Polisi Tuhan


Oleh : Sarlito Wirawan Sarwono”

DI hari-hari akhir bulan Syakban, jelang Ramadan 1431 H, seharusnya umat Islam bersukacita menyambut bulan suci ini. Beberapa yang percaya berpuasa Syakban dan sebagian masyarakat mengikuti adat memasak ketupat dengan keceriaan. Marhaban ya Ramadan. Selamat datang Ramadan!.

Namun, entah kenapa, sejumlah ikhwan (saudara sesama muslim) masih saja ada yang tidak senang kalau hidup ini tenang. Termasuk menjelang dan di bulan Ramadan. Tempat ibadah orang lain di Indramayu diserbu. Umat lain sedang beribadah di Bekasi diserang.

Habib Rizieq, bos FPI, baru saja menyatakan tidak akan anarkistis lagi dan menyerahkan keamanan serta ketertiban kepada pihak pemda dan polisi…. eeeeh, di Brebes,ikhwan-ikhwan dari front lain melakukan sweeping sehingga bentrok dengan polisi. Bahkan di Purwakarta, sebuah patung tak berdosa, yang dibangun oleh pemda (bupati dan para anggota DPRDnya juga muslim) diserbu untuk dirontokkan sehingga bentrok lagi dengan polisi.

Yang terakhir, ketika Abu Bakar Baasyir (ABB) ditangkap, Habib Rizieq yang baru dua hari yang lalu berjanji bahwa FPI akan fokus pada ibadah saja kembali menyalahkan polisi.Polisi salah menangkap karena ABB tidak bersalah,itu hanya manipulasi politik untuk mengalihkan perhatian dari kasus Bank Century dan lain-lain. Intinya, tidak ada pihak lain yang bisamenjadi polisi yang baik, kecuali para ikhwan itu sendiri.

***

Di sisi lain, tanyakanlah kepada setiap orang di tepi jalan,mana yang lebih bersih: musala atau hotel? Jawabnya hampir pasti hotel. Padahal, kata Rasullulah, kebersihan adalah bagian dari iman. Pantaslah istri saya,ibu saya,adik, ipar dan anak, serta keponakan dan cucu yangberjenis kelamin perempuan selalu membawabawa mukena di tasnya. Bahkan sajadah tipis yang bisa dilipat selalu siap di tas. Jika saya tanya,“Ngapain bawabawa alat-alat berat seperti itu? Kan di musala selalu disiapkan mukena dan sajadah?” Jawabnya, “Idih,jorok.Jijik.Bau.Mukena gak pernah dicuci.” Astagfirullahalazim, padahal kalau masuk hotel bintang lima gak pernah bawa seprei dan sarung bantal sendiri. Langsungtidurpulas,tidak peduli bahwa seprei dan sarung bantal itu bekas dipakai oleh kafiratau bekas dipakai berzina.

Pertanyaan lain.Mana yang lebih banyak orang miskin (saking miskinnya sampai membunuh anakanaknya dan kemudian bunuh diri), di Indonesia, Pakistan, Bangladesh, bahkan Arab Saudi, atau Jerman, Belanda, Swiss, Amerika, Jepang, dan sebagainya yang nonmuslim? Jawabannya pasti,di negara-negara yang mayoritas muslim justru lebih banyak orang miskin.

Padahal, tidak ada agama lain yang mengatur hak dan kewajiban orangkaya dan miskin seperti Islam. Mulai dari yang wajib-wajib (zakat), sampai yang sunah-sunah (infak,sedekah). Namun umat Islam tidak mampu mengelola dana-dana itu untuk kesejahteraan si miskin. Di Indonesia hanya beberapa organisasi seperti Dompet Duafa yang sudah melaksanakan upaya mengumpulkan dana dari kewajiban zakat dan sedekah sunah untuk kepentingan umat yang membutuhkan, tetapi organisasi seperti itu terlalu kecil untuk mengurusi umat Islam se-Indonesia. Sementara BAZIS (Badan Amil Zakat, Infak dan Sedekah) versi pemerintah tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Di Afghanistan, di zamannya Taliban berkuasa, pekerjaan mereka hanya menggantung laki-laki tak berjenggot atau perempuan yang jalan sendiri tanpa muhrim karena dianggap melanggar syariah. Pokoknya mereka pikir, merekalah polisi Tuhan. MasalahnyaAllahsendiri sebenarnya tidak perlu polisi untuk menjadikan kehendak-Nya. Dia akan menghukum yang mau dihukum-Nya dan memberi pahala kepada yang mau diberi-Nya pahala.Allah tidak perlu dibela,apalagi dengan merusak-rusak, menakutnakuti orang, apalagi menyakiti atau membunuh orang.Yang perlu dibela adalah manusia, terutama anak-anak, wanita, bahkan tersangka dan siapa saja yang dalam keadaan lemah.Tuhan sangat jauh dari keadaan lemah. Kalau Allah mau, dia bisa bikin apa saja, termasuk membuat tsunami sehingga Aceh kembali ke NKRI.

***

Ketika ABB diwawancara wartawan di Masjid Ikhwanul Qorib, Bandung, beberapa saat sebelum dia ditangkap di Banjarpatoman, Jawa Barat,beliau mengatakan demokrasi sebagai paham yang kurang ajar.Sebab demokrasi berlandaskan suara terbanyak. “Lewat demokrasi, untuk menjalankan hukum Allah harus minta izin manusia,” katanya. “Jika demokrasi dan Islam dicampurkan, hasilnya kekacauan. Karena itu hidup hanya berasas tunggal dengan hukum Allah.”(Tempo Interaktif). Benar juga. Kerja polisi memang tidak pakai demokrasi-demokrasian. Kalau polisi mau menangkap teroris pakai mengundang sidang paripurna DPR dulu, terorisnya keburu kabur.Tugas polisi menegakkan hukum, maka acuannya hanyalah hukum dan komandannya.Wajar kalau para polisi Tuhan ini hanya mengacu pada hukum syariah dan Tuhan itu sendiri.

