MEMELIHARA KESATUAN IMAN DALAM TUHAN


Baru-baru ini sambil mengikuti Kuliah Alih Tahun (KAT) yang diselenggarakan oleh PERSETIA (PERSEKUTUAN SEKOLAH TEOLOGI INDONESIA) di Tomohon, Sulawesi Utara, saya mendapat kesempatan berharga dengan mendapat undangan melayani di salah satu Jemaat Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), di Kota Manado. GMIM merupakan denominasi gereja terbesar di Sulawesi Utara yang beraliran Calvinis (Protestan). Dimana-mana gereja mereka berdiri dengan begitu megahnya. Bahkan Kantor Sinodenya dari yang saya lihat, termasuk yang paling besar.

Dibalik kemegahan itu, ada yang menarik perhatian saya yakni gereja GMIM hanya berada dan hidup di Sulawesi Utara. Artinya mereka tidak mau membuka gereja di daerah atau tempat lain. Mereka cenderung bersikap eklusif dari segi pembentukan gereja. Pasti yang ada dalam benak kita sama dengan saya, gereja GMIM menutup diri dan tidak mau menyebarkan Injil seperti diperintahkan Yesus dalam Matius 28:19-20?. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Dari hasil pembicaraan dengan beberapa teman Pendeta GMIM terungkap bahwa GMIM bukan tertutup dan tidak mau mendirikan gereja di tempat lain. Justru mereka menekankan kepada warga GMIM yang berada diperantauan untuk mengikuti ibadah di gereja yang “seazas” (mis. GPIB, GKI, GKJ) atau gereja yang berada di bawah naungan PGI (termasuk BNKP, dll). “Untuk apa mendirikan gereja di tempat lain, itu sama saja bersaing dengan gereja yang sudah ada disana. Biarlah warga kita (GMIM) ikut beribadah di gereja yang sudah ada. Yang penting sama-sama menyembah Yesus, Alkitab satu, yang diajarkan adalah kebenaran” kata seorang Pendeta kepada saya. Bahkan dari seorang Pendeta lain juga saya dapat informasi bahwa pernah salah satu gereja Protestan ingin membangun gereja mereka disana, namun mengalami perdebatan alot. Hal ini disebabkan lebih baik warga mereka beribadah di gereja yang sudah ada dibandingkan membangun gereja yang baru. “emangnya gereja kami berbeda dengan gereja kalian? Emangnya Tuhan yang kami imani berbeda dengan Tuhan yang kalian imani?. Lebih baik kita sama-sama memelihara kesatuan iman di dalam Tuhan Yesus!”. Itu kira-kira alasan awal penolakan meskipun akhirnya diizinkan juga. Intinya semua sama dan bersaudara dalam pepatah orang Minahasa Torang Samua Bersaudara”

Saudaraku yang kekasih, tanggapan kita tentang sikap diatas pasti ada positif dan negatifnya. Namun bila mencermati fenomena yang terjadi diantara gereja-gereja di Indonesia yang notabene adalah minoritas justru yang terjadi adalah “persaingan – saling mempengaruhi jemaat denominasi yang lain”. Yang muncul adalah sikap menonjolkan keunggulan gereja masing-masing, Yesus sebagai pusat gereja mulai dilupakan. Sehingga muncullah pernyataan-pernyataan seperti “gereja kami the best”, “gereja kami yang terbaik ibadahnya, gereja yang itu ibadahnya ngantuk, bosan, dan menjemukan”, “hanya digereja kami ada sukacita, penyembuhan”, “dalam gereja kami membawa ke surga”, “gereja kami penuh Roh Kudus”, “gereja kami orang-orang hebat, jadi tidak susah membangun”, dll. Para hamba Tuhan juga mengklaim bahwa kebenaran berada dijemaat yang dipimpinnya. Kelemahan dari aturan, organisasai, ibadah gereja lain dimanfaatkan untuk menjatuhkan gereja tersebut sekaligus “mengambil kesempatan mempengaruhi warga jemaat mereka”. Bila Yesus hadir pada saat ini pasti Dia akan sedih dan berkata, “wah, kenapa anak-anak-Ku jadi bertengkar memperebutkan domba-domba yang sebenarnya adalah domba-Ku semua?. (lih. Yoh. 10).

Bagi saya secara pribadi, banyaknya denominasi itu juga baik dalam arti berita Injil tersebar dimana-mana. Namun jangan saling menjatuhkan di antara satu dengan yang lain. Itulah sebabnya Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus mengingatkan mereka akan pentingnya kesatuan iman di dalam Tuhan. 4:1-6 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua”.

Kita semua adalah anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk menyampaikan kabar sukacita. Meskipun kita berbeda denominasi, gereja, tempat, namun marilah kita saling mengasihi dan membangun kesatuan iman di dalam Tuhan. Selamat menikmati persekutuan di dalam Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s