Nenek-ku


Amsal 3:1 Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,

Nenek-ku

Pasti kita semua di dunia ini memiliki nenek, kecuali Nenek Moyang pertama manusia, Hawa. Nenek itu bisa dari ibunya ayah kita dan bisa juga ibu dari mama kita sendiri. Biasanya nenek sangat sayang kepada cucunya melebihi dari orangtua kita sendiri. Bahkan nenek bisa menjadi tempat mengadu sekaligus dapat menjadi pembela kita ketika kita berbuat salah. Nah, yang terakhir ini (kata membela), sering kita pergunakan sebagai tameng untuk menjauhkan diri dari kemarahan orangtua kita. Intinya nenek kita adalah pembela yang agung dalam keluarga he..he..Untuk itu bagi yang tidak punya nenek, ya..pasti rugi!

Kami juga punya nenek. Nenek kami ini lain dari yang lain. Dia adalah seorang figur yang menjadi teladan bagi anak-anaknya termasuk cucu-cucunya. Dia adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus mantan pensiunan PNS Perawat lho!. Jadi bila sakit, kami mengadu ke dia dan dengan sabar, dia merawat kami. Enak kan?.

Nenek kami itu biasanya dipanggil sesuai dengan nama kami. Nenek Dita-lah, Nenek No’el, Nenek Ferlin, Nenek Owen, Nenek Aldo bahkan terakhir dengan adanya 2 (dua) adik kami baru disebut juga Nenek Sonya dan Nenek Grasela. Komplit deh!. Selain itu juga nenek kami sering dipanggil Nenek Afilaza karena memang tinggalnya disana. Bahkan kami dirumah memanggil dia Nenek Zo’adu, karena dulu bersama bapak sakhi Pendeta (pak cik) kami tinggal di Sogae’adu (27 km dari Kota Gunungsitoli-Nias).

Dia sekarang berumur 67 tahun. Dia tinggal sendiri karena kakek kami (yang juga Pendeta) sudah meninggal 3 tahun yang lalu tepatnya malam 25 Desember 2006. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa dia tua. Dia sangat aktif bekerja. Bahkan punya binatang peliharaan dan suka berkebun. Sangking semangatnya,  kalau tidak kerja, nenek kami jadi sakit. Ya, gimanalah orangtua zaman dulu. Beda dengan kami kalau tidak rutin kerja (main dan tidur)…jadi sakit deh!! he..he..

Namun banyak hal yang menjadi pelajaran bagi kami. Pagi benar jam 6 sudah ke “kantornya” alias kebun dan memberi makan binatang peliharaan. Namun, sebelum kerja nenek kami berdoa lho. Dia selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang dialami hari yang lalu dan untuk menghadapi hari ini. Bahkan Pendeta kami pernah bersaksi di khotbahnya bahwa ada seorang janda (maksudnya nenek kami) selalu memberi perpuluhan dari hasil penjualan daun ubi di kebunnya. Tidak seberapa, namun dia selalu bersyukur dengan apa yang diterimanya. Luar biasa!.

Mau tahu minuman kegemarannya?. Cappucino dengan Mocca bo..pada pagi hari, dengan gelas besar lagi dan malam kadang-kadang mau minum es jeruk. Gaul juga ya!. Dia juga suka nonton berita di TV dan membaca berita baru dikoran. Habis tidak mau ketinggalan informasi. Sehingga jika cerita tentang apa yang terjadi sekarang, dia juga bisa nyambung. Tentang minuman Cappucino tadi…lebih banyak tahu si Aldo-tuh. Habis ketika nenek kami minum, dia juga ikut-ikutan. Bahkan jika tidak diberikan, nangis tuh…

Nenek kami juga tidak pernah membedakan kasih sayangnya kepada kami. Dia selalu membagi kasihnya merata kepada kami semua. Setiap pagi dan malam dia berdoa dengan menyebut nama kami satu persatu. Menjadi anak baik, pintar, sukses dan tidak lupa menjadi anak yang taat kepada orangtua dan terlebih kepada Tuhan. Habis nenek kami mau mewujudnyatakan lagu Nikita, “Di Doa Ibuku Namaku Disebut”.

Kami tidak dapat membalaskan kasih sayang nenek kami kepada kami semua. Benar kata pepatah, “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak hanya sebatas penggalah”. Namun kami berdoa agar nenek kami diberi umur yang panjang dengan kebahagiaan karena kami yakin “kasih Tuhan sepanjang masa kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya termasuk nenek kami”. Selamat hari advend nek!. Dari cucu-cucumu.

Noel, Ferlin dan Owen

Aldo

Sonya Harefa

Grasela H24

2 thoughts on “Nenek-ku

  1. hmmmm saya kagum sekali dengan hal itu bro, coz gmna ya….! saya sendiri se blm pernah merasakan kasih sayang seorang nenek karna waktu aku masih bayi dia udah pergi duluan ke sisiNYA….tetapi kalo si kakek sweh menyayangi aku banget waktu kecil seperti halnya si Nenek yg abang ceritain diatas tadi . . . aku ngerasa bagaikan Pangeran kecil waktu itu……cuman sayang aku ditinggalin olehnya waktu aku masih duduk dibangku kelas V SD……hmmmm apa hendak dikata itulah kehendak Tuhan yang paling indah dalam hidupnya…..
    walaupun begitu kasih sayangnya kan terkenang selalu…..SELAMANYA….. By.PurY H24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s