GEREJA YANG SEMPURNA


SAYA menerima sebuah e-mail dari seorang teman yang tergabung dalam “Sahabat Iman Kristen”. E-mail tersebut sebuah renungan berjudul “Gereja Yang Sempurna..kisahnya sebagai berikut :

Ada seorang ibu yang sering keluar masuk Gereja dalam usahanya  menemukan sebuah Gereja yang sempurna.  Ibu tersebut masuk ke suatu Gereja. Setelah 1 bulan di Gereja ini, ia meninggalkannya sambil mengeluh, “Sebenarnya Gereja ini cukup baik, tetapi Gembala Sidangnya sombong dan tidak pernah mendatangi dan menyalami saya.”
Minggu berikutnya, ia masuk ke Gereja terdekat lainnya. Setelah 2 bulan  di Gereja ini, ia memutuskan untuk meninggalkannya sambil menggerutu, “Gembala Sidangnya tidak sombong, tapi istri Gembala Sidangnya cerewet, saya tidak tahan lagi!”
Kebetulan masih ada 1 Gereja lagi yang cukup dekat dengan rumahnya. Tetapi Gereja ini juga belum memuaskan hatinya, ia berkata, “Gembala Sidangnya baik, istrinya juga baik, tapi musiknya itu lho, kuno.”
“Demi mencari Gereja yang sempurna, saya rela mencarinya kemanapun juga”, katanya. Ia memutuskan untuk pergi ke Gereja temannya yang cukup jauh. Tetapi tetap saja tidak cocok, katanya, “Gembala Sidang dan istrinya tidak sombong, musiknya juga bagus, tapi majelisnya mata duitan, tempo hari ada 2 orang anggota majelis datang ke rumah buat minta modal usaha.”

Akhirnya 1 bulan kemudian, ia menemukan Gereja yang sempurna. Gembala Sidang dan istrinya, para majelis, musik dan program Gerejanya sangat baik. Setelah beberapa bulan kehadirannya, Gereja tersebut menjadi tidak sempurna lagi. Kenapa? Karena dia ada di sana. (Artinya karena sikap dan sifatnya yang buruk, menyebabkan gereja yang t’lah sempurna ini menjadi hancur).

Saudaraku yang kekasih,

Baik buruknya gereja tidak ditentukan oleh gedungnya yang indah, besar dengan fasilitas yang lengkap. Juga tidak hanya ditentukan oleh Pendetanya, majelisnya, ibadahnya, musiknya, namun lebih penekanan kepada diri kita sendiri. Untuk apa kita sering beribadah, namun sikap kita tidak mencerminkan orang yang percaya kepada Tuhan?. Untuk apa kita sering beribadah, namun sampai ke gereja hanya menggosip dan menceritakan keburukan orang lain?. Untuk apa kita menjadi seorang majelis, namun tidak menjadi berkat bagi jemaat? Untuk apa kita menjadi pelayan, namun bersikap sebagai “penguasa” dan tidak peduli dengan jemaat?. Untuk apa kita menjadi pasangan hamba Tuhan (suami/istri), namun kita bukan merangkul jemaat justru menjadi batu sandungan buat jemaat?.

Itulah sebabnya Paulus dalam Roma 12:1 mengatakan “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Di sini menunjukkan bahwa gereja yang sempurna/sejati adalah diri kita sendiri. Itu berasal dari sikap, kasih dan perbuatan kita bukan hanya di dalam gereja namun dalam kehidupan sehari-hari. Saya teringat dengan prinsip gereja Orthodox dalam salah satu buku “Liturgy after Liturgy”, karya Ioan Bria, bahwa “liturgi (ibadah) yang hidup adalah ketika menghidupi ibadah (liturgi) itu dalam kehidupan sehari-hari”.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?  (I Korintus  6:19). Sudahkan kita menjadi gereja yang sempurna?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s