Membentuk Manusia yang Bermutu


Oleh : Kasdin Sihotang

“Peserta didik pantas dibekali dengan modal hidup yang tidak pernah mudah sirna. Modal hidup itu adalah kualitas humanitas. Pendidikan selayaknya  memberi perhatian pada dimensi personal/individual, dimensi sosial dan dimensi spiritual.

Pada Senin, 12 Juli 2010 tahun ajaran baru di tingkat dasar, menengah hingga tingkat atas mulai berlangsung. Raut muka anak-anak sekolah tampak beraneka ragam. Ada yang gembira, karena mereka mendapatkan sekolah dan teman serta guru yang baru. Tetapi tidak sedikit yang berparas sedih, karena mereka tidak bisa mendapatkan sekolah seperti mereka idam-idamkan. Namun, apapun kualitas raut muka mereka, tahun ajaran baru merupakan kesempatan yang penting dan berharga. Ini adalah momen di mana mereka mendapatkan bekal demi masa depan yang baik.

Atas alasan itulah tidak salah John Dewey, sebagaimana ditunjukkan dalam Democracy and Education (1916), menempatkan pendidikan sebagai wadah pembentukan manusia bermutu. Pertanyaan pada Dewey, dalam hal apakah mutu itu terungkap? Jawaban pertanyaan ini terdapat pada aneka dimensi kemanusiaan peserta didik. Itu berarti, pembentukan aneka dimensi humanitas menjadi penentu kualitas anak dalam proses belajar mengajar.
Dimensi itu meliputi tiga hal berikut. Pertama, dimensi personal. Dewey mengamini bahwa anak-anak yang memasuki sekolah adalah mereka yang berada dalam pertumbuhan. Karena itu, pembentukan diri peserta didik menjadi prioritas pertama dalam pembelajaran.

Dengan dasar keyakinan ini, sekolah menurut Dewey, pertama-tama tidak menjadi tempat untuk memproduksi pengetahuan sebanyak mungkin dan menuangkannya pada peserta didik, melainkan wadah pembentukan pribadi mereka. Dengan penekanan ini Dewey ingin menegaskan bahwa tugas guru di sekolah tidak hanya memindahkan pengetahuan ( transfer of knowledge) kepada peserta didik, melainkan juga membentuk jati diri mereka ( to be human).

Kesadaran Moral
Salah satu wujud dari mutu kepribadian anak adalah kesadaran moral. Mengamini apa yang pernah ditegaskan oleh Plato, Dewey bahkan melihat episteme pendidikan yang paling mendasar ada di sini. Karena itu ia juga menyatakan, peserta didik tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang apa itu dunia dan bagaimana dunia dibentuk, tetapi juga pengetahuan tentang apa itu baik dan buruk bagi dirinya.
Dengan kata lain, kepada anak-anak didik para pendidik perlu menanamkan nilai-nilai etis seperti kejujuran, tanggung jawab, kebaikan dan kebenaran. Singkatnya, dalam pendidikan pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang pantas dan tidak pantas dilakukan menjadi arke (baca: dasar) dalam pembentukan personalitas anak.

