BENCANA MEMBAWA BERKAT? (Mengenang 5 (Tahun Gempa Nias 28 Maret 2005)


“Mari mengambil waktu sejenak minimal 30 detik untuk bersaat teduh/hening,mengingat 5 tahun lalu akan terjadinya gempa dasyat yang menimpa Nias, 28 Maret 2005. Semoga keluarga yang menderita pada saat itu tetap dikuatkan oleh Tuhan sambil berharap kejadian itu tidak terulang kembali” (Status Pdt. Gustav G. Harefa di Facebook, Minggu, 28 Maret 2010).

Peristiwa 28 Maret 2010 Masih Kita Ingat?

Gereja BNKP Sogae'adu Pasca Gempa

Gereja BNKP Sogae'adu Pasca Gempa

Lima tahun yang lalu, gempa dasyat terjadi di Nias. Seiring dengan berjalannya waktu, peristiwa ini sepertinya mulai dilupakan orang bahkan mulai tidak menjadi bahan pembicaraan. Isu gempa 5 tahun lalu diganti dengan isu politik yang sedang marak ditambah dengan wabah penyakit rabies yang sekarang sedang melanda  Nias. Gereja-gereja juga mulai melupakan. Jika 1-3 tahun setelah gempa, masih ada kebaktian mengenang gempa tersebut, sekarang mulai jarang dilaksanakan. Jangan-jangan di kebaktian (yang kebetulan tahun ini tepat pada hari Minggu), peristiwa 5 tahun lalu itu tidak dibawa dalam salah satu topik doa syafaat?..

Bencana Yang Tak Terduga

Malam itu sekitar pukul 10.50 wib, disaat orang mulai menikmati istirahat malam yang panjang, tiba-tiba dikejutkan dengan bergoyangnya seluruh tanah. Pada awalnya pelan-pelan dan makin lama makin kuat. Akhirnya semua orang berteriak, “gempa! Gempa!, gempa!”. Serentak semua orang berusaha keluar dari rumahnya untuk menyelamatkan diri.  Bahkan lari ke tempat tinggi menghindari tsunami. Kemudian gempa berhenti. Seakan tidak percaya, mulailah keluar tangisan, jeritan minta tolong, berdoa, dan meratap melihat apa yang terjadi. Kurang lebih 13 ribu rumah baik permanen, semi permanen, kayu – apalagi, rusak (total, berat dan ringan). Rumah-rumah ibadah yang menurut keperyaan adalah tempat kediaman Tuhan dan tempat pertemuan umat dengan Tuhan, kurang lebih 1000 rusak juga. Korban mulai berjatuhan yang diperkirakan kurang lebih 1000 orang juga. Belum lagi yang luka berat dan ringan tertimpa reruntuhan rumah atau bangunan.

Kebaktian Pertama Pasca Gempa

Kebaktian Pertama Pasca Gempa

Saya yang pada saat itu melayani di Distrik Sogae’adu, seakan tidak percaya ketika Gereja yang begitu besar rusak berat. Dan dalam waktu kurang lebih 30 menit kemudian, ratusan orang dari arah bawah datang berlarian menuju lokasi sekitar gereja BNKP Sogae’adu yang letaknya berada di ketinggian (gunung). Ada yang menggendong anak, ada yang mengangkat kasur, bahkan ada yang membawa anak anjing. Pikir saya, “masih mengambil kesempatan juga pada saat genting begini dengan bawa anak anjing”.

Banyak warga dari berbagai denominasi gereja bahkan dari non Kristen mendatangi saya. Ada yang menangis, meratap, tersungkur sambil meminta doa pengampunan dosa. Bahkan ada yang berkata, “pak Pendeta, apa akhir zaman sudah mulai datang?”. Yang lain berkata, “pak Pendeta, dosa kita sudah besar sehingga Tuhan marah, sambil menangis”. Yang lain berkata, “pak Pendeta,  saya memiliki ilmu hitam, mohon didoakan saya agar diselamatkan Tuhan dan saya mau bertobat”. Ada juga yang berkata, “pak Pendeta, pimpin nyanyian buat kita”. Luar biasanya seorang non-Kristen meminta kepada saya untuk berdoa bagi semua orang yang ada di situ, sambil berkata, “pak Pendeta, tolong doakan kita semua termasuk kami sekeluarga. Saya yakin Pak Pendeta mau menerima permintaan saya!”. Suasana pada malam itu penuh doa, nyanyian disertai tangisan dan ratapan karena gempa susulan terus menerus berlangsung (data ada 98 kali gempa susulan malam itu). Saya yakin bapak ibu yang merasakan gempa, pasti memiliki pengalaman yang berbeda di daerah masing-masing

Perubahan Yang Bersifat Instan.

