CUKUPKANLAH DIRIMU DENGAN APA YANG ADA PADAMU


Saya jadi teringat dengan satu kisah dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu masih Sekolah Dasar (SD). Kisahnya sebagai berikut:

“Konon, di sebuah desa ada seorang janda yang miskin hidup bersama seorang anaknya yang berusia kurang lebih 10 tahun. Mereka telah bersusah payah mencari nafkah, bekerja keras sepanjang hari mengumpulkan kayu bakar dihutan untuk dijual, namun hidup mereka tetap susah. Apa yang mereka dapatkan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun dibalik kemiskinan yang melanda keluarga janda miskin ini, setiap malam mereka selalu berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam doa selalu meminta kekuatan dan rejeki untuk hari berikutnya. Di lain pihak, ada tetangga mereka yang sangat kaya raya dengan hidup berkelimpahan. Mereka tidak peduli dengan kehidupan keluarga janda yang miskin ini. Mereka sombong dengan apa yang telah mereka miliki. Padahal itu semua juga sebagian didapat dengan merampas hak milik orang lain karena kekuasaan yang dimiliki.

Suatu malam, ketika janda miskin dan anaknya sedang berdoa, tiba-tiba si kaya naik ke atap rumah janda miskin ini sambil membuka sebagian atapnya yang terbuat dari daun rumbia. Kemudian dia melemparkan ke bawah sebuah karung yang berisi potongan kayu, kaca, dan barang-barang tidak berguna lainnya. Sambil tersenyum sinis, si kaya ini berkata, “ini harta yang kalian minta. Tuhan mengabulkan doa kalian!”. Lalu dijatuhkanny karung tersebut yang beratnya kira-kira 15 kg. Karung itu tepat jatuh didepan janda miskin ini. Segera setelah mereka buka, ternyata di dalamnya bukan potongan benda bekas melainkan emas yang banyak. Seketika mereka mengucap syukur kepada Tuhan. Si kaya yang melihat dari atas terkejut dan terheran-heran melihatnya.

Singkat cerita janda miskin menjadi kaya, namun tetap rendah hati dan selalu bersyukur kepada Tuhan. Juga mau menolong orang lain. Melihat ini, sikaya iri dan  mengajak istrinya untuk berdoa juga seperti si janda miskin dan menyuruh seorang bawahannya untuk melemparkan banyak karung ke bawah ketika mereka berdoa. Ketika mereka berdoa pada suatu malam, pegawai mereka tersebut melemparkan semua karung yang berisi benda-benda yang berat ke bawah. Sayangnya karena tidak memperhatikan, karung-karung tersebut jatuh menimpa si kaya dan istrinya. Sehingga tangan dan kaki mereka patah. Akhirnya kekayaan mereka habis untuk berobat dan mereka jatuh miskin”

Saudaraku yang kekasih,

Kisah di atas juga mengingatkan diri kita untuk selalu mencukupkan diri seraya selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita. Tapi anehnya yang terjadi sekarang ini kadang-kadang hidup kita dilingkupi dengan perasaan “selalu kurang puas”. Inilah salah satu penyakit yang selalu ada dalam diri manusia, “kurang puas”. Orang sudah memiliki wajah yang cantik dan ganteng, namun masih berusaha bagaimana caranya agar makin cantik dan ganteng dengan berobat dimana-mana. Sudah memiliki kekayaan dan pekerjaan yang baik dan cukup, masih kurang sehingga mencari…mencari dan mencari lagi dengan menghalalkan segala cara termasuk mengkhianati teman atau saudara. Bahkan tidak jarang sudah punya keluarga yang baik, masih mau “mencari yang lain”.

Kita belajar dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini di negeri yang kita cintai dengan begitu maraknya makelar kasus pajak, korupsi dan ketidakadilan dimana-mana. Sudah punya kekayaan, masih kurang sehingga mengorbankan harga diri dan melakukan tindakan yang tidak baik.

