JIKA TUHAN YANG MENGETUK “PALU”


Sungguh menarik pelaksanaan rapat paripurna DPR tanggal 2-3 Maret yang lalu, membahas tentang “Bailout Bank Century” Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua DPR, Marzuki Alie. Pada hari pertama, rapat ditutup dengan kericuhan gara-gara satu benda yang disebut dengan ‘PALU”. Hal ini terjadi ketika Ketua DPR mengetuk “palu” untuk menutup sidang. Alasannya sederhana karena mic para anggota mati. Selain itu suasana tidak begitu kondusif. Sebagian anggota DPR yang kecewa  dengan kejadian ini marah bahkan ada yang maju ke depan mempertanyakan sikap ketua. Selain itu ada yang protes dengan mengatakan Ketua “otoriter” dengan mengambil keputusan begitu saja tanpa meminta saran dari pimpinan lainnya (4 orang lagi) dan juga peserta rapat. Bahkan ada anggota dewan yang maju kepodium dan berbicara bahwa tindakan Ketua tersebut adalah “kejahatan konstitusi”. Yang lain ada mengatakan, Ketua mesti diganti. Ketua mesti ditegur dan diberi sanksi oleh Badan Kehormatan.

Protes ini berlanjut sampai kepada media elektronik (TV) dan media cetak (koran). Banyak yang menyesali kejadian tersebut. Dalam salah satu acara dialog pagi di TV swasta, seorang penelepon mengungkapkan kekecewaannya kepada sikap Ketua DPR dan mengusulkan palu sidang diganti dengan PALU BANGUNAN. Ada-ada saja..Namun ada juga yang pro-Ketua DPR dan menyalahkan sikap anggota dewan yang kurang menunjukkan etika berbicara yang baik. Tidak sedikit orang mengutip pernyataan Gus Dur (Alm), “anggota dewan tidak ubahnya seperti sekumpulan anak TK” untuk menyalahkan anggota dewan.

Pada hari kedua, Ketua DPR sudah mulai ko-operatif dan menampung aspirasi anggota. Namun salah satu kisah menarik seperti dilaporkan oleh detiknews.com, yang mungkin tidak diketahui masyarakat bahwa ketika Ketua DPR ingin menskors rapat pada siang hari pukul 12.00 wib saat untuk salat zuhur dan makan siang, salah seorang pimpinan menegur Ketua DPR dan berbisik “Jangan Pak, jangan dulu!”. Sehingga skors dibatalkan dan rapat diteruskan dengan pandangan para fraksi. Apa dan bagaimana hasil rapat tersebut tentu semua masyarakat sudah tahu.

Persoalan sekarang adalah ketika kita berbicara dalam konteks iman, bagaimana seandainya Tuhan yang mengetuk PALU?. Tuhan mengetuk palu sebagai tanda akhir zaman kemudian mengumpulkan semua orang dalam satu sidang dan mengetuk palu satu-satu sebagai keputusan akhir hidup orang tersebut. Atau misalnya Tuhan mengetuk Palu untuk kita masing-masing sebagai tanda akhir kehidupan kita di dunia ini. Apakah ada yang berani protes dengan maju kedepan dan mengatakan Tuhan otoriter, Tuhan melanggar konstitusi, Tuhan mesti diganti (diganti dengan siapa ya? He..he..), Tuhan mesti diadili oleh badan kehormatan, dll ? Apakah protes tersebut diterima Tuhan?.

Satu kisah menarik dalam Alkitab Luk. 16:19-31 tentang kisah seorang kaya yang yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan (ay. 20). Sementara itu dipihak lain, ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu (ay. 21) Namun orang tersebut tidak peduli dengan si miskin dan orang miskin tersebut justru menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya (ay. 21). Ketika Lazarus meninggal, akhirnya TUHAN MENGETUK PALU dimana malaikat-malaikat membawa dia ke pangkuan Abraham.

Bagaimana juga dengan orang kaya tersebut? Ketika mati, TUHAN MENGETUK PALU dengan menderita sengsara di alam maut. Orang kaya ini protes dan tidak setuju dengan keputusan Tuhan.  Dalam ay 24 ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham dalam ay. 25 berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Kemudian sikaya mengajukan permintaan lagi seperti ay. 27-28 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Dalam ay. 29, tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

Bagaimana dengan kita sekarang?. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan mengetuk palu untuk menghukum dunia ini secara keseluruhan. Kita bahkan tidak tahu kapan Tuhan akan mengetuk palu untuk hidup kita masing-masing. Sebelum itu terjadi marilah kita setia kepada Firman Tuhan dengan mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Sekarang ini dimana-dimana terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh Tuhan. Kerusuhan, kericuhan, pertikaian antar kampung, suku bahkan bersaudara, orang mulai tidak peduli dengan nilai-nilai agama, ketidakadilan semakin merajalela, sikap mengasihi kepada sesama mulai menipis. Sebelum PALU dari Tuhan diketuk, marilah kita bertobat seperti seruan Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:2 “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”. Sehingga ketika tiba waktunya kita akan diselamatkan, atau mungkin masih diberikan kesempatan lebih untuk menikmati kehidupan di dunia ini. Hidup dan mati di dunia ini, kita serahkan kepada PALU dari Tuhan. Selamat menantikan KETUKAN PALU DARI TUHAN..

2 thoughts on “JIKA TUHAN YANG MENGETUK “PALU”

  1. renungan yang mantaf…:) thanks
    saya pikir renungan ini tepat sekali dengan apa yang sedang dihadapi oleh bangsa kita sekarang ini. saya termasuk orang yang sangat sedih mendengar dan menyaksikan fenomena yang saat ini mewarnai siaran TV, nggak dikalangan pejabat (KKN, kasus century), kalangan mahasiswa (tawuran, demo, merusak fasilitas yang ada), masyarakat (sengketa tanah, pembunuhan, pelecehan seksual, membawa lari anak orang, bentrok antar suku),,,, kemana hati nurani mereka…??????

    baiknya,,, mereka harus diingatkan dengan renungan di atas.

    so, saya akan memulainya di keluargaku dulu. semoga Tuhan memampukan saya dan saudara.

    GBU all

  2. mengapa ya, orang gak pernah sadar ketika ia melakukan suatu kesalahan, malah ia tambah senang. kalau hal itu tidak ketahuan. nah misalnya sekarang ia sedang mencuri, akhirnya Allah berkata seperti lagu sekuler.. oh..oh.. kamu ketahuan mencuri lagi, dan akan mendapat ketukan palu dari Tuhan, apa yang terjadi… yupzzz
    so pasti takuz tu.. hehehe.. ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s