DUKA PERANCIS : APA YANG DITABUR ITU YANG DITUAI (SEBUAH REFLEKSI)


Perancis

Perancis

Sungguh menyedihkan perjalanan Perancis dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Datang dengan membawa spirit sebagai Runner-Up Piala Dunia 2006 ditambah dengan kualitas pemain terbaik dan mahal yang terasah di kompetisi nomor satu eropa. Dukungan pemerintah juga sangat besar. Namun kenyataan dilapangan mereka bagaikan tim amatir yang tidak dapat memainkan si kulit bundar dengan baik. Ditahan Uruguay, kemudian kandas di tangan Meksiko dan tuan Rumah Afrika Selatan. Kekalahan ini semakin bertambah dengan ketidakharmonisan diantara pemain dengan pelatih. Nicholas Anelka dipulangkan karena dugaan mengeluarkan kata-kata kurang sopan kepada pelatih. Para pemain mogok latihan, kapten tim bertengkar dengan asisten pelatih.

Selesai pertandingan, para pemain jalan sendiri-sendiri. Bahkan saking kecewanya pemerintah tidak membayar upah para pemain. Media massa Perancis mencap para pemain tidak profesional dan a-nasionalisme. Detik news melaporkan bahwa “Sebagian besar tim Perancis tersebut memilih Bandar Udara Bourget sebagai tempat pendaratan jet khusus yang mereka gunakan. Bandara Bourget ini merupakan bandara kecil yang terletak dekat kota Paris. Itu sebabnya, kepulangan sebagian tim Piala Dunia 2010 Perancis asuhan Raymond Domenech tersebut tanpa sambutan penggemar sepak bola tanah airnya. Selain itu, tidak ada satu media lokal pun yang meliput. Justru yang terlihat, sekitar 150 penggemar sepak bola nasional yang mengungkapkan kemarahan mereka. Tentu itu merupakan akibat buruknya penampilan Perancis yang harus angkat koper lebih awal dari Piala Dunia kali ini”.

Selain itu dalam KOMPAS.comDaily Mirror memberitakan, Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) menyewa pesawat Boeing 737 untuk mengangkut tim nasional Perancis yang berlaga di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan (Afsel) pulang kampung. Sejumlah pemain yang sempat membangkang kepada Pelatih Raymond Domenech akan ditempatkan di kelas ekonomi. Apa yang dialami tim Perancis ini seumpama “sudah jatuh ditimpa tangga pula”. Ketika Perancis berduka, diseberang sana Irlandia bersukacita. Ada apa gerangan?

Namun bila menoleh ke belakang sebenarnya ini juga adalah jawaban dari ketidakadilan yang mereka lakukan sehingga bisa tampil di Afrika Selatan. Kisah ini bermula dari babak play-off dalam menentukan satu tiket melawan Republik Irlandia. Menang 1-0 pada pertandingan pertama di kandang Irlandia, ketika menjamu Irlandia gantian tertinggal 0-1. Kisah tragis terjadi pada masa perpanjangan waktu dimana pada menit 112, dalam posisi timnya tertinggal, Thiery Henry terlihat dengan sengaja menyentuh bola dengan tangannya sampai dua kali sebelum mengirim assist yang bisa diteruskan menjadi gol oleh William Gallas.

"Tangan Tuhan" Henry

"Tangan Tuhan" Henry

Aksi Henry tersebut jelas mengundang kecaman dari seluruh warga Republik Irlandia bahkan seluruh dunia. Media-media negara tersebut bahkan menjuluki ‘King Henry’ sebagai pencuri. Sementara yang lain menyebut insiden di Stade de France itu sebagai ulangan peristiwa ‘Tangan Tuhan’ yakni Gol Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986.. “Tierry Henry ‘Si Tangan Tuhan’ Memusnahkan Mimpi Piala Dunia Kita”, demikian ditulis Irish Independent. Sementara beberapa media lain dalam headline-nya menyebut kejadian tersebut sebagai “Sebuah Kecurangan”, “Tangan Katak” dan “Perampokan Siang Hari”.

Irlandia Menangis

Irlandia Menangis

Pada saat itu seluruh rakyat Irlandia menangis, sementara Perancis bergembira di atas penderitaan Irlandia. Kemenangan kontroversial Prancis atas Republik Irlandia pun membuat kepala negara sampai melibatkan diri. Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy meminta maaf pada koleganya, Perdana Menteri Irlandia, Brian Cowen. Namun semua telah berlalu, jelasnya Perancis melenggang dengan kecurangan, pulang juga dengan dukacita.

Kisah Perancis ini mengingatkan kita akan pesan Paulus dalam Galatia  6:7 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”. Hal ini bukan dalam arti menghakimi tim Perancis, namun kenyataan menunjukkan bahwa apa yang terjadi dengan mereka mencerminkan sikap kurang sportif masa lalu. Kadangkala orang mau menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu dengan mengabaikan prinsip kebenaran. Dalam pikiran orang tersebut mengatakan, “tokh, tidak merugikan saya, justru menguntungkan”, “tokh, sampai sekarang saya sehat”, “tidak ada yang terjadi dengan saya dengan melakukan ketidakbenaran”. Benar, untuk masa sekarang, tapi nanti bagaimana?. Sekarang boleh bersukacita diatas penderitaan orang lain, namun suatu saat Tuhan pasti akan menuntut dari apa yang kita lakukan di masa lalu. Ada berbagai cara mulai dari keluarga yang tidak harmonis, anak-anak yang a-moral tidak peduli dengan orangtua, usaha yang makin lama makin hancur, dll. Untuk itu marilah kita melakukan pekerjaan dengan tetap berpegang teguh kepada prinsip kebenaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

One thought on “DUKA PERANCIS : APA YANG DITABUR ITU YANG DITUAI (SEBUAH REFLEKSI)

  1. Ya bgs itu bapak pendeta.
    bola jg selain fair play tidak mesti main sikut gitu.
    saya senang dengan blog ini, keep runnin` bapak pendeta
    yahowu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s