Kondisi Jemaat Pasca GempaDalam waktu sekejap semua orang mulai ingat Tuhan. Dimana-mana terjadi gerakan pemulihan iman baik melalui PA, KKR, ibadah kebersamaan, sampai kepada pelayanan pribadi. Tidak peduli tempat baik ditenda, dipinggir jalan, di pekan (harimbale), diadakan kebaktian. Setiap malam semua orang berkumpul untuk bernyanyi dan bergembira. Hari minggu, gereja hampir penuh dan yang jarang ke gereja mulai menampakkan diri. Orang-orang mulai dekat dengan Tuhan dengan setiap hari dan setiap saat berdoa, gereja yang biasanya setengah dan itupun hanya diisi dengan kaum perempuan, sekarang mulai penuh. Orang mulai sadar akan pentingnya Tuhan di dalam hidup mereka. Kerjasama dan solidaritas nampak. Tidak peduli golongan, status sosial dan denominasi gereja, saling membantu di antara satu dengan yang lain. Terjadi perdamaian di antara yang bertikai. Dan hamba-hamba Tuhan mulai didatangi warga Jemaat meminta pengampunan dari Tuhan.

Bantuan Datang : Berkat atau Bencana?

Namun perubahan ini berlangsung hanya sesaat, seiring dengan datangnya bantuan yang luar biasa (dari dalam terlebih dari luar negeri), munculnya krisis ekonomi dengan naiknya BBM, ditambah dengan mulai berkurangnya kekuatan gempa susulan, justru manusia mulai lupa dengan Tuhan dan lebih mementingkan kenikmatan duniawi. Sehingga dimana-mana, kedamaian sesaat berubah menjadi pertikaian yang lebih hebat dengan bertengkar memperebutkan bantuan. Orang mulai melupakan doa dengan lebih mengedepankan bantuan. Setiap kegiatan yang dilakukan baik pemerintah maupun agama dipertanyakan dulu, “apa ada bantuan atau tidak?”. Orang juga tidak segan “menipu” dengan melaporkan kerusakan yang dialaminya pada saat gempa. Rumah yang sudah bagus, sedikit dirusak agar ada bantuan. Dari yang tidak ada korban memberitakan bahwa ada korbqan. Intinya, manipulasi data terjadi! Selain itu warga mulai melihat ”merk gereja” yang bisa menawarkan dan memberikan kebutuhan kepada mereka dengan tidak segan-segan ”membaptis ulang kembali dirinya”. Hal ini juga dimanfaatkan oleh oknum hamba Tuhan tertentu dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidak jarang bantuan ke gereja dijadikan menjadi bantuan pribadi. Bahkan ada yang mengatasnamakan bantuan gereja untuk pribadi. Sehinga ada satu dua orang hamba Tuhan yang menikmati hasil gempa diatas penderitaan umat. Tidak jarang kita melihat gereja diukur dari ada atau tidaknya bantuan. Sehingga mulai bermunculan denominasi baru meski hanya terdiri dari 3-5 keluarga. Yang penting bantuan ada![1].

Berdoa Bersama Jemaat Dekat Puing Gereja Selain itu, akibat dari kenikmatan akibat bantuan yang datang silih berganti, keegoisan mulai muncul. Sehingga manusia hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan sesamanya yang lebih membutuhkan. Akibatnya, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Masyarakat juga mulai terlena dengan mulai ada yang malas bekerja, sehingga ketika bantuan selesai (termasuk berakhirnya masa BRR 2009 yang lalu), sekarang dirinya tinggal ”gigit jari” mengharapkan bantuan turun dari langit. Sehingga ketika dia mengalami jalan buntu, yang terjadi dengan tidak melihat dan mendengar kata hati, dia mengambil barang dan milik orang lain.

