“ORA ET LABORA” : BERDOA SAMBIL BEKERJA (BELAJAR)


Sekarang ini ada beberapa orang tua mengeluh tentang sikap dan tindakan anak-anaknya yang kurang peduli dengan masa depannya, tidak peduli agama bahkan melawan orangtua. Bahkan ada yang mengatakan kepada saya, “Pak Pendeta, anak-anak sekarang lebih tinggi ngomongnya dari orangtua. Mereka tidak mau diatur dan ditegur”. Memang benar juga! diantara anak-anak sekarang ada saja yang tidak menghargai orangtua mereka. Ketika dinasehati dijawab dengan cuek bahkan dengan bahasa gaul lagi. Misalkan saja, seorang ibu menegur anaknya agar belajar yang baik, jangan suka keluyuran kesana kemari, ingat masa depan apalagi sudah dekat ujian. E.e..e…si anak malah menjawab, “cuek aja lagi mam!”. Ditegur lagi, malah dijawab dengan yang lebih pedas lagi, “emangnya gue pikirin!”. Makin ditegur, makin dijawab juga, “enjoy aja lagi mam!”. Semakin ditegur oleh orangtua, semakin menjawab juga, “cape dehhhhhh!”. Betapa sedih dan sakitnya jawaban seorang anak yang demikian. Tapi pada kesempatan ini, saya mengingatkan agar kita orangtua perlu belajar bahasa gaul juga. Misalkan saja, ketika suatu saat mereka gagal atau menyesal, orangtua bisa menjawab juga “kaccciiiaannn dehhhh…luu!”. Tapi biasanya orangtua tetap sabar dan sayang pada anaknya. Iya nggak?.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dalam beberapa hari ini akan dilaksanakan UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN) bagi seluruh pelajar di Indonesia. Kesempatan pertama diberikan kepada pelajar (siswa) menengah atas (SMU dan yang sederajat). Meskipun pelaksanaan UAN ini menghadapi kritikan yang tajam dari para pemerhati pendidikan, namun pemerintah dengan tegas tetap melaksanakannya. Persoalannya adalah karena pelaksanaan UAN ini tidak fair. “Masak hanya dengan beberapa mata pelajaran (Bahasa, IPA dan IPS), tingkat pengetahuan dan kelulusan seseorang ditentukan” . Sementara mata pelajaran yang berhubungan dengan pembentukan karakter dan pembinaan mental serta spritual seperti Agama tidak termasuk. Akibatnya seringsekali para pelajar lebih mengutamakan bahkan lebih menakuti para guru yang diuji dalam UAN dibanding dengan pelajaran yang tidak diujikan. Kasihan ya, guru-guru yang materinya tidak diuji dalam UAN!. Sehingga hal ini dapat menyebabkan diskriminasi terhadap bapak/ibu guru. Jangan-jangan (menurut pendapat pribadi), anak-anak sekarang makin nakal dengan tidak peduli belajar , melawan orangtua, suka cabut bahkan terlibat narkoba, prostitusi serta tawuran akibat kurang memberi perhatian kepada materi pelajaran yang berhubungan dengan pembentukan karakter dan kepribadiannya.

Dalam menghadapi ujian ini, biasanya kesan yang muncul dalam diri pelajar yang mengikutinya adalah : pertama, baru belajar lagi. Yang lebih baik sebenarnya adalah belajar itu terus menerus tanpa ada tekanan atau tugas dari para pendidik (guru). Namun kebalikan yang terjadi, para pelajar baru mempersiapkan diri menjelang ujian. Buku-buku lama yang telah dimuseumkan, dicari dan dibuka kembali. Kadang-kadang  juga muncul emosi yang tidak menentu seperti berguman sendiri, stress, marah-marah jika buku yang dicari tidak ditemukan. Padahal yang salah siapa?. Kedua, tahan belajar dalam waktu lama. Biasanya seorang anak lebih banyak waktu bermain daripada waktu belajar. Namun menjelang ujian banyak pelajar sungguh-sungguh belajar dengan tidak keluar rumah, tidak mau bermain hanya untuk belajar. Bahkan rela begadang sampai pagi untuk mempersiapkan diri. Padahal begadang itu tidak ada artinya karena akan merusak kesehatan seperti syair lagu Roma Irama. Ketiga, belajar untuk ujian. Artinya baru belajar ketika ada ujian. Hal ini kurang baik karena yang dibaca akan cepat hilang karena kesan dipaksakan. Selain itu ada juga yang mempersiapan diri dengan memakai kopekologi (ilmu tilik atau ilmu kopean dengan membuat catatan-catatan kecil sebagai jimat ketika mengikuti ujian. Ada-ada saja he..he..).Terakhir yang keempat dan yang tidak kalah penting, baru membutuhkan pertolongan Tuhan menghadapi ujian. Yang luar biasanya menjelang ujian para pelajar baru rajin beribadah, rajin berdoa bahkan meminta baru pertolongan kepada para Pendeta atau gembala sidang. Saya pernah diminta tolong agar didoakan untuk bisa menjawab pertanyaan dan guru yang mengawas baik, lalu saya jawab, “emangnya saya Tuhan, belajar dan berusaha aja dong”. Namun setelah ujian, ya mulai jarang beribadah dan berdoa lagi.

Ora et labora (dari bahasa Latin berdoa sambil bekerja), itulah sebenarnya yang kita lakukan dalam menghadapi segala hal termasuk dalam menghadapi UAN (khusus bagi pelajar). Ungkapan yang sering dikatakan bapa gereja, Martin Luther ini sangat penting untuk kita teladani. Berdoa berarti kita berkomunikasi dan meminta kekuatan dari Tuhan yang menciptakan kita. Amsal 1:7a mengajar kita bahwa Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan. Namun berdoa bukan hanya pada saat sulit seperti menghadapi ujian, namun setiap saat, setiap waktu dan setiap tempat dimana kita berada dalam situasi dan kondisi apapun. Rasul Paulus mengajar Jemaat Tesalonika dalam tekanan apapun agar mereka Tetaplah berdoa (I. Tes. 5:17). Namun demikian bukan hanya berdoa saja, Tuhan juga telah memberi pengetahuan, akal dan kemampuan bagi kita untuk mempergunakan dan mengolah potensi yang ada dalam diri kita. Untuk itu perlu bekerja. Bekerja dalam arti kita berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan termasuk belajar. Bekerja (belajar) tidak akan pernah ada habisnya dan selalu melelahkan. Itulah ada istilah long life education (pembelajara seumur hidup. Pengkhotbah  12:12 juga mengingatkan kita dalam hal ini dikatakan “Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Tetapi ketika kita sungguh-sungguh melakukan pekerjaan itu, maka akhirnya kebahagiaan dan sukacita yang kita peroleh.

Penyesalan selalu datang terlambat! Setiap hidup kita ini selalu bekerja, bekerja dan bekerja. Dimana saja kita berada pasti bekerja termasuk belajar. Untuk itu sebelum kegagalan menghampiri kita mari kita bangkit untuk maju dengan mengandalkan Tuhan dalam hidup kita dan mempergunakan potensi yang ada dalam diri kita untuk membangun diri kita dan menjadi berkat bagi orang lain. Selamat mengikuti ujian!

2 thoughts on ““ORA ET LABORA” : BERDOA SAMBIL BEKERJA (BELAJAR)

  1. Terima Kasih banyak Pak Pendeta atas tulisannya! itu sangat berarti bagi saya. Semoga saya dapat menerapkannya di dalam hidup yang diberikan Tuhan kepadaku.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s