Marco,Genius Microsoft Termuda


Tuesday, 18 May 2010, Seputar Indonesia, hlm. 9 – internasional

SKOPJE(SI) – Marco Calasan merupakan pakar sistem Microsoft termuda di dunia.Dia memegang empat sertifikat Microsoft dan telah menulis satu buku setebal 312 halaman tentang Microsoft’s Windows 7.

Mural aneka warna menghias dinding sekolah umum Blaze Koneski di Makedonia.Para seniman grafiti menorehkan karya mereka di seluruh bagian sekolah. Terali besi tampak terpasang di seluruh jendela. Sedangkan gedung sekolah itu sendiri tampak tak terawat dan bobrok dimakan waktu. Di sanalah CNNmewawancarai “anak ajaib” tersebut untuk acara I-List Macedonia. Saat memasuki ruang kelas,seorang anak muda dengan senyuman hangat mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Bocah berambut hitam keriting panjang sebahu yang diikat ke belakang berbentuk ekor kuda itu baru berusia sembilan tahun.Hebatnya, dialah sang genius komputer.

Marco lantas membawa wartawan CNN menuju ke laboratorium komputer milik sekolah yang telah menjadi rumah keduanya. Marco tinggal di rumah yang letaknya di seberang jalan dekat sekolah. Namun, bocah itu lebih banyak menghabiskan waktunya di laboratorium sekolah setiap hari.Lebih tepatnya, setelah bel sekolah berbunyi tanda pelajaran sudah selesai, dia langsung menuju ke laboratorium komputer tersebut. Saat ditanya mengapa dia sangat mencintai komputer, Marco menjawab dengan bijak,“Dengan pengetahuan, semuanya jadi mungkin”. Dia lantas menjelaskan secara detail mengenai IPTV, sistem jaringan pengiriman content yang diciptakan semuanya oleh Marco seorang.

Dengan suara yang manis dan tanpa berpikir lama, Marco menjelaskan bagaimana dia mengirimkan video kualitas tinggi melintasi Makedonia, bahkan menyediakan layanan untuk pemerintah di sana. Melalui percakapan itu, kata ”Microsoft” selalu menghujani setiap kalimat. Jelas bahwa anak ini sangat terobsesi dengan ciptaan Bill Gates tersebut. Dan jika Anda mengira bahwa keahliannya yang mengesankan di usia semuda itu akan dewasa sebelum waktunya,Anda salah.Marco sepenuhnya seperti sosok bocah seusianya. Dia rendah hati, bersahabat, dan sangat sabar saat wartawan memintanya untuk mengulangi atau menjelaskan kembali jargonjargon komputer yang beterbangan di atas kepala pendengarnya. Saat ditanya apakah dia merasa dirinya spesial dan berbakat, Marco mengatakan bahwa dia hanyalah anak-anak sebagaimana apa adanya.

Marco mengaku melupakan semua pengetahuan rumit di kepalanya saat bermain bersama teman-temannya. Kendati demikian, tetap saja Marco bukan anak sembarangan, meski normal.Dia mampu berbicara tiga bahasa dan sedang mempelajari bahasa asing keempat. Meskipun bahasa Inggris bukan bahasa ibunya,tapi penguasaan bahasa dan perbendaharaan katanya sangat luar biasa. Dengan detail yang terbatas, dia menjelaskan seluk beluk sistem komputer dan kurikulum yang diajarkannya pada teman sebaya serta orang yang lebih tua darinya. Yang mengejutkan, dia mengajari guru-gurunya juga. Bulan ini,dia pergi ke Montenegro di mana pemerintah memintanya memaparkan tentang sistem IPTV yang dibuatnya.

Memang, fungsi otak Marco sangat luar biasa. Professor Elena Achkovska- Leshkovska di Institute of Psychology, Skopje, pernah menguji Marco saat dia berusia tujuh tahun.Elena menemukan bahwa otak Marco bekerja seperti otak anak-anak berusia di atas 12 tahun. Hal yang lebih mengherankan adalah dia memiliki kemampuan sosial dan kecerdasan emosional yang sangat tinggi pula. Itu tidak biasa ditemukan pada anak-anak ajaib lainnya. Saat Marco bercakap-cakap dengan timnya, ibunya,Radica, berdiri dengan bangga di belakang. Dengan rambut hitam panjang, langsing, dan wajah penuh senyum, ibu muda yang cantik ini memperhatikan saat putranya membuat terpesona seluruh orang di ruang komputer.

Ikatan keluarga yang sangat dekat ini mereka gambarkan sebagai sahabat terbaik. Radica bekerja tujuh hari sepekan untuk mengelola bisnis komputer demi memenuhi kebutuhan seharihari. Pendapatan yang dia peroleh dari bisnis itu setiap sennya dia anggarkan ke Marco dan pendidikannya nanti. Bulan lalu, Radica sangat khawatir saat didiagnosa menderita kanker payudara.Dia menginap sepekan di rumah sakit untuk menjalani operasi pemindahan tumor.Saat Radica tiba di rumah,Marco telah mencetak lebih dari 200 halaman informasimengenaiperawatankanker payudara dan apa yang harus dimakan ibunya agar sembuh total. Para dokter menganjurkan Radica untuk menjalani kemoterapi, tapi dia ragu melakukannya karena khawatir sisa uangnya tidak cukup untuk merawat anak kesayangannya.

Kekhawatiran Radica lainnya terkait masa depan Marco. Radica sadar bahwa Marco memerlukan peluang.Dan sistem pendidikan yang mampu memenuhinya hanyalah sekolah di luar negeri yang sangat mahal.Sesuatu yang tidak dapat dijangkau Radica. Kendati banyak penghalang dan tantangan yang menunggu mereka berdua, ketenangan dan optimisme tampak di wajah bocah kecil dan ibunya itu. Mereka memandang wartawan yang keluar meninggalkan sekolah dan mengamati hingga wartawan pergi. Lengan Radica merangkul putra ajaibnya. (CNN/syarifudin)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/325221/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s