“Biarlah Segala Yang Bernafas Memuji Tuhan! Haleluya!


“Biarlah Segala Yang Bernafas Memuji Tuhan! Haleluya!“[1]

(Mazmur 150:6)

Saudara-saudara yang seiman di dalam Kristus…………

Sebelum saya memulai renungan ini, saya ingin mengajak anda untuk merenungkan tentang kehidupan alam ciptaan ini dengan apa yang terjadi di dalamnya dalam sebuah percakapan:

Aku adalah si “banjir”!. Sebenarnya aku tidak pernah mengganggu ciptaan Tuhan. Justru aku memberikan kehidupan kepada ciptaan Tuhan, lewat air untuk keperluan sehari-hari dan terlebih-lebih untuk menunjang kehidupan temanku yang “kukasihi” yaitu tumbuh-tumbuhan. Aku hidup di dalam tanah, untuk menunjang kehidupan mereka.

Namun, kadangkala, sang “manusia si illegal logging” mengganggu ketentraman hidupku, dengan menebang temanku pohon-pohon dan tumbuhan dengan sembarangan, untuk kekayaan dan kepuasan diri mereka sendiri. Akhirnya, aku tiada lagi tempat berteduh!. Tiap hari aku menangis, sedih, menjerit, melihat penderitaan temanku pohon yang telah ditebang. Akhirnya ketika “teman-temanku” (hujan) yang lain datang, “air mata” kami membentuk sebuah sungai yang besar dan menghancurkan apa saja yang kami lewati, termasuk rumah manusia, tanpa peduli yang bersalah atau tidak bersalah, seperti yang terjadi di Kec. Lahusa dan Gomo, tahun 2001, di Bahorok, tahun 2003, dan akhir-akhir ini beruntun di Padang, Kec. Gidõ, Nias, di Kuta Cane, Aceh tenggara, Kalimantan dan tentu saja di Jakarta setiap musim hujan. Akhirnya mereka juga menangis, sedih, menjerit dan menyalahkan aku sehingga mengatakan aku si yang dihaluskan dengan “bandel” “si banjir  bandang”. Padahal mereka tidak tahu kesalahan mereka. Untung saja, sang menteri linkungan hidup membela aku dan mengatakan yang salah adalah manusia. Untuk itu, sebelum air mataku yang lebih besar datang lagi, tolonglah teman-teman, lindungilah kehidupan kami bersama teman-temanku tumbuh-tumbuhan.

Kemudian….datanglah si sampah….

”’Aku adalah si ”sampah”!. Ya, namanya juga ”sampah”, aku adalah sisa-sisa makanan, barang atau benda yang tidak dipakai lagi manusia. Sehingga aku mesti dibuang. Kami memiliki ”rumah” di tong-tong atau kotak-kotak. Disana kami hidup berdampingan dengan sampah yang lain. Namun, kadangkala hidup kami terusik, ketika kami dibuang dengan sembarang baik di jalan, di selokan dan disembarang tempat. Akhirnya, ya maaf saja!. Kami juga mengeluarkan bau yang tidak sedap dan menyebabkan penyakit. Juga bila datang hujan, ya dapat menyebabkan banjir. Bahkan tumpukan kami dapat merusak rumah dan menyebabkan korban jiwa. Seperti yang terjadi di Bandung lalu!. Untuk itu, tolong ya teman-teman, buanglah diri kami di rumah kami, jangan disembarangan tempat.  Agar kami dapat hidup dengan damai dan tidak menggangu kalian lagi”

