HARAPAN YANG TIDAK PERNAH HILANG (Refleksi Roma 12:11-12)

Pdt. Gustav G. Harefa

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

23:18 Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

 

Saudara yang terkasih di dalam Kristus….

  • Kita bisa hidup sampai sekarang oleh iman kita mengatakan bahwa itu semua karena “Anugerah Tuhan”
  • Namun, di sisi lain tanpa kita sadari bahwa kita bisa menjalani hidup karena dalam diri kita selalu ada “Harapan”.
  • Harapan atau asa adalah dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan atau didapatkan yang  berbuah kebaikan di waktu yang akan datang
  • Setiap orang pasti memiliki harapan. Misalkan saja:
  • Mengapa orangtua kita mati-matian bekerja di sawah atau di ladang, tidak mengenal lelah, tidak mengenal sakit, tidak mengenal penderitaan? Karena dalam diri mereka ada “Harapan” bahwa hasil kerja mereka untuk kebutuhan keluarga termasuk biaya anak-anak
  • Mengapa seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta, melakukan berbagai cara (bersikap baik – rajin ibadah, bertutur kata baik, berpenampilan menarik – meski baju yang dipinjam J, rela berkorban materi tanpa berpikir apa dampaknya – meski uang dipinjam atau uang komite, uang asrama/kost dipakai dulu sebentar J, dll)? Itu semua demi sebuah “Harapan” mendapatkan hati gadis yang dia senangi.
  • Mengapa kita sebagai pelajar rela tidak tidur satu malam dalam mengerjakan tugas, rela menderita? Demi satu “Harapan”, mendapat nilai yang baik dan cepat lulus.

 

Saya teringat dengan sebuah kisah di abad pertengahan (antara tahun 600-1400) dimana gedung gereja dibangun secaa megah. Ada 3 (tiga orang) TUKANG BATU yang sedang memasang batu tembok sebuah gedung gereja. Kepada mereka diajukan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang anda lakukan?”

 

  • Tukang batu pertama tampak heran mendengar pertanyaan itu. Ia seolah berpikir, sudah jelas pasang batu tembok kok, masih ditanya lagi. Lalu ia menjawab, “Saya sedang meletakkan batu yang satu di atas batu yang lain”
  • Tukang batu kedua menjawab sambil senyum, “Saya sedang mencari nafkah?”
  • Tukang batu ketiga berpikir dulu bentar, lalu menjawab “Saya sedang memabangun katedral di mana nanti orang-orang akan berbakti dan nama akan Tuhan dimuliakan”.

 

Jawab manakah yang benar? Kalau kita diajukan pertanyaan yang sama sebagai tukang batu, apa jawaban kita?

 

  • Tukang batu yang pertama memberi jawaban yang REALISTIS. Betul, ia memang sedang meletakkan batu-batu. Itulah pekerjaannya. Sehingga yang ada adalah bosan dan melelahkan.
  • Tukang batu yang kedua memberi jawaban yang PRAGMATIS. Tiap orang perlu makan, sebab itu ia bekerja demi imbalan (upah). Akhirnya ketika ia bekerja, yang penting selesai dan dapat uang. Baik atau tidak itu urusan belakangan.
  • Tukang batu yang ketiga memberi jawaban yang IDEALISTIS. Jawabannya seperti membual (hanya mimpi, hanya angan-angan), namun dalam jawaban itu sebenarnya ada HARAPAN yang jauh ke depan. Ia bukan hanya sekedar bekerja. Ia juga bukan hanya mencari uang. Namun, ia ingin mendapatkan sesuatu dari hasil pekerjaannya, yang menjadi berkat dan dirasakan orang lain.

 

Saudara yang terkasih….

