Potret Balita Gizi Buruk di Nias Utara


Ari Saputra – detikNews, Sabtu, 22/05/2010 14:34 WIB

Julianus
Julianus

Jakarta – Julianus (5) tergolek di tempat tidur kayu. Tubuhnya kurus, berat badannya tidak sesehat anak-anak seusianya, hanya sekitar 11 kg. Di kening Julianus terlihat bekas bisul yang baru saja memecah. Ia merupakan penderita gizi buruk plus pasien kaki berbentuk X.

“Ini anak saya ketiga. Saya beri makan umbi-umbian. Kalau ada uang, beli ikan asin dan beras. Duit sebagai buruh penyadap karet tidak bisa beli lauk,” ucap Rahmat (33) orangtua Julianus di rumahnya, Desa Sisarahili, Kecamatan Namohalu, Nias Utara, Sumatera Utara, Rabu (19/5/2010) lalu.

Keluarga miskin itu hidup di rumah yang sangat sederhana. Dinding rumah terbuat dari kayu dengan ukuran hanya 3×4 meter. Di rumah itu terdapat 2 dipan (tempat tidur) kayu tanpa kasur dengan ukuran kecil dan besar.

Selebihnya, di dalam rumah tersebut, terdapat lemari untuk pakaian dan tungku kayu serta gerabah seadanya untuk memasak, ketel untuk menanak nasi dan air, penggorengan, dan beberapa gelintir piring. Tidak ada radio, televisi atau hal-hal lain seperti rumah pada umumnya. Atap rumah pun sudah bolong di sana-sini. Bila hujan, air bercucuran dari atap seng. Satu-satunya barang berharga yang dimiliki keluarga itu adalah sepasang babi yang dipelihara di belakang rumah, berhimpitan dengan dinding kayu. Saat detikcom melihat langsung kondisi rumah Julianus, babi-babi itu menggerok mencari makan. “Saya sehari-hari menyadap karet milik orang. Tiap minggu dijual ke truk yang datang. Dapat duit Rp 75 ribu untuk makan seminggu. Kalau kurang, ngutang dulu ke warung,” imbuh Rahmat.

Untuk memperbaiki gizi anaknya, setiap Kamis Rahmat membawa Julianus untuk mendatangi gereja dekat rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter. Julianus bersama ratusan balita lain memperoleh makanan tambahan dari salah satu LSM di salah satu gereja. Menu yang didapat Julian dan anak lainnya selalu berganti-ganti seperti nasi goreng ayam, sop ikan, gulai, telor rebus, dan mie goreng. Makanan besar itu ditutup dengan sajian buah dan susu serta snack. “Dari menu itu, yang paling disuka anak-anak yakni nasi goreng dan opor ayam. Anak-anak berkumpul sejak pagi karena itu kami datang sekitar pukul 11.00 WIB,” ucap Benard Silalahi, seorang relawan dari Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI). Julianus hanya satu dari ratusan balita berstatus gizi buruk. Menurut data OBI, sedikitnya 281 bayi-bayi itu harus menanggung derita kekurangan gizi. Selain gizi buruk, penyakit yang menyertai balita itu seperti katarak, busung lapar, anemia, hernia atau diare.

Pihak Pemkab Nias Utara sudah terlanjur pesimistis mengangkat wilayahnya dari keterpurukan. Pemerintah lokal hanya mengandalkan bantuan LSM atau pihak swasta dalam menangani minimnya kesehatan warga dan kemiskinan. “Terus terang, Pemda merasa tidak mampu untuk melakukan apa yang dilakukan OBI yaitu perawatan terus menerus dan pengobatan gratis. Kalau ditemukan anak-anak gizi buruk bisa diantarkan ke Balai Pemulihan Gizi (dikelola OBI-red). Kalau sudah membaik, baru ke puskesmas pemerintah,” ucap Asisten II Bidang Administrasi Umum Bupati Nias Utara, Edward Zega saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (21/5/2010) lalu. (Ari/nik)

One thought on “Potret Balita Gizi Buruk di Nias Utara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s