Setelah itu datanglah si gempa…

”Aku adalah si ”gempa”. Sekarang ini aku sangat ditakuti di seluruh penjuru dunia. Oleh karena ketika aku bergerak, maka semua bergoncang, seperti yang terjadi di Aceh-Nias, 26 Des. 2004 lalu, Nias 28 Maret 2005 lalu, dan menyusul di Yogyakarta, Tasikmalaya dan terakhir di Padang 2009 yang lalu.  Sebenarnya aku gemar tidur, dan jarang bangun. Bahkan aku bangun bisa sampai 100 tahun. Tetapi ketika aku bangun dan sedikit bergerak, maka goncanglah tanah di atasku. Bukan hanya itu, aku juga membawa temanku ”tsunami”. Aku juga penuh misteri. Manusia berlomba meneliti tentang aku. Ada yang mengatakan, aku terjadi karena terjadi pergesekan lempengan di dasar laut atau tanah. Ada juga yang mengatakan aku terjadi karena ”kutukan Tuhan”. Wah, ada-ada saja!. Lalu ada manusia berkata, aku terjadi karena eksploitasi tanah dan minyak di dasar laut yang berlebihan. Bagaimana itu ”gempa”?. Tanya manusia lain!. Aku diam membisu, hanya jawabku, siap-siap saja menantikan kedatanganku. Untuk itu cintailah lingkungan yang Tuhan telah anugerahkan, karena manusia sudah sulit memprediksikan kapan aku ”bangun”.

Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan…

Mencermati dari narasi di atas, menunjukkan bahwa ada ketidakberesan dalam lingkungan kita sekarang ini. Dimana-mana sekarang terjadi krisis (ekonomi, sosial, politik) namun krisis lingkungan lingkungan hidup seakan dilupakan. Hal ini semakin bertambah bila kita mencermati sekarang dengan yang namanya “Pemanasan Global” (Global Warning). Ini disebabkan kurang harmonisnya hubungan manusia dengan alam ciptaan yang lain. Karena banyak Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab tentang hubungan Tuhan dengan ciptaan-Nya, justru memposisikan manusia sebagai ”makhluk yang tinggi” dari ciptaan lainnya (mis. Kej. 1:26-27, 29-30). Akhirnya manusia ”salah” dalam menafsirkan Alkitab. Manusia (termasuk saya), merasa dirinya lebih hebat dari ciptaan yang lain, dengan memakai nats-natas Alkitab meligitimasikan kekuasaannya. Untunglah saya dibangunkan oleh pujian Raja Daud, kakek buyutnya Sang Penyelamat Dunia, Yesus Kristus yang merupakan akhir dan penutup dari seluruh kumpulan nyanyian, doa, keluhan, ratapan yang terkumpul dalam Kitab Mazmur, seperti yang kita renungkan pada hari ini Biarlah segala yang bernafat memuji Tuhan! Haleluya!.

Saudara yang sepengharapan di dalam Kristus……….

Firman Tuhan ini, sebenarnya adalah ajakan dari pemazmur, agar semua yang bernafas memuji Tuhan. Dalam ayat sebelumnya, pemazmur memberitahukan dimana dan bagaimana semua memuji Allah. Allah yang berada di tempat kudus; dengan cakrawalanya yang kuat; dengan segala keperkasaannya, dipuji dengan segala alat musik yang ada di dunia ini. Tentu saja berdasar kepada hati. Namun siapa yang memuji Dia?. Ayat yang kita  renungkan menjelaskan bahwa semua yang bernafas!. Kata ”biarlah” menunjukkan bahwa selama ini pemazmur melihat ada yang tidak beres dengan kesatuan ciptaan Tuhan. Dia melihat, bahwa hanya manusia yang memuji Tuhan, itupun tidak segenap hati, seperti pengalamannya dalam memimpin umat Israel. Dan manusia itu sendiripun, tidak memberikan kesempatan kepada makhluk ciptaan lainnya, datang memuji Tuhan. Mengapa demikian?. Oleh karena kata nafas, selalu dihubungkan dengan manusia sebagai ciptaan yang termulia (Kej. 2:7), padahal sebenarnya tidaklah demikian. Nafas bukan hanya milik dan ditujukan kepada manusia, tetapi juga semua ciptaan Tuhan yang lain seperti malaikat, hewan dan tumbuhan (Mazmur 148). Mereka juga dianugerahkan Tuhan kehidupan untuk bersama-sama saling menunjang kehidupan di antara satu dengan yang lain. Dalam ayat ini, mereka diajak pemazmur untuk ikut serta memuji Tuhan.

Pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar semua ajakan Raja Daud ini dapat terwujud?. Tentu saja, adanya kedamaian di antara ciptaan Tuhan. Pertama, manusia itu sendiri berdamai dengan dirinya. Ini mungkin yang paling sulit!. Karena manusia lebih mudah melihat kelemahan manusia lain, tanpa melihat kekurangan dirinya. Ketika dirinya sendiri, disadari adalah manusia yang hina dan diangkat Tuhan menjadi manusia mulia oleh Tuhan (Mazmur 8), tentu semua nafas kehidupan yang dimilikinya dipergunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi ciptaan lainnya.  Kedua, manusia berdamai dengan manusia yang lain. Dalam hal ini semua ”nafas manusia yang hidup”, bersatu dan memunculkan  satu persekutuan yang hidup, yang serasi, tentram, penuh kasih di dalam Tuhan. Ketiga, manusia berdamai dengan ciptaan yang lain. Dalam hal ini, terjadi saling memperhatikan dan memelihara di antara makhluk ciptaan Tuhan. Manusia sangat membutuhkan hewan dan tumbuhan untuk menunjang kehidupannya; namun di balik itu manusia juga bertanggungjawab untuk memelihara dan mengembalikan kembali kehidupan mereka dengan reboisasi. Dan terkahir keempat, seluruh ciptaan berdamai dengan Tuhan. Kedamaian dengan Tuhan terwujud ketika bersama-sama seluruh ciptaan Tuhan bergandengan tangan untuk datang memuji dan memuliakan-Nya.

Saudara yang kekasih di dalam Kristus…………….

Bagaimana kita merefleksikan semuanya ini di dalam kehidupan kita?. Kita yang telah terpanggil dalam mengikuti pelatihan peduli lingkungan hidup ini, diajak oleh pemazmur untuk memuji Tuhan. Di sekitar kita, banyak terjadi kerusakan saluran ”per-nafas-an” alam oleh karena berbagai penyakit seperti polusi, penyakit, banjir, dll. Sehingga alam menjadi ”batuk” dan ”flu” yang dapat menghancurkan dunia ini khususnya kehidupan manusia, dan mengganggu ”suara” untuk memuji Tuhan. Lalu bagaimana untuk mengobatinya?. Hal ini tidak memerlukan resep ”dokter” (teori-teori), atau membeli obat-obatan di ”apotek” (bahan-bahan kimia) untuk menyembuhkannya. Justru mengobatinya dari diri kita sendiri (manusia) sebagai ciptaan yang mulia dihadapan Tuhan. Melalui tangan-tangan kita yang peduli, perhatian dan cinta terhadap lingkungan kita sendiri. Sehingga akhirnya muncul nafas yang baru dan bersama-sama untuk memuji Tuhan.

Paus Paulus Yohanes 2, pernah mengatakan bahwa ”….memang umat manusia telah menerima dari Allah sendiri tugas untuk menguasai dunia ciptaan dan ”menggarap ladang-ladang” dunia. Tetapi inilah tugas yang harus dilaksanakan umat manusia dengan menghormati citra ilahi yang sudah diterima (dalam kodrat manusia). Oleh karena itu, dengan kecerdasan dan cinta, manusia mengambil tanggungjawab atas anugerah yang diberikan oleh Allah dan masih terus dicurahkan kepada generasi yang akan datang, dan jika mungkin, diteruskan dalam kondisi yang lebih baik…..”. Dengan demikian akan terwujudlah pujian dan kemuliaan bagi nama Tuhan lewat justice, peace and integrity of creation (keadilan, kedamaian dan keutuhan ciptaan Tuhan).


[1]. Renungan ini adalah saduran yang disampaikan penulis pada Ibadah Pembukaan Diskusi Panel ”Aksi Peduli Lingkungan Hidup” oleh Pokja APEL (Aksi Peduli Lingkungan), Sabtu, 12 November 2005 Di Aula STT BNKP Sundermann dengan pembicara pada saat itu Kadis Pertanian Kab. Nias dan Pdt. Ritter Dakhi, S.Th, M.Si

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s