  • Sering kita berpikir seperti tukang batu pertama dan kedua. Berpikir realistis dan pragmatis. Mengapa kita belajar?
  • Jawaban kita adalah realistis, belajar dengan masuk kelas, kerjakan tugas, demi nilai.
  • Jawaban pragmatis kita, demi gelar atau selembar ijazah.
  • Namun, pernahkan kita memberi jawaban yang ideal? Demi masa depanku! Demi membahagiakan orangtua dan keluargaku! Demi melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama!
  • Renungan kita malam ini berbicara juga tentang Harapan akan masa Depan. Masa depan adalah hari yang belum kita lalui (esok, lusa, dst), namun pasti akan kita lalui selagi
  • Tuhan memberikan waktu kehidupan untuk kita. Ketika kita masuk di SMP Negeri 1 banyak harapan yang ada dalam hati. Namun, ketika masuk di dalam harapan tersebut ada yang makin bersemangat, namun ada yang patah semangat namun mengambil keputusan keluar dari SMP Negeri 1.
  • Dalam menggapai harapan kita di SMP Negeri 1 ini banyak tantangan yang kita hadapi, masalah ekonomi, masalah adaptasi lingkungan, tekanan tugas, ketidakhormat junior, , sering m embuat kita “pusing” dan “gegana”.
  • Dalam menggapai harapan tersebut ada pesan-pesan moral bagi kita.
  • Bersukacitalah dalam pengharapan. Ada kata bijak dalam Amsal, “Hati yang gembira adalah obat”. Ketika kita bersukacita maka semua bisa dijalani dengan damai.
  • Sabar dalam kesesakan – sekarang ini orang mau yang instan. Tidak perlu belajar, lulus. Tidak perlu kerjakan PR, dapat nilai baik. Tidak perlu sekolah, dapat ijazah. Justru di sini Paulus katakan kita harus sabar dalam kesesakan. Kadang kala pemikiran Tuhan berbeda dengan kita. Kata pepatah Nias, “Haniha zalio, onia banio, haniha zara, onia kara”. Namun, di dalam Tuhan dituntut kesabaran. Itu sebabnya selalu ada ungkapan, “orang sabar kasihan Tuhan”

Dalam kesabaran perlu kerja keras termasuk belajar keras.

  • Bertekunlah dalam doa. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan. Melalui doa kita sampaikan apa kelemahan dan kekurangan serta memohon petunjuk dari-Nya.

Saudara yang terkasih….

  • SEBENTAR LAGI BERPISAH? Ada ungkapan “Bukan Perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuan yang kusesali” Di dalam Tuhan kita tidak menyesali pertemuan – pertemuan menjadi awal persahabatan
  • Di dalam Tuhan tidak menangisi perpisahan – awal menuju kemandirian sekaligus menguji kesetiaan dalam persahabatan
  • Bagaimana sikap ketika ketika lulus HURA-HURA atau MENGUCAP SYUKUR?

 

* Bahan Renungan yang disampaikan pada Doa Restu Kelas 9, SMP Negeri 1 Gunungsitoli, 06 Mei 2016

 

 

 

PERSEMBAHANKU (ROMA 12:1)

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Dalam kehidupan bergereja dewasa ini, sering warga Jemaat kurang memahami apa nilai dan untuk apa persembahan. Sebagian besar warga jemaat melihat persembahan dari segi materi dimana persembahan dinilai dari “mata uang/rupiah” dan benda yang diberikan. Kadang kala warga jemaat melihat persembahan dari segi para pelayan, dalam arti merasa malas untuk memberikan persembahan, oleh karena menduga persembahan dalam bentuk “uang” adalah semua untuk kebutuhan Pendeta. Kadang kala juga, melihat dari segi besar kecilnya, dimana persembahan yang telah diberikan menjadi “keangkuhan” tersendiri dengan besar persembahan yang diberikannya. Kadangkala juga warga jemaat melihat dari segi sukacita. Dalam arti memberi persembahan hanya ketika ada sukacita yang diterima misalnya: Kelahiran anak, pernikahan, promosi pekerjaan, keberuntungan, dll. Bahkan ada juga warga gereja melihat dari segi pengampunan dosa. Dalam arti memberi persembahan sebagai “alat suap” untuk Tuhan demi pengampunan dosa-dosa yang dilakukannya seraya memohon berkat yang melimpah…dengan dalih “ah, semua bisa diatur dengan uang”!!. Untuk yang terakhir ini, kasihan juga Tuhan ya? Bisa disuap!!!..(Yes. 1:10-20; Amos 5:21-24).

Benarkah nilai persembahan diukur dari semua hal di atas? Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Nats ini adalah teguran Paulus kepada jemaat di Roma dimana sering terjadi pertikaian di antara mereka yang salah salah satunya berdasar kepada nilai persembahan, dengan melihat salah satu dari segi di atas. Namun, Paulus mengatakan bahwa yang utama dalam persembahan adalah tubuh kita sendiri. Tubuh adalah keseluruhan anggota badan yang diciptakan Tuhan begitu indahnya buat kita. Dan inilah yang kita berikan. Tentu hasil dari “gerakan anggota badan itu” seperti mata, mulut, tangan, kaki dsb, kita pergunakan untuk bekerja yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada akhirnya “gerakan-gerakan” anggota tubuh kita tersebut menghasilkan berkat seperti pekerjaan, harta benda, keluarga dll. Nah,..berkat dari gerakan anggota tubuh kita itu sekarang kita kembalikan menjadi ucapan syukur kepada Tuhan yang kita sebut dengan persembahan.