Perbedaannya,hukum yang diacu oleh polisi adalah hukum yang dibuat oleh demokrasi,oleh manusia.Hukum itu mungkin salah,tetapi kalau suara terbanyak merasa bahwa hukum itu salah,maka hukum itu akan diubah oleh suara terbanyak itu.Adapun hukum buatan Tuhan tidak bisa diubah-ubah, sementara yang ”mewakili”Tuhan sebagai kepala polisinya ya manusia juga.Kalau para komandan polisi Tuhan ini bernama Osama bin Laden atau Imam Samudra, akibatnya sudah terbukti fatal karena buat mereka membunuh manusia atas nama Tuhan hal yang biasa saja,bahkan wajib.

Sementara itu, puluhan ayat dan hadis menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang demokratis.Piagam Madinah,misalnya, adalah salah satu bukti bagaimana Rasulullah menerapkan demokrasi ketika beliau memimpin masyarakat muslim dan nonmuslim di Madinah. Di zaman kita sekarang, NU, Muhammadiyah, dan PKS adalah contoh dari lembaga-lembaga Islam yang demokratis di Indonesia. Mereka mempunya dewan syura danketuanya dipilih secara demokratis.

***

Kalau kita mau mencontoh negara berasaskan Islam yang sejahtera,maka kita harus menengok ke Malaysia.Sebagaimana tampil dalam benderanya (bulan sabit dan matahari), konstitusi Malaysia menetapkan Islam sebagai agama resmi negara dan bahasa Melayu (Malaysia) sebagai bahasa resmi negara. Namun,bukan hanya etnik dan agama lain yang bisa hidup tenang dan senang di Malaysia, perjudian pun diizinkan beroperasi di Genting Highland dan dana dari pajaknya dikembalikan untuk menyejahterakan rakyat. Buat Malaysia, tidak apa-apa nonmuslim melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan. Di mal-mal selalu ada tempat khusus untuk barang-barang nonhalal dengan tulisan besarbesar ”nonhalal” dan tidak ada sweeping-sweeping-an oleh polisipolisi Tuhan yang mana pun. Al-Qaidah dan Jamaah Islamiyah hanya bisa menjadikan Malaysia sebagai tempat transit, tetapi tidak bisa menyebarkan ajarannya,apalagi ngebomdi Malaysia. Karena itu mereka ngebomdi Indonesia.

Padahal kalau dibandingkan dengan Indonesia, Islam Malaysia lebih liberal daripada Indonesia. Nonmuslim (India, China) bukan hanya bisa menjadi kepala “polis” atau ”kaki tangan kerajaan” (bahasa Malaysia untuk ”polisi” dan ”pegawai negeri”), tetapi jadi menteri pun ”boleh” (bahasa Malaysia untuk ”bisa”). Bahkan nonmuslim yang dianggap berjasa untuk ”kerajaan” (bahasa Malaysia untuk ”negara/negara bagian”) diberi gelar kebangsawanan ”datuk”dan dengan demikian berhak atas segala hak dan kehormatan sebagai bangsawan Malaysia.

Tentu saja NKRI tidak dapat dibandingkan dengan Malaysia karena NKRI bukan Kerajaan Malaysia. Namun yang pasti NKRI juga bukan Negara Islam Indonesia (NII) seperti yang didambakan oleh sebagian dari para ikhwan kita.(*)

*Guru Besar Fakultas Psikologi UI

Kolom di Harian Seputar Indonesia, Minggu, 15 Agustus 2010, hlm. 1+11

Iklan

3 thoughts on “Polisi Tuhan

  1. aneh jika bangsa yang mayoritas islam, banyak di antara umat penganut islam itu sendiri, ikut tidak setuju jika negara kita dijadikan negara berasaskan muslim, karena mereka beranggapan bahwa hukum islam itu sangat keras dan mereka tidak bisa menikmati dunia. suatu hal yang ironis dimana sudah pernah dibuktikan pada zaman nabi Muhammad, ketika Islam berjaya, bahwa umat lain selain muslim, ikut hidup rukun dan damai serta sejahtera, tanpa harus tersiksa dengan peraturan Islam yang memang keras, namun bertujuan baik bagi seluruh umat.

    Sangat aneh, sungguh sangat aneh, karena banyak sekali umat muslim yang ikut TIDAK SETUJU jika negara dijadikan negara berasaskan Islam, sedangkan mereka sendiri beragama ISLAM, bernafaskan ISLAM.

  2. Alangkah damai dan amannya bila semua orang mengatakan beragama berpikiran seperti bapak, negara kita ini butuh cukup kata damai dululah yang kita cari…..
    bila itu kita miliki maka aman, sejahtera, dan jaya pasti akan diraih……….

  3. pak peluang usaha 01,

    emang benar sich kata anda mengenai peraturan itu.. saya juga orang kristen advent setuju dengan tindakan FPI yang sangat keras terhadap para PSK, gay (bencong), perjudian, minuman keras, dan perbuatan maksiat lainya.. tapi kenapa harus ada kekerasan terhadap agama kristen. kenapa harus ada korban bom bunuh diri.?? kenapa harus ada kekerasan yang beratas namakan agama???anda tadi sendiri bilang pada waktu jaman nabi muhammad orang non muslim aman sejahtera kok sekarang berbeda..??? berarti ada yang salah dengan ajaran peraturan tsb? sungguh lebih ironis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s