Karakter Dibentuk dari Sekolah


Seputar Indonesia, Thursday, 29 July 2010

SETIAP orang memang memiliki kekuatan moral masing-masing. Namun,karakter manusia lebih banyak terbentuk ketika masih dalam bangku sekolah.

Tujuan utama pendidikan adalah menyemai karakter bangsa yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Dalam hal ini pendidikan dimaknai sebagai proses belajar dan adaptasi secara terus-menerus terhadap nilai-nilai budaya dan cita-cita luhur masyarakat dan diorientasikan untuk menghadapi tantangan eksternal. Salah satu karakter budaya kuat bangsa Indonesia adalah pengamalan dan sikap berpegang teguh atas nilai-nilai religiusitas dan moral dalam dimensi kehidupan. Indonesia sejak zaman nenek moyang begitu menjunjung tinggi nilai moral, budaya, dan agama dan ini terjadi di hampir semua suku bangsa yang tercermin dalam adat istiadat yang mereka lakukan.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat mengaku agak pesimistis kalangan kampus bisa membangun karakter manusia. Sebab,menurut dia, karakter manusia lebih banyak terbentuk ketika masih di bangku sekolah. ”Maaf jika saya agak pesimistis,” ucap dia saat diskusi pendidikan di Universitas Paramadina. Kendati begitu, Komaruddin percaya kalau setiap orang memiliki kekuatan moral masingmasing. Hal itu bisa dilihat dari seringnya pertentangan di hati manusia ketika hendak melakukan perbuatan di luar nilai kebenaran. Tinggal bagaimana faktor di luar manusia itu memberikan bimbingan agar terus melakukan perbuatan sesuai dengan nilai.Tentu, lembaga pendidikan juga memiliki kewajiban untuk itu.

Orang tua memiliki peran utama untuk menjaga moralitas anak-anaknya. Tentu saja, bukan berarti lembaga pendidikan kurang memiliki peran yang berarti.Sebab,lembaga pendidikanjugamemilikikewajiban menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara ilmu pengetahuan, juga memiliki moral yang baik. ”Sebuah nilai harus dilembagakan karena hanya dengan niat untuk berbuat baik itu tidak cukup,” tutur Komaruddin. Diaberpendapat,tugasguruagama sekarang memang lebih berat. Karena itu,kerja sama antara guru dan orang tua harus banyak dilakukan. Guru yang berhenti belajar harusberhentimengajar.

Demikianpula dengan orang tua bila berhenti belajar, maka jangan berharap banyak pada masa depan anak-anaknya. Karena itu, Hidayat meminta agar para guru mampu memberikan pemahaman kognitif kepada peserta didik.Pemahaman itu juga harus dibiasakan dan dikontrol.Para guru juga harus mengusahakan adanya proses berbagi pengalaman dengan contoh yang baik kepada murid-muridnya. ”Perlu ada pengadilan yang bersih,reward and punishment,serta kepercayaan kalau manusia memiliki keabadian jiwa,”jelas dia. Deputi Rektor Bidang Kerja sama, Pengembangan Bisnis dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina Wijayanto menjelaskan, masyarakat Indonesia mendapatkan pemahaman pendidikan agama sejak taman kanak-kanak hingga ketika duduk di perguruan tinggi.

Namun, parameter keberhasilan dari pendidikan yang diberikan itu relatif tidak terukur.Padahal,di sisi lain,setiap hari orang tua terus mengkhawatirkan anak-anaknya karena takut terjebak dalam dunia hitam. Apalagi berdasarkan sebuah penelitian, 43% dari kalangan muda di Indonesia setiap harinya online antara dua hingga tiga jam.Kemudian,31% lainnya online antara empat hingga lima jam. ”Kita tentu khawatir kalau ternyata saat online,mereka tidak hanya mencari bahan tugas,tapi juga menyempatkan membuka situs porno,”ucap dia. Untuk itu, dia menilai perlu dipikirkan bagaimana mengubah sistem pengajaran pada pendidikan agama.

Kalau selama ini pola pengajaran hanya dilakukan secara satu arah, mungkin ke depannya perlu mempergunakan cara lain. Misalnya melalui cara audio visual, demonstrasi, diskusi grup, atau bahkan membiasakan peserta didik untuk memberikan pengajaran kepada orang lain atas materi yang telah diterima. Hal itu sesuai dengan sebuah penelitian yang menyebutkan tingkat penerimaan ilmu dengan cara pengajaran melalui cara konvensional hanya sebesar 5%, melalui audio visual sebesar 20%, dan demonstratif 30%.Kemudian diikuti dengan diskusi grup dengan presentasi penerimaan pembelajaran hingga 50%, kemudian belajar dengan melakukan 75%,dan terakhir teach otherhingga 90%.

Sementara, pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, menerangkan, sebenarnya setiap anak memiliki kecerdasan yang berbedabeda. Begitu pula dengan gaya pelajarannya. Karena itu,ada baiknya orang tua atau guru tidak memaksakan kehendak agar anak atau peserta didik belajar seperti yang dimaui orang tua atau peserta didik. Anak-anak Indonesia juga memiliki moral yang bagus. Namun, mereka terus diberikan sugesti dari orang lain kalau mereka nakal. ”Kita sering kali mendengar orang tua yang menyatakan anaknya nakal. Akibat sugesti tersebut, akhirnya mereka benar-benar berbuat nakal,”ucapnya.

Seto mengatakan,perlunya dukungan penuh dari orang tua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusias belajar anak.Sebab,sekolah juga memerlukan kesabaran orang tua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan. Anak memang harus dibekali dengan pendidikan agama.Namun, harus melihat metode yang dipergunakan. Jangan sampai dengan model pembelajaran yang mempergunakan kekerasan sehingga anak malah takut dengan agama.

Guru atau orang tua mungkin perlu mengubah pengajaran dengan bernyanyi, dongeng, boneka, atau kegiatan bermain di taman yang menyenangkan. Hal itu akan jauh lebih efektif menanamkan nilai agama kepada anak. (hermansah)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/341088/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s