Lalu pertanyaan muncul, bagaimana kita memberikan persembahan tersebut untuk Tuhan, padahal Tuhan tidak ada dalam bentuk wujud nyata?. Ya…tentu saja melalui para pekerja diladang Tuhan dan juga untuk semua pekerjaan pelayanan Tuhan di dunia ini. I Korintus 9:14 berkata “Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu”. Jalan persembahannya dengan memberi yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Kita bukan memberi dengan “kekuatan pikiran” kita sendiri, tetapi diberi dengan hati yang tulus. Kita teringat dengan persembahan janda miskin di Lukas 21:1-4. Orang lain memberikan “sedikit” dari “banyaknya harta” yang mereka miliki. Namun janda miskin ini memberikan “semua” dari harta yang dimilikinya. Akhirnya Yesus memuji tindakan janda tersebut dan menghargai persembahannya. Inilah ibadah yang sejati itu!!!…kata Paulus menutup Roma 12:1.

MERUNTUHKAN “DINDING” PEMISAH (Refleksi dari Kisah 11:15-18)

Pdt. Gustav Harefa

Ada “Dinding Yang Tinggi” di Antara Hatiku dan Hatimu

wall(1)Saya yakin dan percaya, kita semua pasti tahu dengan lagunya “Hatimu-Hatiku”, yang dipopulerkan oleh duet suami-istri, Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora. Sejak lagu ini mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an, langsung booming hingga sekarang. Tua-muda, pasti senang dengan lagu ini dan sering dinyanyikan dalam berbagai acara seperti pernikahan, temu-pisah, pertemuan formal-informal, dll. Lagu ini mengungkapkan bagaimana perasaan dua sejoli yang sedang jatuh cinta dan ingin bertemu, namun dibatasi oleh satu dinding yang sangat tinggi. Jelasnya dalam syair bagian reffnya dikatakan, “Diantara hatimu hatiku. Terbentang dinding yang tinggi. Tak satu jua jendela disana. Agar ku memandangmu”.

Tidak jelas terungkap, apa “dinding” yang memisahkan kedua sejoli ini. Namun, logisnya dinding itu bisa berupa, tradisi atau adat istiadat yang berbeda, orang tua yang tidak menyetujui hubungan mereka, tempat yang berjauhan, perbedaan strata sosial, ekonomi, agama dll. Hal itu didukung oleh kondisi sosial budaya pada tahun itu yang menyulitkan pertemuan seorang perempuan dan laki-laki secara bebas seperti sekarang ini. Meskipun ada “dinding” yang tinggi itu, namun kedua sejoli ini tetap mempertahankan cinta karena selalu teringat akan “senyum” yang selalu membayang. Hal itu terungkap dalam bait kedua syair lagu tersebut, “Ada suatu antara kita. Yang tak dapat ku mengerti. Hanya senyummu selalu membayang. Membuat ingin bertemu”. Dalam pengertian, mereka akan berupaya meruntuhkan “dinding” tersebut dengan cinta mereka yang tulus.

Ada “Dinding” Yang Memisahkan Antara Yahudi dan Non Yahudi

Konteks Firman Tuhan ini juga menunjukkan ada “dinding” di antara yang percaya kepada Yesus khususnya yang berlatar belakang Yahudi dan non-Yahudi. Persoalan ini muncul ketika Petrus membaptis Kornelius, seorang non Yahudi (pasal 10). Hal itu terungkap ketika Petrus tiba di Yerusalem, dia didebat oleh orang Kristen dari latar belakang Yahudi. Kisah 11:2-3 tertulis,  “Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Apa masalahnya Petrus ke rumah Kornelius dan makan bersama dengan dia? Di sinilah “dinding pemisah” tersebut muncul. Ada beberapa faktor antara lain Pertama, persoalan tradisi atau adat istiadat. Orang Yahudi yang menekankan sunat, tidak suka dengan non Yahudi yang tidak mengenal sunat. Kedua, persoalan politis. Orang Romawi pada saat itu yang memerintah daerah Yerusalem. Sehingga mereka tidak suka dengan mereka. Hal ini ditambah Kornelius adalah seorang perwira (Kis. 10:1). Ketiga, persoalan kepercayaan. Orang Yahudi selalu menganggap diri mereka benar karena bangsa pilihan. Sementara bangsa lain adalah kafir.