Kedua, dimensi sosial. Dimensi ini juga tidak bisa dilepaskan dalam proses belajar mengajar. Moralitas tidak hanya berdimensi personal, melainkan juga berdimensi sosial. Mengapa? Karena moralitas sikap terhadap orang lain. Konkritnya, moralitas terkait dengan kepedulian pada orang lain. Dan kepedulian sosial hanya muncul, ketika anak didik mengetahui dan memahami siapa orang lain bagi dirinya dan siapa dirinya bagi orang lain dengan baik.
Dengan demikian, pemahaman yang memadai tentang pentingnya eksistensi orang lain bagi perkembangan dirinya dan peranan dirinya bagi perkembangan diri orang lain menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar. Dengan pengetahuan seperti ini anak didik, seperti ditegaskan oleh John Dewey, akan bertumbuh secara sehat. Kesadaran sosial yang tinggi ini akan menjadikan anak berkepribadian empatik dan berjiwa sosial yang tinggi.
Lebih jauh dari itu, pengembangan dimensi sosial yang memadai ini akan menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai keanekaragaman serta pengakuan akan adanya keunikan setiap pribadi di kalangan peserta didik. Muaranya adalah munculnya penghargaan terhadap pluralitas dalam tingkat yang lebih luas. Dengan alasan ini, sekolah bukan lagi domain penyeragaman bagi peserta didik, melainkan domain pengakuan bagi keanekaragaman.
Peserta didik pantas disadarkan untuk menjunjung tinggi sikap plural tersebut dalam masyarakat. Dengan bekal ini anak-anak tidak lagi canggung bergaul dengan orang-orang yang berlatarbelakang berbeda baik dalam budaya, suku, dan agama. Mereka justru merasa nyaman di dalamnya.
Memang ini merupakan tantangan yang sangat berat bagi para pendidik, karena tren yang muncul di sekolah adalah homogenisasi (baca: penyeragaman), bahkan menganggap upaya ini sebagai sebuah kelaziman dan kepatutan, bahkan ukuran keberhasilan sebuah pendidikan.

Ketiga, dimensi spiritual. Selain dimensi personal (baca: kepribadian anak) dan dimensi sosial, dimensi spiritual juga menjadi bagian integral dalam pendidikan. Di sini spiritualitas perlu dimengerti dalam arti luas. Memang substansi spiritualitas yang utama terkait dengan keyakinan serta kesadaran anak didik akan keterbatasan dirinya.
Keterbatasan ini justru membuat dirinya berserah kepada kekuatan yang mengatasinya. Dengan kata lain, anak diyakinkan bahwa ia bukanlah superpower, melainkan makhluk yang tak berdaya. Karena kondisi inferior ini mereka perlu mendekatkan diri pada Sang Penciptanya dan berserah pada-Nya dalam segala kegiatannya. Inilah makna spiritualitas pada umumnya.

Namun, peserta didik pantas dibekali dengan pemahaman spiritualitas yang lebih luas, yakni penghargaan akan nilai kehidupan itu sendiri. Sekolah bagi anak bukan tempat mendapatkan angka-angka tinggi, melainkan tempat untuk membekali diri demi hidup. Karena itu tidak salah adagium orang-orang Romawi kuno yang berbunyi non scholae sed vitae discimus didengungkan pada sanubari peserta didik.
Artinya, belajar bagi mereka bukan hanya mengejar indeks prestasi yang tinggi, melainkan juga membekali diri dengan nilai-nilai kehidupan. Jadi, yang perlu mendapat perhatian bukan hanya hasil, melainkan juga proses untuk sampai ke situ, termasuk kualitas proses pencapaian hasil itu. Spiritualitas seperti inilah menurut hemat penulis pantas ditanamkan pada anak.

Nilai spiritual lain yang perlu diberi tempat bagi anak adalah kesadaran bahwa yang ada bersamanya tidak hanya sesama manusia, melainkan juga ciptaan yang lain (baca: infrahuman).
Makhluk infrahuman ini juga mempunyai peran penting dalam mendukung kehidupan manusia. Dengan demikian, meminjam terminologi Daniel Goleman, selain social intelligence, ecological intelligence pantas dibangkitkan dalam diri peserta didik. Dengan kesadaran ini anak memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya. Rasa tanggung jawab inilah menjadi bentuk partisipasi mereka untuk memelihara kehidupan alam.

Jadi, sekolah adalah wadah humanisasi peserta didik secara utuh. Karena itu, selain ilmu pengetahuan, peserta didik pantas dibekali dengan modal hidup yang tidak pernah mudah sirna. Modal hidup itu adalah kualitas humanitas. Karena itu pendidikan selayaknya memberi perhatian pada dimensi personal/individual, dimensi sosial dan dimensi spiritual. Tiga dimensi mendasar ini merupakan akar untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang bermutu. Semoga

Penulis adalah dosen Filsafat di FE dan FPsi,dosen Corporate Governance & Etika Bisnis di Program Pascasarjana serta Staf Inti PPE Unika Atma Jaya, Jakarta

Suara Pembaruan, 17 Juli 2010, hlm. 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s