Nick Vujicic : Menularkan Harapan Bagi Penyandang Cacat


Hati saya agak trenyuh melihat anak-anak di emperan jalan meminta uang kepada pengendara yang lewat tanpa memperhatikan keselamatan mereka. Mereka yang sebenarnya duduk dengan tenang di sekolah untuk belajar, namun dipaksa oleh keadaan (bisa dari orangtua atau juga ada orang tertentu). Saya juga tidak habis pikir, begitu teganya orangtua mereka memaksakan mereka untuk melakukan hal yang demikian. Dimana tanggungjawab mereka sebagai orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak?. Lebih sedih lagi ketika seorang ibu  dengan mengorbankan semua harga diri menggendong bayinya yang masih kecil berjalan sambil meminta belas kasihan. Bahkan tidak jarang mereka duduk atau tidur dipinggir jalan dengan atau tidak beralaskan sesuatu.  Padahal sebenarnya anak yang kecil itu membutuhkan kasih dan sayang sekaligus perlindungan untuk tetap hidup. Demikian juga pada malam hari banyak anak-anak termasuk orang dewasa berjalan kesana kemari melewati “pintu-pintu rumah makan dipinggir jalan” dengan berbagai atraksi menyanyi, menari, puisi, dll. Ada yang kasihan dengan memberikan uang, namun ada juga yang tidak peduli. Di satu pihak mereka ada juga yang ramah, namun ada juga yang kasar dengan rada-rada memaksa. Jika kita bertanya kepada mereka, kenapa melakukan hal yang demikian, dengan enteng jawab mereka, “karena kemiskinan”!. Miskin karena tidak punya apa-apa, miskin karena malas, miskin karena penguasa, miskin karena ketidakadilan, miskin karena sengaja memiskinkan diri, saya kurang tahu pasti. Jelasnya si miskin menjadi kambing hitam dari keadaan yang mereka jalani. Memang kemiskinan dan orang miskin selalu ada. Yesus juga dalam Matius  26:11 mengatakan “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu”. Dan kita juga sebagai orang yang percaya, ditugaskan untuk menolong mereka yang lemah termasuk yang miskin.

Namun bila kita memperhatikan kondisi fisik anak-anak tersebut (bahkan termasuk orangtua), sebenarnya kebanyakan dari mereka memiliki tubuh yang lengkap. Mata, tangan, kaki lengkap. Bila kita mengkaji lebih dalam lagi, mereka adalah orang-orang yang bisa berproduktif atau bisa melakukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang tanpa mengorbankan diri dan masa depan mereka. Dimana letak persoalannya?. Bagi saya karena tidak ada motivasi dan keinginan untuk maju. Ingin hidup senang, namun tidak mau bekerja. Ingin mencapai kesuksesan, tanpa perjuangan.  Ingin mendapatkan uang, tanpa mengeluarkan keringat. Padahal setiap pribadi manusia telah diberikan akal dan pikiran oleh Tuhan untuk bisa dimanfaatkan dalam meneruskan perjuangan hidup di dunia ini. Paulus juga dalam II Tesalonika  3:10 mengingatkan jemaat Tesalonika yang tidak mau bekerja karena sibuk menantikan akhir zaman dengan mengatakan, “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. Untuk itu marilah kita memanfaatkan semua potensi yang ada dalam diri kita untuk bekerja dan maju. Banyak orang sukses memulai dari bawah bahkan tidak jarang mereka melakukan pekerjaan yang menurut kita kasar seperti pelayan di rumah makan, tukang bangunan, buruh kasar, dll. Tapi semua dijalani dengan sukacita dan membawa kepada kesuksesan. Tentu saja pendidikan juga sangat diperlukan. Jika ingin maju, maka kita perlu belajar dan belajar. Sehingga kita tidak dibodohi atau dipermainkan oleh orang lain. Namun, kita pakai semua ilmu yang kita miliki untuk kemuliaan bagi nama Tuhan bukan juga untuk membodohi orang yang miskin pendidikan.

Mari kita belajar dari seorang anak Tuhan, Nick Vujicic, yang lahir tanpa lengan dan kaki, namun dia bisa sukses. Berita dibawah ini saya ambil dari Harian Seputar Indonesia, edisi 21 Maret 2010.

Nick Vujicic : Menularkan Harapan Bagi Penyandang Cacat

Nick Vujicic sangat bersyukur karena gagal bunuh diri pada usia sepuluh tahun. Kini dia mampu berdiri untuk memberi motivasi bagi penyandang cacat di 24 negara.

USIA masih dini, tapi sudah bisa berpikir untuk bunuh diri.Apa sebenarnya yang membuat Nick ingin mengakhiri hidup saat itu? “Saya lahir tanpa lengan dan kaki. Saya merasa tidak punya tujuan hidup,ungkapnya.

Nick lahir di Melbourne, 4 Desember 1982. Ayah dan ibunya sangat terkejut ketika melihat Nick untuk pertama kali. Bayi Nick tidak memiliki lengan dan kaki. Kondisi ini jauh dari bayangan ayah dan ibu Nick. Ibunya menangis berhari-hari. Dia tidak sanggup menyentuh tubuh rapuh Nick. Sang ibu baru bisa menggendong Nick saat berusia empat bulan.Tidak ada penjelasan medis apa pun tentang kondisi Nick. Dokter hanya menyimpulkan Nick mengalami gejala phocomelia. Selama bertahun-tahun, ayah dan ibu Nick terus mempertanyakan kondisi putranya.Ibu Nick mencoba mengingat kembali apa yang dia kerjakan selama mengandung Nick.