Menjawab persoalan ini, Petrus memberikan beberapa penekanan bahwa semuanya itu adalah pekerjaan Roh Kudus (ay. 15). Mengapa? Pertama, Kornelius adalah seorang pribadi yang saleh dan setia kepada Tuhan serta mengasihi orang Yahudi.  Dalam Kis. 10:2 ditegaskan a) Ia saleh, b) ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan c) ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan d). senantiasa berdoa kepada Allah. Kedua, melalui malaikat Allah, menyampaikan bahwa Allah senang dengan sikap Kornelius dan mendengar doanya (Kis. 10:4). Ketiga, Roh Allah yang menuntun Petrus pergi ke rumah Kornelius (Kis. 10:19). Keempat, bahwa dengan kuasa Roh Kuduslah, Petrus membaptis Kornelius (Kis. 11:16). Kelima, bahwa kuasa Roh Kudus hadir untuk setiap orang yang percaya kepada Tuhan (Kis. 11:17). Mendengar penjelasan ini, akhirnya setiap orang Yahudi memahami dan meruntuhkan “dinding pemisah” yang ada di dalam hati mereka selama ini sambil mengatakan, “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (Kis. 11:18).

Tentang baptisan Kornelius sendiri dalam “The Catholic Encyclopedia” memberi ringkasan pentingnya baptisan Kornelius sebagai berikut: “Baptisan Kornelius merupakan peristiwa penting dalam sejarah kekristenan. Pintu gereja, yang saat itu hanya terbuka untuk orang-orang yang bersunat (orang-orang Yahudi) dan menuruti 613 Mitzvot (hukum) Taurat Musa, sekarang terbuka untuk orang-orang non-Yahudi yang tidak bersunat, tanpa harus melalui upacara masuk menjadi orang Yahudi”[1]

“Dinding Pemisah” Di Tengah Persekutuan Orang Percaya

Tanpa kita sadari juga dalam persekutuan kita sebagai orang percaya, ada “dinding-dinding” yang memisahkan antara kita dengan yang lain. Misalnya saja di dalam gereja, kadang kala melihat status sosial dan ekonomi. Jikalau orang tersebut memiliki jabatan, kuasa atau seorang kaya, maka gereja lebih memberi perhatian lebih kepada mereka. Sementara orang yang miskin, tidak dianggap sebagai bagian dari persekutuan dalam gereja. Belum lagi, ketika di dalam ibadah ada kalanya jemaat yang satu dengan yang lain tidak bertegur sapa. Belum lagi majelis yang tidak serasi dalam pelayanan.

Dalam teks ini memberi penekanan bahwa di dalam Tuhan kita semua sama. Justru sebagai orang percaya saling merindukan, mendukung, menopang, mengasihi satu dengan yang lain dan tidak dibatasi oleh dinding-dinding yang memisahkan. Tugas kita sekarang, kembali kepada lagu “Hatimu-Hatiku”, mari kita membuka “jendela hati kita” sehingga dapat melihat sesama kita yang lain dan bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan.

Apalagi kita yang telah ditebus oleh Tuhan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, maka kita bersama-sama dengan orang percaya mempunyai hidup yang baru seperti nama minggu kita Kantate, yang berarti “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus” (Mazmur 98:1).


[1]  F. Bechtel, Catholic Encyclopedia, 1908, Wikipedia, entri kata “Kornelius”

Kebangkitan Kristus dan Iman Kristen (Renungan Efesus 2:4-8)

GMI Anugerah - CopyMendengar orang meninggal, itu hal yang lumrah dan biasa. Apa dan bagaimanpun caranya, semua orang di dunia ini pasti mengalami apa yang disebut dengan kematian. Akan tetapi, mendengar orang yang meninggal lalu hidup kembali, itu baru cerita yang luar biasa. Bahkan di sepanjang sejarah, sepengetahuan saya tidak pernah mendengar manusia meninggal lalu bangkit kembali. Memang di dalam Alkitab, ada beberapa orang yang meninggal, lalu hidup kembali. Misalnya, Lazarus saudaranya Maria dan Marta (Yoh. 11: 14, 43-45). Namun, itu semua karena kuasa dari Yesus Kristus. Sementara orang yang bisa hidup oleh karena kemampuan dirinya sendiri, tidak pernah ada. Hanya satu orang yang mampu melakukan itu, yaitu Yesus Kristus!