Kenapa semua ini bisa terjadi?. Menurut saya yang pertama, kembali dengan apa yang saya katakan tadi di atas kurang puas dengan apa yang dimiliki. Ingin rasanya memiliki segala sesuatunya. Padahal semuanya itu tidak akan kita bawa pada saat kematian. Semua harta didunia ini akan ditinggalkan, hanya iman dan jiwa kita yang kembali kepada sang pencipta.  Kedua, ada perasaan iri hati. Orang biasanya tidak senang melihat kebahagiaan orang lain. Ketika orang lain hidup mapan, ingin rasanya kita seperti begitu. Tetangga memiliki rumah mewah, kita juga ikut-ikutan meskipun ngutang kesana kemari. Tetangga memiliki fasilitas mewah, kita juga mau dengan mengambil kredit di Bank dll. Pokoknya ikut-ikutanlah…he..he..Ketiga, gaya hidup mewah. Saya teringat dengan perkataan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat di Kompas, 05 April 2010 yang lalu bahwa “maraknya korupsi dan suap karena gaya hidup mewah para pejabat sulit dihilangkan”. Saya rasa bukan hanya pejabat tapi juga masyarakat. Saya teringat ketika studi di luar. Kebanyakan orang yang kita lihat hidup mapan, justru mereka hidup sederhana. Mereka lebih senang naik kereta dibanding mobil. Pakaian dan penampilan biasa saja. Padahal kekayaan mereka luar biasa. Keempat, gengsi dan harga diri. Ada kesan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, martabat seseorang ditentukan dengan “ke-berada-an” atau status ekonomi dibanding dengan integritas dan karakter yang baik. Artinya ketika dia memiliki hidup yang mapan dan berkelimpahan, maka sangat dipandang dan dihargai orang, tetapi jika hidupnya biasa, meskipun baik maka orang juga melihatnya biasa-biasa saja…Dengan demikian orang berusaha membuat dirinya bergengsi meskipun hidupnya pas-pasan. Beberapa tahun yang lalu, saya jadi teringat dengan seorang pejabat yang baru dilantik di salah satu daerah membeli mobil baru (dengan kredit). Padahal sebelumnya naik motor. Iseng-iseng saya tanyakan, “ini mobil dinas ya pak”. Saya tidak tahu apa dia menjawab dengan sadar atau tidak, tiba-tiba keluar ucapan, “bagaimanalah pak Pendeta, saya malu dengan teman-teman yang lain. Masak saya naik motor sementara mereka semua naik mobil” dalam hati saya berkata “oh..gitu toh!” he..he... Keempat, kurang bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan. Apa yang diberikan Tuhan jika kita bersyukur kita akan bahagia.

Saudaraku yang kekasih…

Penulis Ibrani mengingatkan kita “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Hal ini menunjukkan bahwa apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita, mari kita jaga, pelihara dan kita pakai untuk kebahagiaan diri kita dan kita kembalikan menjadi kemuliaan bagi nama-Nya. Untuk itu juga kita jangan merasa malu dengan apa yang kita miliki. Tuhan telah memberi akal, tenaga, kekuatan untuk kita pakai dalam bekerja dan mencari kebutuhan hidup. Ketika kita melakukan dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan memberikan kebutuhan yang kita inginkan sesuai dengan janji-Nya tidak akan meninggalkan kita. Untuk itu bagi yang sudah memiliki kita pakai untuk kebahagiaan kita, berbagi berkat bagi orang lain dan untuk kemuliaan Tuhan. Apa yang kita sudah miliki adalah berkat bagi kita. Mari kita memeliharanya dengan baik. Bagi yang kurang, bersyukurlah dan berusahalah dengan memakai karunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita. I Yohanes  3:22 “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

Persoalannya sekarang adalah apakah kita mau mencukupkan diri?. Apakah kita bisa terlepas dari budaya di atas (kurang puas, iri hati, gaya hidup mewah, dll)?. Apakah kita sanggup bersyukur ditengah-tengah kekurangan yang kita jalani?. Yang menjawab ya diri kita masing-masing. Selamat beraktivitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s