Dengan semua fenomena di atas, dalam hal ini kadang-kadang saya berpikir, ah, lebih baik Tuhan terus memberikan bencana, agar manusia semakin menyadari siapa dirinya dan semakin mencari Tuhan”. Tapi, kalau ini terjadi, sepertinya Tuhan itu kejam juga ya!. Padahal Dia adalah Maha Kasih dan Maha Pengampun. Atau karena manusia sendiri yang ”tidak tahu diri” dan ”tidak tahu berterimakasih” atas apa yang telah diterimanya?. Saya juga kurang tahu!. Lebih baik ”Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang,” kata Ebit G. Ade dalam salah satu syair lagunya.

Menatap Masa Depan Yang Lebih Baik!

Lima tahun telah berlalu. Pulau Nias yang kita cintai mengalami banyak perubahan yang positif. Semua ini karena kasih setia Tuhan. Sama halnya ketika orang Israel menerima tekanan di Mesir, Tuhan datang dengan mengutus Musa sambil berkata seperti dalam Kejadian 3:7 “Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka”. Telah lama Nias seperti “kurang diperhatikan, dipedulikan dan terabaikan”. Ditambah dengan gempa yang dasyat, lengkaplah penderitaan kita. Namun Tuhan mendengar penderitaan kita. Melalui tangan-tangan pemerintah dan donatur yang tidak ada ikatan hubungan darah bagi kita, mereka peduli dan membangun Nias. Dimana-mana pembangunan berjalan. Dari yang dulu daerah terpencil dan terisolir sulit dijangkau, sekarang terbuka dengan pembangunan jalan yang bagus. Pembangunan di segala bidang baik pendidikan, kesehatan, dll digalakkan. Sekolah dan Puskesmas (bahkan Rumah Sakit) yang dulunya hanya semi permanen sekarang sudah berdiri dengan mewah dan tentu dengan fasilitas yang baik. Anak-anak kurang mampu dan berprestasi disekolahkan. Bahkan pegawai pemerintah juga ditingkatkan pendidikannya demi membangun Nias kelak. Tekhnologi yang berkembang di daerah perkotaan, berkembang pesat di tengah masyarakat Nias seperti internet. Ini semua adalah anugerah yang luar biasa.

Persoalan sekarang adalah apakah ada niat kita untuk merawat semua yang telah ada?. Adakah kita mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan?. Adakah kita memanfaatkan semua fasilitas yang ada untuk kepentingan bersama?. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita bersama untuk bergandengan tangan menatap masa depan dengan memiliki beberapa prinsip:

Pertama, peristiwa gempa 5 (lima) tahun lalu kita jadikan sebagai landasan dasar  untuk “tobat nasional” di Nias di segala bidang.

Kedua, apa yang kita alami dan rasakan kita jadikan sebagai anugerah Tuhan yang tak terhingga. Melalui gempa kita sadar bahwa Tuhan ada dan setia menolong kita.

Ketiga, semua pihak bergandengan tangan dengan tidak melihat golongan, strata sosial untuk membangun Nias. Kerjasama pemerintah dengan agama juga perlu ditingkatkan.

Keempat, memanfaatkan semua potensi yang kita miliki untuk membangun Nias dan menjadi berkat bagi orang lain.

Kelima, menghilangkan sikap bergantung kepada orang lain. Mari kita memanfaatkan semua  kekuatan yang kita miliki demi masa depan yang lebih baik. Sehingga ungkapan “hidup dari meminta-minta” dapat dihilangkan.

Keenam, berdoa dan bekerja. Selalu meminta pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita dan bekerja demi kebutuhan kita sekaligus menjadi berkat bagi orang lain.

Tuhan tidak akan meninggalkan kita dan harapan yang diberikan kepada kita adalah masa depan yang cemerlang seperti dikatakan dalam Amsal 23:18 “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”.


[1]. Gustav G. Harefa (ed), Natal Diantara Keprihatinan Sosial dan Pembaruan Gereja, (Sogae’adu:Komisi Pemuda BNKP Sogae’adu), 2005. Buku ini adalah kumpulan tulisan dari pemuda BNKP Sogaeadu tentang fenomena gempa 25 Maret 2005 dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat (termasuk warga gereja).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s