Memang, kebangkitan Yesus adalah berita yang paling menghebohkan pada saat itu. Banyak spekulasi yang berkembang tentang berita kebangkitan-Nya. Kelompok  ahli Taurat yang menyalibkan-Nya, menyebar isu bahwa murid Yesus telah mencuri mayat-Nya (Mat. 28:12-13). Sementara itu, murid-murid-Nya tidak percaya dengan kebangkitan-Nya. Terlebih, Tomas yang dengan “kekerasan hatinya” menegaskan bahwa sebelum melihat bekas paku di telapak tangan Yesus dan mencucukkan jarinya di bekas paku tersebut, dia tidak akan pernah percaya sekalipun (Yoh. 20:25-28).  Apapun percakapan orang pada saat itu, yang jelasnya Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati.

Kebangkitan Yesus adalah wujud anugerah Tuhan di dalam kehidupan manusia. Itulah penegasan dari Firman Tuhan hari ini (Ef. 2:4). Kebangkitan-Nya memberi penegasan bahwa kuasa maut tidak dapat mengalahkan kuasa-Nya. Kebangkitan-Nya juga membawa keselamatan kepada setiap orang di dunia ini yang telah mati akibat dosa (Ef. 2:5). Pertanyaannya sekarang, apakah kuasa kebangkitan Yesus itu diterima oleh setiap orang? Tidak, yang menerima hanyalah mereka yang beriman kepada-Nya.  Iman adalah wujud penyerahan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Memang, Yesus sekarang tidak ada secara fisik. Akan tetapi, iman kita yang terus memampukan kita untuk selalu yakin bahwa Ia ada dan bersama kita selalu sampai kepada akhir zaman. Tanpa kebangkitan Yesus, maka sia-sialah kesaksian pemberitaan Firman dan sia-sia juga iman kita. Hal ini telah ditegaskan Paulus dalam I Kor. 15:14, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”. Apa pengharapan yang diberikan bagi kita? Bagi yang percaya akan kebangkitan Yesus, kelak akan diberikan tempat di Sorga, yang abadi.

 * By. Gustav Harefa. Renungan Yang Dimuat di Warta Jemaat GMI Jemaat Anugerah, Daan Mogot, Jakarta, Minggu, 08 April 2013.

Peran Ayah Mengasuh Anak

ayah-yang-baikAyah mempunyai andil dalam pengasuhan anak. Beberapa penelitian mengungkap, absennya ayah dalam pengasuhan anak berkontribusi memunculkan berbagai penyakit masyarakat.

Peran ayah amat penting dalam membangun kecerdasan emosional anak. Seorang anak yang dibimbing oleh ayah yang peduli, perhatian, dan menjaga komunikasi, cenderung berkembang menjadi anak yang lebih mandiri, kuat, dan memiliki pengendalian emosi yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak memiliki ayah seperti itu.

Penelitian mengenai figur ayah ini dilakukan oleh tim peneliti di Australia semenjak awal 90-an, yang salah satunya dipimpin oleh Prof dr Bruce Robinson PhD. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan yang jelas antara peran ayah dan apa yang kemudian terjadi pada seorang anak ketika dia tumbuh dewasa.

Setelah hampir 20 tahun, penelitian ini membuahkan hasil yang cukup mengejutkan. Ternyata, figur ayah berperan sangat penting dalam memengaruhi perkembangan mental dan stabilitas emosi anak. Berdasarkan hasil penelitian dan intervensi selama 20 tahun itulah terlihat bahwa segala kerusakan itu bisa dicegah dengan melakukan peningkatan kualitas figur ayah di dalam keluarga, yang mampu menjadi teladan bagi seorang anak.

Proyek tentang peningkatan kualitas seorang ayah ini, yang salah satunya dikomandoi oleh Prof Bruce PhD di Australia, berhasil mengurangi angka ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang, menurunkan tindak kriminalitas, mengurangi angka kekerasan dalam rumah tangga, dan mengurangi kemungkinan terjadinya depresi yang berkepanjangan.

