BANGKIT BERSAMA KRISTUS (Releksi Paskah Berdasarkan I Korintus 15:14-15)[1]


“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus — padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan”. (I Korintus 15:14-15)

Dibandingkan dengan Natal, Paskah sepertinya dirayakan oleh umat Kristen khususnya di Indonesia dalam kondisi yang adem ayem saja. Jika Natal sibuk dengan pernak-pernik-nya (kue, hiasan, nyanyian, kartu, dll), kalau Paskah paling-paling cukup dengan kebaktian saja. Padahal sebenarnya Paskah memiliki nilai yang sangat penting dibadnging Natal. Pada saat Paskah (melalui kematian dan kebangkitan Yesus) adalah puncak dari karya penyelamatan Tuhan atas umat manusia. Paskah juga menjadi moment yang penting dalam kehidupan kekristenan karena dengan kebangkitan Yesus, kuasa kegelapan dipatahkan. Dalam kehidupan bergereja juga, dengan kebangkitan Kristus  sebagai awal kita beribadah pada hari Minggu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata bangkit biasanya digunakan dalam berbagai dinamika kehidupan manusia. Beberapa diantaranya adalah pertama, bangkit dari tidur. Biasanya ketika kita tidur dan bangun, maka tanda-tanda bahwa kita masih hidup ya…tentu saja kita bangun, minimal membuka mata. Karena jika demikian, maka kita bisa ”lupa bernafas” (kecuali yang sakit dan tidak bisa bangkit dari tempat berbaring). Kedua,bangkit dari kegagalan atau dukacita. Dalam hal ini ketika kita menghadapi kekecewaan dalam kehidupan, kegagalan dalam usaha atau studi, atau juga dukacita (kita kehilangan orang yang dicintai), demi memulihkan kembali kehidupan kita, maka kita mesti bangkit. Namun ini adalah satu proses yang terus berjalan. Ketiga, ada ajakan untuk bangkit. Mis. Dalam sebuah acara atau kegiatan termasuk dalam ibadah, maka ada kalanya kita diajak bangkit berdiri. Namun anehnya, saya sering melihat dan menemukan dalam sebuah acara, ketika diajak berdiri, tidak mau berdiri; namun ketika diajak duduk..eh..eh..malah berdiri atau pergi keluar masuk. Wah…saya hampir tidak habis pikir.

Namun dalam teks yang kita renungkan ini, justru ada satu kebangkitan yang lain dari pada yang lain, yaitu kita diajak Paulus agar ”bangkit bersama Kristus”. Wah…ini luar biasa. Bagaimana mungkin orang yang meninggal, bangkit kembali!. Saya tidak tahu, bagaimana kesan anda, ketika ada keluarga kita (mis, kakek, nenek, bapak, mama, atau saudara kita), yang telah duluan meninggal. Tetapi tiba-tiba beberapa waktu kemudian, pada pagi hari mis. Ada yang mengetok pintu rumah, dan ketika kita buka maka yang ada di depan kita adalah kakek kita yang telah meninggal. Dan dengan senyum basi menyapa kita, ”selamat pagi, cucuku!”. Apa kira-kira yang terjadi dengan kita?. Bisa saja langkah pertama yang kita lakukan adalah jatuh pingsan!. Atau langkah kedua, menjerit dan mengatakan ”setan..setan..”!. Atau langkah yang lain, kita menutup pintu, lalu lari ke kamar, atau ke tempat lain. Apa sebabnya?. Oleh karena sepanjang sejarah manusia tidak ada orang yang meninggal dapat hidup kembali.

Tetapi terkecuali dengan Yesus Kristus. Dia adalah manusia yang telah mati, tetapi bangkit kembali. Hal ini juga menunjukkan keilahian-Nya. Kebangkitan-Nya juga membuktikan bahwa maut berada di bawah kuasa-Nya (I Kor. 15:55-57). Selain daripada itu, kebangkitan-Nya juga membawa satu jalan pendamaian antara Tuhan dengan manusia. Manusia yang selama ini telah berdosa dengan Tuhan dan meninggalkan Tuhan, sekarang terpanggil kembali menjadi anak-Nya. Kebangkitan-Nya juga telah menjadi kesaksian yang hidup bagi diri setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Paulus dalam teks ini, mengingatkan bahwa seandainya Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami (Paulus dan teman sepelayanannya). Dalam hal ini, dasar dari segala pemberitaan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Paulus adalah berdasar kepada kebangkitan Kristus itu sendiri. Dalam arti ketika Yesus bangkita dan naik ke Surga, maka tugas dan tanggungjawab dalam meneruskan kabar Kerajaan Allah adalah dibebankan kepada murid-murid-Nya dan juga Paulus (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8). Hal ini juga untuk mempersiapkan semua umat percaya, dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Selain daripada itu, Paulus juga mengingatkan bahwa dengan kebangkitan Kristus maka iman dan kepercayaan kita kepada Kristus juga tidak sia-sia.

Bagaimana kita menyambut kebangkitan-Nya. Pertama, tentu mulai dari diri kita sendiri yang membuat diri kita bangkit dari kemalasan, kebodohan dan kesia-siaan hidup. Tidak mungkin orang membangungkan diri kita dan mengangkat diri kita dalam usaha dan kerja kita. Kita sendiri yang berusaha untuk itu. Kedua, berjalan bersama Kristus. Kristus adalah panduan kehidupan kita. Dia telah rela mati demi kita. Itu dibayar sangat mahal dengan darah-Nya. Jawaban dari kita adalah hidup berjalan bersama Dia. Terakhir yang ketiga, menjadi saksi Kristus. Kalimat Yesus terakhir sebelum Dia terangkat di Surga adalah mengajak murid-murid-Nya menjadi saksi-Nya diseluruh dunia. Sekarang juga kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dalam sikap, tindakan dan perbuatan kita (I Tim. 4:12). Amin.


[1]. Renungan ini sebagian besar disampaikan pada kebaktian Paskah Jemaat BNKP Tangerang, 04 April 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s