit rabies khususnya di Kota Gunungsitoli dari Harian Analisa, 04 Maret 2010. Semoga bermanfaat..


Gunungsitoli – Kepala bidang kesehatan (Kabidkes) Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Utara, drh. Mulkam Harahap mengatakan, dalam upaya pelaksanaan vaksinasi massal hewan khususnya anjing di kota Gunungsitoli telah di subsidi sebamyak 10 ribu vaksin untuk mencengah ancaman rabies.

“Pelaksanaan vaksinasi massal dilaksanakan sesuai jadwal yang dibuat Tim Dinas Kota selama sebulan penuh di luar jadwal vaksinasi susulan/ konsoli dari vaksinasi,” kata Kabid Kes. Hewan Dinas Pertenakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Sumatera Utara, didampingi Kepala seksi pengawas Obat Hewan (POH) Dinas Pertenakan dan Kesehatan Hewan Propsu, drh. Maria Helen Tina dan wakil dari Direktorat Jenderal Pertenakan Pusat, Winy Wndarto, di hadiri II Kantor Wali Kota Gunungsitoli, selasa (2/3).

Dijelaskan, rabies berasal dari kata Latin “rabbie” yang berarti gila. Kata ini berkembang menjadi rabies, mirip degan kata rabbis dalam bahasa Sansekerta kuno yang berarti mengamuk. Di berbagai Negara rabies disebut antara lain sebagai Canine madness (Inggris), Rage (Perancis), Die tollwut/hundswut (Jerman), Rabbia (Itali), Lyssa (Yunani), Oulou fato (Afrika barat), Makupa/mazimu (Zaire), Beshentsva (Rusia), Derringue, Rabie arasiente (Amerika Tengah dan Amerika Selatan), Pollar madness (Kutub Utara), Ironbuang (Pilipina).

Penyakit ini ditularkan ke orang umumnya melalui gigitan anjing, dan di Indonesia dikenal sebagai anjing gila. Virus rabies menyerang otak dan selalu berakhir dengan kematian apabila telah timbul gejala klinis baik pada manusia maupun pada hewan.

Rabies sangat mengerikan dan paling ditakuti di dunia dengan urutan nomor 2 (dua) setelah penyakit Malaria, sehingga keberadaannya dapat mempengaruhi kegiatan turime dan menggangu ketentraman batin masyarakat.

Upaya pencengahan, pengendalian dan pemberantasan rabies dilakukan pemerintah bersama tokoh masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan pencinta hewan dan diharapkan wilayah Negara Indonesia secara bertahap daerah per daerah dan pulau per pulau dapat di bebaskan dari rabies.

Penataan manajemen pembebasan rabies meliputi perencanaan yang matang, pengorganisasian yang mantap, penggerakan yang tepat waktu dan sasaran serta pengawasan yang ketat perlu ditingkatkan.

Dalam rangka penanggulangan rabies di Kota Gunungsitoli secara terprogram dan berkesinambungan, dapat di pertanggungjawabkan dengan teknis dan terkoordinasi dengan seluruh instasi terkait maka program dimaksud dapat dijabarkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang di kelompokan dalam 2 (dua) aspek yaitu aspek teknis dan aspek sosial.

Tambahnya, aspek teknis meliputi penutupan wilayah (Isolasi Kecamatan Tertular), pembentukan tim penanggulangan wabah dan pembentukan Pos Komando (Posko) penangulangan rabies di Kota seperti Pembentuk Tim Penanggulangan Wabah Rabies secara Nasional dan tingkat Daerah dan Pos Komando (Posko) Penanggulangan Rabies yang di dukung dengan tenaga Dokter hewan setempat dan di tingkat kecamatan melalui pembentukan Posko serta peningkatan sistem peringatan Dini (EarlyWorning System) pada setiap pemilik hewan dan peningkatan profesi bagi dokter hewan, kata Mulkan Harahap.

Sangat Ditakuti

Sementara, wakil dari di rektorat Kesehatan Hewan Pusat Jakarta, Winny Windararto, memamparkan bahwa penyakit anjing gila atau rabies sangatlah ditakuti karena dapat menular dari hewan ke manusia dan hingga saat ini belum ada obatnya, seta apabila gejala klinis sudah timbul dan selalu di ikuti dengan kematian, baik pada hewan maupun manusia, jenis hewan yang dapat menuklarkan Rabies kepada manusia adalah semua hewan nerdarah panas teutama anjing, kucing dan Kera.

Dijelaskan, cara penularan rabies adalah melalui luka gigitan hewan penderita rabies, luka yang terkena air liur hewan atau manusia penderita rabies. Sedangkan tanda-tanda rabies pada hewan adalah ada rabies ganas dengan muda tidak lagi menuntut perintah pemilik, air liur keluar berlebihan, hewan tersebut ganas, dan kejang serta lumpuh.

Sedangkan tanda-tanda rabies tenang adalah selalu tersembunyi di tempat gelap dan sejuk, kejang serta lumpuh. sedangkan tanda-tanda Rabies tenang adalah selalu tersembunyi ditempat-tempat gelap dan sejuk, kejang singkat dan lumpuh kematian terjadi dalam waktu singkat, jelas Winy.

Dari sambutan Walikota Gunungsitoli, Martinus Lase antara lain mengatakan, akhir-akhir ini masyarakat Kota Gunungsitoli dan sekitarnya resah akibat merebaknya kasus penyakit anjing gila atau lebih dikenal dengan penyakit rabies yang ditandai dengan penemuan banyak kasus baik berupa anjing yang mengidap penyakit rabies maupun korban dari pada gigitan anjing yang mengidap penyakit rabies yang telah mengakibatkan beberapa korban yang digigit anjing meninggal dunia. (Analisa, 4 Maret 2010)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s