Terbukti, kehadiran seorang ayah yang baik, mampu mengurangi risiko seorang anak terpengaruh obat-obatan terlarang sampai 50%, mengurangi hingga 90% kecenderungan seorang anak untuk terlibat dalam tindak kriminal, serta terbukti secara sangat efektif berpengaruh untuk menurunkan kadar depresi dalam diri seseorang.

Penelitian tersebut menjadi dasar sebuah gerakan di Australia, the Fathering Project. Ini merupakan sebuah gerakan sosial yang berusaha mengajak masyarakat untuk turut berperan dalam menyejajarkan peran ayah dalam membangun keluarga yang baik. Peran ayah yang seimbang –mampu untuk berkomunikasi dengan baik– yang melibatkan seluruh anggota keluarganya, merupakan hal krusial yang mampu berpengaruh terhadap kehidupan sang anak di keluarga tersebut, di kemudian hari.

Gerakan the Fathering Projectini sudah berjalan di Australia. Perlahan tapi pasti, gerakan ini menghasilkan perubahan yang nyata di masyarakat. Perubahan demi perubahan menciptakan bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar dan semakin cepat.

Gerakan ini mampu menggulirkan sebuah hasil yang perlahan-lahan mulai terlihat, seperti penurunan angka perilaku tindak kriminal, menurunnya angka kekerasan dalam rumah tangga, terkendalinya jumlah penyalahgunaan obat-obatan terlarang, serta ketahanan banyak warga negara terhadap depresi berkepanjangan.

Berdasarkan fakta-fakta ini, Fathering Projectbisa jadi merupakan sebuah solusi yang bisa digulirkan dari bawah, dari lingkup terkecil negara ini, yaitu keluarga, untuk menghasilkan perubahan yang mendasar dari kekacauan tatanan mental, sosial, dan spiritual yang terjadi di negara ini.

Di Indonesia, gerakan ini sudah dimulai dari beberapa orang ayah yang peduli, bersama dengan beberapa perempuan yang juga concern akan pentingnya peran ayah dalam memengaruhi keberhasilan membangun keluarga. Untuk menciptakan energi aktivasi yang cukup dalam kesadaran masyarakat pada gerakan sosial Fathering Projectini, maka Prof Bruce PhD pun meluangkan waktu untuk bertandang ke Indonesia, dalam sebuah seminar sehari yang akan dilaksanakan pada Rabu (24/4).

Kedatangan Prof Bruce Robinson PhD di Indonesia sebagai salah satu tim inti peneliti mengenai Fathering Project, yang sebelumnya telah membantu Fathering Project di berbagai negara di dunia ini, diharapkan mampu untuk menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya peran ayah di dalam keluarga. Juga, mampu untuk menyadarkan masyarakat luas tentang kekuatan dari dukungan kebersamaan.

Buat masyarakat yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai konsep dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Bruce dalam membangun Fathering Project yang menghasilkan perubahan yang signifikan di Australia, masih terbuka luas kesempatan untuk bisa bergabung. _info/kirdi putra

Sindo, 22 April 2013, hlm. 34, http://www.koran-sindo.com/node/309767

Mengapa Bayi Tenang Saat Digendong?

BAYIKOMPAS.com — Begitu mendengar bayinya menangis, seorang ibu secara refleks akan menggendong buah hatinya. Dekapan ibu dan juga bisikan lembut yang menenangkan bayi secara efektif akan membuat tangisannya reda. Sebuah penelitian menunjukkan mengapa bayi langsung tenang dalam gendongan.

Ketika bayi yang sedang rewel digendong oleh ibunya, mereka langsung merasakan ketenangan otomatis. Detak jantung ibu yang sudah dikenalnya, pelukan, tatapan mata, dan kata-kata hiburan yang diberikan ibu sambil menggendong akan membuat bayi merasakan kenyamanan.

Efek evolusi ini bukan hanya tampak pada bayi manusia, melainkan juga mamalia lain seperti tikus. Ketenangan otomatis tadi melibatkan koordinasi dari regulasi pusat, motor, dan jantung. Hal ini juga dapat menjelaskan kenapa bayi menangis kembali saat gendongan dilepaskan. Menurut para peneliti, penjelasan ini akan membantu mencegah frustrasi orangtua serta kekerasan pada anak.

