PASKAH : ANUGERAH TUHAN KEPADA MANUSIA


Saya teringat dengan sebuah ilustrasi khotbah seorang Pendeta dalam salah satu kebaktian Minggu. Kisahnya begini, “Ada sekelompok anak kecil yang selalu mandi disebuah sungai sekitar 500 meter dari sebuah perkampungan. Sungai ini tenang,  namun membahayakan karena ada buaya di dalamnya. Buaya ini tanpa diduga-duga akan keluar untuk mencari mangsa tanpa terkecuali termasuk manusia. Sebenarnya para orangtua sudah seringsekali menegur anak-anak mereka agar jangan bermain di sungai itu. Ya, namanya juga anak-anak sebelum terjadi sesuatu tidak mau mendengarkan. Suatu hari seorang anak tiba-tiba bermain lebih ke tengah sungai. Teman-temannya yang lain mengingatkan agar jangan jauh, namun anak ini tidak peduli. Tanpa diduga, buaya muncul dan mengejar anak ini. Sontak saja, anak ini jadi kaget ketakutan!. Dia berusaha berenang ke tepian sambil menjerit minta tolong. Teman-teman yang lain juga ketakutan dan meninggalkan dirinya. Untung saja rumah anak ini dekat dengan sungai sehingga segera dikabari kepada orangtuanya. Mendengar berita ini, sang ayah anak ini langsung berlari kencang menuju arah sungai. Ketika tiba di sungai, dia melihat buaya tersebut hampir memakan anaknya. Untuk itu tanpa pikir panjang si ayah segera turun ke sungai dan berusaha menyelamatkan anaknya. Sang ayah berusaha melawan buaya demi keselamatan anaknya. Sang anak selamat namun sayang sekali sang ayah luka-luka bahkan salah satu kakinya digigit buaya. Kemudian datang penduduk yang lain untuk menyelamatkan mereka. Anak ini baru menyesal sambil memeluk ayahnya yang sudah sekarat”. Kisah di atas menceritakan bagaimanapun “jahatnya” sang anak karena tidak pernah memperdulikan nasehat sang ayah, namun sang ayah tetap mengasihi dia bahkan rela berkorban untuk keselamatan anaknya.

Peristiwa ini juga mengingatkan kita akan kisah Yesus Kristus kurang lebih 2000 tahun yang lalu, yang rela menderita, disalibkan dan pada akhirnya mati demi dosa-dosa manusia. Dalam kesaksian Alkitab, dikisahkan bagaimana manusia ketika itu sudah tidak peduli dengan Tuhan. Mereka mencari ilah lain yang menurut mereka dapat memberi keselamatan. Tuhan juga tetap sayang dengan menegur sambil memanggil mereka untuk kembali kepada-Nya. Dia mengirim Nabi-Nabi-Nya seperti Elia, Elisa, Yesaya, Yeremia, Hosea, Amos, dll agar mereka kembali. Namun sering tidak dipedulikan. Itulah sebabnya Yesaya memberikan kesaksian dalam “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yes. 59:1-2).

Namun, kasih setia Tuhan itu tetap selama-lamanya. Puncaknya ketika Tuhan yang telah menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus, rela menderita sampai mati dikayu salib hanya untuk dosa-dosa manusia. Yesus seperti “sang ayah” yang rela meninggalkan ke-Tuhan-an-Nya, dengan menjadi korban bagi dosa manusia. Lebih lanjut Yesaya menceritakan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus demi menyelamatkan kita umat manusia. “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. (Yesaya 53:3-6)

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Yesus ketika itu, sampai-sampai di ketika Dia berdoa di Taman Getsemani sebelum ditanggap, Yesus mengalami ketakutan Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk. 22:44). Bahkan Dia meminta kepada Tuhan di dalam doa “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk. 22:42). Suatu permintaan yang berat, tetapi akhirnya Yesus tetap kembali kepada kehendak Tuhan. Yesus percaya bahwa dengan pengorbanan-Nya menjadi alat pendamaian antara Tuhan (Diri-Nya sendiri) dengan umat manusia. Paulus juga memberi kesaksian akan hal ini di dalam Roma 3:25 “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya”.

Disinilah tindakan SOLIDARITAS Tuhan kepada manusia. Dia melakukan semuanya itu karena kasih karunia dan anugerah semata (Roma 3:24 – Sola Gratia kata Martin Luther). Ketika orang Yahudi memperingati Paskah sebagai tanda bahwa mereka keluar dari perbudakan di Mesir, maka Paskah oleh kematian Kristus menjadi tanda bahwa manusia dibebaskan dari perbudakan dosa. Tuhan tidak ingin anak-anak yang dikasihinya tetap bergumul di dalam dosa. Dia ingin menyelamatkan dan memberikan kehidupan yang baru. Persoalan apa jawaban dari kita?. Matius  16:24 dikatakan “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. PERTOBATAN, PENYERAHAN DIRI SERTA BERIMAN kepada Tuhan Yesus akan membawa kepada keselamatan.

Kita akan mengingat peristiwa 2000 tahun yang lalu itu. Kesan menunjukkan hingar-bingar Natal lebih hebat dari Paskah. Pada saat Natal hiasan, nyanyian dan seluruh pernak-pernik natal bermunculan  dan bergema di seluruh pelosok dunia. Namun gema Paskah sangat kurang. Hal ini disebkan ada kesan bahwa Paskah adalah waktu dukacita mengenang kematian Yesus. Padahal sebenarnya Paskah adalah waktu anugerah Tuhan di dalam kehidupan manusia. Untuk itu kita semua perlu mengucap syukur (ekaristi), seraya mengoreksi diri sambil berharap keselamatan ada di dalam diri kita oleh anugerah Tuhan melalui kematian Yesus yang tak terhingga itu. Selamat Paskah! Selamat Paskah! Selamat Paskah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s