Nias Dilanda Gizi Buruk


Monday, 24 May 2010, Seputar Indonesia, hlm. 3

NIAS (SI) – Ratusan bayi berusia di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Nias, Sumatera Utara, ditemukan menderita gizi buruk atau busung lapar.

Dokter perawat di Balai Pemulihan Gizi, Kabupaten Nias, Anastanasia Caren mengatakan, penderita gizi buruk ini terkait erat persoalan ekonomi.“Persoalan ekonomi dan keterbatasan pengetahuan orang tua menjadi alasan utama terjangkitnya gizi buruk. Mereka lebih fokus pada pekerjaan sehingga lupa memperhatikan gizi anak-anaknya. Kalau ini terus dibiarkan akan terus bertambah,” tegas Anastanasia di Nias, Kamis (20/5). Menurut dia, saat ini Balai Pemulihan Gizi sedang menangani 82 anak penderita gizi buruk. Namun, jumlah ini hanya sebagian kecil yang tertangani dari ribuan penderita gizi buruk yang tersebar di seluruh Nias.“Kondisi mereka sangat memprihatinkan dan sulit terjangkau karena berada di wilayah yang terisolir,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, Nazara Harefa mengaku, ratusan balita di wilayahnya terjangkit gizi buruk.Namun, dia juga menyatakan sudah berupaya memperbaiki kondisi ini. Salah satunya dengan pemberian makanan bergizi kepada para penderita.“Kita akui, pemberian makanan kurang maksimal karena hanya sekali dan setelah pulang ke rumah tidak ada lagi. Di samping kesadaran masyarakat yang rendah,” ungkap Nazara. Parahnya lagi, APBD 2010 Pemerintah Kabupaten Nias belum mengalokasikan dana untuk penanganan gizi buruk. “Anggaran sangat terbatas, jadi tidak ada alokasi untuk itu. Alokasi untuk pegawai yang lebih diprioritaskan,” jelasnya.

Asisten II Bidang Administrasi Umum Bupati Nias Utara, Edward Zega menyatakan, kondisi dan jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Nias dari tahun ke tahun belum mengalami penurunan. Bahkan, dari jumlah penduduk Nias berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nias 2007, dari 442.548 jiwa atau 85.361 kepala keluarga, mayoritas balitanya masih mengalami gizi buruk. “Sebagai kabupaten baru (diresmikan 26 Mei 2009), kami memiliki banyak persoalan, sangat terbelakang dan tertinggal dari daerah yang lain,” ujarnya.

Hal itu, lanjutnya, dapat dilihat dari pendapatan perekonomian yang rendah. Ini pula, ungkapnya, yang sangat memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat terhadap hidup sehat. (m purwadi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s