“Dari manusia hingga tikus, bayi mamalia lebih tenang dan rileks ketika mereka sedang dalam gendongan ibunya,” ujar peneliti Kumi Kuroda dari RIKEN Brain Science Institute di Saitama, Jepang. Respons tenang dari bayi, lanjut Kuroda, dapat mengurangi beban ibu yang menggendong sehingga menggendong bayi bukan hanya bermanfaat bagi bayi, melainkan juga bagi ibu.

Menurut para peneliti, ketika bayi dalam rengkuhan ibunya, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup. Ibu pun merasa tak terlalu tertekan jika bayinya tenang dan rileks. “Ini adalah win-win solution,” ujar mereka.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology ini mencatat adanya penurunan detak jantung secara cepat ketika bayi digendong. Mereka juga berhenti bergerak. Para peneliti mengatakan, proses ini melibatkan area tertentu dari otak dan sistem saraf bayi.

“Mengerti kenapa bayi menangis dari perspektif bayi sendiri dapat mengurangi tendensi orangtua untuk menjadi frustrasi dan tidak sabar sehingga dapat mencegah kekerasan pada anak,” ungkap para peneliti.

Penulis : Unoviana Kartika | Kompas, Jumat, 19 April 2013 | 16:01 WIB, Sumber dari Healthday News

http://health.kompas.com/read/2013/04/19/16010263/Mengapa.Bayi.Tenang.Saat.Digendong?utm_source=health&utm_medium=cpc&utm_campaign=artbox

“AKU SEORANG ASING DAN KAMU MENYAMBUTKU” (Refleksi dari Imamat 19 dan Mat. 25:31-45)

Oleh Pdt. Gustav Harefa

Saudara-saudara yang terkasih, jika ditanya kepada kita semua, APA TUJUAN AKHIR HIDUP KITA? Tentu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, jawaban kita pasti sama ‘MENDAPATKAN KEHIDUPAN YANG KEKAL DI DALAM YESUS”.  Pertanyaan kemudian muncul adalah siapakah orang-orang yang berhak mendapatkan hidup yang kekal tersebut? Umumnya ada yang mengatakan 1). Memiliki iman kepada Yesus (bnd. Yoh. 5:24 “percaya” dan ay. 29 melakukan); 2) Mampu mengadakan mujizat atau kesembuhan ilahi; 3) Banyak menderma – kasih karitatif; 4). Aktivis dalam gereja (pelayan) – personal; 5). Aktif dalam kegiatan gereja dan spiritual mis. ke gereja, PA, dsb.

Semua jawaban ini adalah sah-sah saja. Persoalan yang muncul adalah untuk apa memiliki iman, namun tidak memiliki kasih atau sebaliknya dia memiliki kasih, namun tanpa iman. Hati-hati Yesus memberi peringatan dalam Mat. 7:21-23, 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Namun dalam Firman Tuhan ini justru Yesus memberikan satu jawaban yang lain yaitu 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Secara sederhana dapat kita katakan bahwa maksud Yesus adalah bagaimana kita mampu memadukan kepercayaan kita yang sungguh-sungguh kepada-Nya melalui sikap dan tindakan kita terhadap sesama dengan kesungguhan hati (Yak. 2:17).

 Saudara yang terkasih…

Firman Tuhan hari ini yang juga merupakan renungan dalam pelaksanaan HDS di seluruh dunia  adalah bagian dari khotbah Yesus yang terakhir kepada murid-murid-Nya sebelum Ia DITANGKAP, DISIKSA, DISALIBKAN, MATI DAN DIKUBURKAN.  Firman ini berhubungan dengan apa dan bagaimana tanda-tanda kedatangan Yesus yang kedua kali (pasal 24-25:1-30)? Serta siapa orang yang berhak menerima KEHIDUPAN YANG KEKAL ketika Yesus peristiwa tersebut terjadi seperti yang kita renungkan hari ini.

Pada ay. 31-33 dijelaskan bagaimana suasana ketika Tuhan mengadakan pengadilan terakhir di mana DIA DUDUK DI ATAS TAKHTA-NYA YANG MULIA” dan DIA MENGUMPULKAN SEMUA MANUSIA DARI SELURUH BANGSA. Setelah itu DIA memisahkan mereka seperti domba dan kambing. Domba di sebelah kanan sebagai simbol orang-orang yang diberkati dan menerima KEHIDUPAN YANG KEKAL, sementara di sebelah kirinya berdiri semua manusia yang disimbolkan dengan kambing yang menerima kematian yang kekal. Sebenarnya bagi orang Israel, istilah domba dan kambing ini hal yang biasa karena mereka kebanyakan beternak kedua binatang ini. Pada siang hari, keduanya disatukan dalam mencari rumput. Akan tetapi, pada malam hari, mereka dipisahkan karena kambing tidak suka cuaca dingin (air), sementara domba mau yang sejuk. Gambaran penghakiman manusia seperti domba dan kambing juga telah dinubuatkan dalam Yehezkiel  34::17 “Dan hai kamu domba-domba-Ku, beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba, dan di antara domba jantan dan kambing jantan”.

