Takut Akan Tuhan Adalah Sumber Kehidupan


Pengantar

Pada tanggal 31 Januari 2010 yang lalu diadakan perayaan natal dan syukuran Tahun baru keluarga besar SAMAERI di Taman Buah Mekar Sari, Cibubur. Samaeri adalah perkumpulan mado zebua, ono mbini’o dan juga simpatisan. Kurang lebih 75 kk sudah bergabung. Pada kesempatan tersebut penulis diundang menjadi pembicara. Sebagian dari bahan renungan pada kesempatan tersebut diturunkan dibawah ini. Selamat menikmati.

Takut Akan Tuhan Adalah Sumber Kehidupan[1]

Amsal 14:26-27  Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

Dalam sebuah kelas Sekolah Minggu, seorang guru berkata kepada murid SM kelas kecil umur 3-5 tahun, “siapa yang mau pergi  surga”?. Dari 25 orang anak, hanya 24 orang angkat tangan sementara 1 orang lagi tidak. Ketika ditanyakan,  “kenapa kamu tidak mau ikut nak”?. Anak itu menjawab dengan suara memelas, “tadi kata mama, setelah selesai SM aku terus pulang, jadi aku minta izin sama mamaku dulu, nanti aku dimarahin kalau ke surga”?.

Dalam kasus ini, kita dapat mengerti bahwa jawaban anak ini dapat dipahami karena dia belum memahami betul apa itu surga? Dia menganggap surga itu adalah abstrak seperti kota Medan, Jakarta, Bandung dsb. Hal ini semakin dimengerti karena Dia masih bergantung kepada orang-orang yang dekatnya. Bahkan dia juga lebih takut dengan orang yang dekat dengannya dibanding orang lain.

Persoalan yang muncul adalah ketika orang Kristen dewasa sekarang masih memiliki pikiran seperti anak-anak. Mereka lebih menakuti manusia, dunia,  materi dibanding dengan takut akan Tuhan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari dapat kita lihat bagaimana seorang anak takut kepada orangtua karena dimarahi; kita juga melihat Seorang bawahan takut kepada atasan karena dipindahkan, ditegur bahkan di PHK-kan sehingga dia melakukan apa saja Asal Bapak Senang (ABS). Dalam kasus lain, seorang murid takut guru karena tugas…bukan takut tugasnya tidak selesai. Mengerti atau tidak urusan belakangan.

Namun, dalam Firman Tuhan yang kita renungkan pada saat ini, kita diingatkan agar lebih takut akan Tuhan dibanding kepada manusia. Ini adalah pesan dari seorang raja yang sangat bijaksana pada zamanny. Kita bisa membayangkan orang yang sangat bijaksana saja mengajak orang lain untuk takut kepada Tuhan. Bisa saja sebenarnya dia menganggap dirinya Tuhan, namun dia tidak melakukan hal tersebut. Pembuat amsal ini melihat bahwa orang Israel kadang mengilahkan dewa lain, allah lain dibanding Tuhan sendiri. Untuk itu dia mengingatkan kembali untuk lebih Takut kepada Tuhan.

Secara khusus Kata Takut akan Tuhan (banyak kata lain – takut akan Dia, dll), ada 55 kali kita temukan dalam Alkitab .dengan berbagai konteks yang dimulai dari  Ulangan 6:2 ….supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu; dan diakhiri dalam Kolose  3:22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

“Takut akan Tuhan

Banyak orang Kristen mempunyai persepsi yang salah tentang arti takut akan Tuhan. Kebanyakan orang Kristen mendefinisikan takut akan Tuhan dengan ketaatan melakukan perintah Tuhan karena rasa takut akan hukuman seperti kasus di atas. Padahal sebenarnya takut akan Tuhan adalah berhubungan dengan ketaatan, kesetiaan dan hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhan. Manusia telah menganggap Tuhan sebagai pribadi yang dihormati dan disegani, jadi patuh kepada perintah-Nya. Takut akan Tuhan juga merupakan hubungan antara pencipta dan yang diciptakan; hubungan antara Bapa dan anak.

Apa jaminan yang diberikan kepada kita : kehidupan – kehidupan bukan hanya didunia, namun juga masa depan se. Juga dia memberi kebahagiaan  “Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” (Mazmur 128:1). Ketika kita takut kepada pimpinan atau orangtua, guru, kita dihukum sementara, namun ketika kita tidak takut akan Tuhan hukuman juga berlangsung sampai akhir zaman.

Selain daripada itu, takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7). Raja Salomo sendiri ketika ditawarkan permintaan oleh Tuhan, dia tidak memilih kekayaan, jabatan, umur panjang, melainkan hikmat (I Raja 3:5-12). Justru dengan permintaan ini Tuhan senang dan memberikan apa yang tidak dimintanya.

Bagaimana kita Takut akan Tuhan?

1. Taat beribadah kepada Tuhan.

Dalam 1 Samuel 12:24 Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu. Ini menunjukkan takut akan Tuhan dimulai dari ketaatan kita dalam beribadah kepada-Nya. Ibadah bukan hanya sekedar nyanyian, berkata-berkata, namun penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Roma 12:1)

2. Taat melakukan Firman Tuhan.

Jawaban dari taat beribadah adalah dengan melakukan Firman-Nya. Dalam  Ulangan 10:12 “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,

3. Membenci kejahatan/dosa – hubungan dengan Tuhan dan sesama

Takut akan Tuhan juga berhubungan bagaimana kita taa kepada perintah-Nya dan bagaimana hubungan kita dengan sesama. Ada kalanya orang percaya kepada Kristus hanya takut kepada Tuhan, namun kurang mengasihi sesama. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Dalam Amsal 8:13 dikatakan Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat

4. Menjaga hati..hati adalah dasar dari perasaan, keputusan, harapan, tindakan, impian…kita jaga dengan sukacita…

Dalam Amsal 4:23 dikatakan, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


[1]. Bahan renungan yang disampaikan pada syukuran Natal’09 dan Tahun Baru’10 Keluarga Besar Samaeri Jakarta, Taman Buah Mekar Sari, Cibubur, Minggu, 31 Januari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s