“Ibu saya seorang perawat.Dia tidak melakukan hal-hal yang salah selama mengandung saya,” ujar Nick. Namun, tetap saja sang ibu menyalahkan diri atas kondisi Nick. Masa-masa itu sangat berat untuk keluarga Nick. “Mengapa?” menjadi kata tanya yang kerap dilontarkan ayah dan ibu Nick. Kesuraman keluarga Nick berubah saat si kecil Nick berusia 18 bulan. Ayahnya mengajak Nick ke kolam renang. Nick menangis ketika air menyentuh badannya. Ayah Nick tidak putus asa. Setiap hari dia mengajari Nick berenang. Lambat laun Nick menjadi suka berenang.Dia menggerakkan badan layaknya orang normal. Selain berenang, Nick juga diajari menulis.Ayah Nick mengikat sebuah pensil pada dua jari kaki kiri Nick.Ayah Nick tidak pernah membawa putranya ke sekolah khusus penyandang cacat.

Dia ingin Nick bisa bersosialisasi dengan anakanak yang normal. “Ayah ingin saya menjadi manusia yang mandiri,” papar Nick tentang sang ayah. Nick tumbuh menjadi pemuda yang pandai. Dia mampu berpikir dan bergerak lebih cepat dari yang pernah dibayangkan orang tuanya. Dia tidak kesulitan belajar bersama anak-anak normal lain.Namun, keadaan berubah saat Nick berusia delapan tahun. Walau guru-guru tidak membedakan Nick dengan siswa lain, dia tetap merasa berbeda. Dia merasa tidak bisa berkembang. Pikiran-pikiran terus menghantui Nick. Hingga suatu hari pertahanan diri Nick runtuh.Dia merasa tidak sanggup melanjutkan mimpinya. Dia benar-benar depresi. Kemudian Nick mencari ibunya. Dia memeluk ibunya dan menangis. “Saya tidak sanggup lagi.Saya ingin bunuh diri saja,” katanya kepada sang ibu. Ibu Nick mencoba meyakinkan segalanya akan baik-baik saja. Nick hanya perlu berusaha dan bersabar. Mendengar nasihat ibunya, Nick sedikit lebih tenang.

Dia mengurungkan niat untuk bunuh diri, lalu kembali ke sekolah. Namun, kondisi ini ternyata tidak bertahan lama. Nick kembali depresi. Puncaknya saat Nick berusia sepuluh tahun. Dia menenggelamkan tubuhnya ke dalam bak mandi. Cukup lama Nick berada di bawah air, sebelum dia berubah pikiran dan menyembulkan kepala dari dasar bak. Dia menangis dan menyesali usaha bunuh diri yang baru saja gagal. Nick menyurutkan niat untuk bunuh diri karena teringat orang tuanya. “Saya belum sempat berterima kasih pada ayah dan ibu, tapi sudah mau mengakhiri hidup. Itu adalah hal yang bodoh,” katanya. Dia berjuang mengatasi depresi lewat cara yang positif. Nick menekuni kegiatan menulis dan olahraga. Dia terus mengasah kemampuan bermain golf. Nick berani menjajaki bidang olahraga yang baru, selancar dan sepak bola.

Banyak yang meragukan kemampuan Nick. Namun,dia tetap bertahan, bahkan memperdalam bidang yang dia sukai. Nick kembali menghadapi kendala saat memasuki bangku kuliah. Dia ditolak sebuah sekolah hukum di Victoria. Alasannya, Nick adalah seorang penyandang cacat. Nick tentu sedih. Berhari-hari dia mengunci diri di kamar. Wajahnya selalu murung. Dia marah karena menerima penolakan yang besar. “Saya mungkin saja cacat secara fisik. Tapi, saya tidak cacat secara mental,” ujarnya. Butuh waktu berhari-hari bagi Nick untuk bangkit. Suatu hari dia mendapat informasi dari universitas yang pernah menolaknya. Ternyata peraturan universitas diubah sehingga Nick bisa belajar di tempat tersebut.

Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya hati Nick. Dia keluar kamar dan tersenyum kembali.Dia menjadi mahasiswa penyandang cacat pertama di tempat tersebut. Dia bisa menunjukkan bahwa penyandang cacat juga mampu.“Kami mampu melakukan banyak hal dengan keterbatasan yang kami punya,”tandasnya. Pada usia 21 tahun, Nick berhasil menyandang dua gelar sarjana sekaligus di bidang Financial Planning dan Real Estate. Kisah hidup Nick menjadi panutan bagi penyandang cacat di berbagai negara. Mereka meminta Nick menjadi pembicara seminar dan motivator. Nick tidak menolak kesempatan ini. Dia berkeliling dari satu negara ke negara lain. Dia berbicara di depan para penyandang cacat.

“ Saya ingin menularkan harapan pada mereka,”ucapnya. Nick sadar, tidak semua penyandang cacat bisa berkumpul bersama dan saling diskusi. Dia lantas membuat situs bertajuk attitudeisaltitude. com. Dia menyelipkan sebuah kalimat di halaman depan situs. Motivasi mungkin saja berlaku untuk sehari,tapi inspirasi bertahan hingga akhir hidupmu,” tulisnya. (anastasia ika)  http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/312135/

Iklan

3 thoughts on “Nick Vujicic : Menularkan Harapan Bagi Penyandang Cacat

  1. luar biasa sekali bro…
    tulisan ini membuat saya berpikir lagi, apa yang sudah saya capai dengan tubuh sempurna pemberian Tuhan ini…

    minta ijin nge-link ya bro, biar teman2 saya juga bisa baca…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s