Pertanyaan adalah SIAPA SAUDARA KITA YANG PALING HINA TERSEBUT? Dalam 36-37 memberi penjelasan adalah bagi orang 1) yang lapar, 2) yang haus, 3) yang asing, 4) yang telanjang, 5) yang sakit, 6) yang di dalam penjaran. Dalam konteks Yahudi pada saat itu, orang-orang ini tidak perlu dikasihani. Mereka perlu dikucilkan dan dianggap sebagai orang asing. Namun bagi Yesus mereka adalah orang-orang yang mulia dan berharga.

Saudara yang terkasih…

Bagaimana caranya? Yesus berkata “SEGALA SESUATU YANG KAMU LAKUKAN” Melakukan apa? 1) Kepedulian. Orang mengartikan peduli dalam arti memberi sumbangan. Padahal peduli jauh maknanya, PRIHATIN, MEMBELA, MENGINDAHKAN, MENGHARGAI, MENCUKUPI, MELINDUNGI, MEMELIHARA, MERAWAT, 2). Kasih yang tulus. Dalam pengertian, meskipun ada kepedulian, namun tidak dibarengi dengan kasih maka semuanya sia-sia. 3). Menyatakan Kristus lewat hidup.  

Kita masih ingat bagaimana seorang kaya datang ke Yesus dan menanyakan bagaimana supaya dia memperoleh hidup yang kekal? Yesus berkata Juaallah segala milikmu dan berikan kepada orang miskin dan ikutlah aku (Mat. 19:16-21). Sebenarnya Yesus tahu bahwa orang ini SANGAT PELIT DAN TIDAK ADA KEPEDULIAN TERHADAP SESAMA. Ketika kita sungguh-sungguh melakukannya maka kita menerima berkat, sementara jikalau tidak maka kita akan mendapatkan KEMATIAN YANG KEKAL (ay. 46).

Saudara yang terkasih,

Hari ini kita melaksanakan Hari Doa Sedunia. HDS diprakarsai oleh sekelompok perempuan awam gereja Presbiterian yang sangat prihatin melihat keadaan buruk yang dialami para imigran Afrika yang menjadi budak belian di Amerika Serikat. Pada tahun 1887, Mary Ellen James, Presiden dari Presbiterian Woman’s Executive Committee for Home Mission dengan beberapa perempuan dari negara tersebut berkumpul untuk mendoakan Pekabaran Injil di negara mereka. Tidak berapa lama kemudian kaum perempuan dari berbagai denominasi bergabung dengan perayaan yang disebut “Hari Doa Tahunan Bagi Rumah Missi”. Dengan bergulirnya waktu, mereka merasa bahwa mereka harus berdoa bukan saja bagi negerinya sendiri melainkan juga untuk pemberitaan Injil di seluruh dunia. Sehingga ditetapkan setiap minggu pertama maret tahun berkenan diadakan HDS.

Tahun ini  Tema adalah “Aku Seorang Asing dan Kamu Menyambutku” dengan fokus di Perancis. Orang asing adalah : 1) Yang datang dari bangsa lain / yang punya hubungan dengan negara lain 2). Yang bukan anggota / tidak ada hubungan dengan siapapun 3). Orang tanpa ada keluarga  4). Seseorang yang bukan dari negeri di mana pria/wanita tinggal. Memang, di eropa barat sekarang persoalan yang muncul adalah banyaknya pendatang khususnya dari Afrika dan Eropa Timur. Ini membuat munculnya para gelandangan dan berakibat kepada kriminalitas. Akan tetapi, tema ini sebagai kritikan bahwa mari menyambut mereka. Kita juga adalah orang asing di dunia ini. Untuk itu mari kita saling menyambut satu dengan yang lain dengan adanya kepedulian. Untuk itu mari kita merenungkan Mat. 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.