Melalui Buku:Rasa Sakit Berubah ke Aksi Sosial


“Petualangan” pribadinya saat membaca buku membawanya menjelajahi dunia sosial. Dia pun ingin orang lain, terutama anak-anak yang sedang mengalami perjuangan hebat melawan sakit, bisa merasakan keasyikan seperti yang dirasakannya.

“KETIKA saya membaca, saya seperti merasakan lompatan yang sangat nyata. Saya merasa masuk ke dalam kisah di buku dan tidak lagi merasakan kesakitan di dunia ini,” urai Mackanzie Bearup. Menurut pengalamannya,membaca buku dapat menurunkan tingkat stres akibat penyakit yang dideranya yakni reflex sympathetic dystrophy (RSD), atau kerap disebut complex regional pain syndrome.

Dari sini pula dia memiliki ide berbagi buku untuk anak-anak kurang beruntung lainnya, seperti anak-anak jalanan dan korban kekerasan di negaranya di Georgia. Awal kisah Bearup dimulai enam tahun lalu,ketika dia meloncat dan menari di atas tempat tidur saat dia menonton acara American Idol. Tiba-tiba lututnya terasa sangat sakit dan dia hampir tidak bisa berkata-kata. Kemudian, lutut gadis yang masih duduk di bangku kelas lima ini mengalami bengkak sebesar buah jeruk bali.

Setelah seminggu menggunakan kruk, kondisi lututnya memburuk. Dia tidak bisa berjalan sama sekali. Setelah beberapa kali mengalami kesalahan diagnosa, akhirnya dokter memvonis Bearup dengan penyakit RSD. Penyakit ini membuat urat dan aliran darah tersumbat ke arah otak. Hal yang menyedihkan lagi, Dr James Yost yang menangani penyakit Bearup mengatakan, belum ada obat bagi penyakit berat itu.

Berdasarkan website resmi Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome Association dinyatakan, terdapat 200.000 hingga 1,2 juta orang mengidap RSD ringan hingga parah. “Rasa sakit yang saya rasakan tidak bisa saya jelaskan.Ini akan terasa beberapa kali dan ketika lutut saya tersentuh, saya merasa sangat kesakitan,” urainya seperti dikutip CNN.

Berbagai macam pengobatan dan perawatan yang kerap dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit secara permanen di lututnya juga tidak berhasil.Malah,pada saat yang sama ketidaknyamanan akibat rasa sakit ini memaksa dia harus beristirahat di atas tempat tidur selama berbulan-bulan karena tidak bisa berjalan. Satu-satunya cara dia menghilangkan rasa sakitnya yakni hanya dengan membaca.

Sehingga ketika seorang dokter anak-anak memberi tahu dia tentang Murphy-Harpst Children’s Center di Cedartown, yakni pusat perawatan atau pemulihan untuk anak-anak korban kekerasan di Georgia,Bearup pun memiliki ide. Sebagai informasi, ada sekitar 330.000 anak-anak di bawah usia 18 tahun yang berada di pusat perawatan anak-anak korban kekerasan itu.

“Saya pikir tidak ada satu anak pun yang ingin mengalami sesuatu yang buruk, termasuk merasakan sakit seperti ini. Mereka membutuhkan sesuatu yang bisa membuat mereka keluar dari rasa yang tidak mengenakkan ini. Sesuatu yang saya pikir bisa membantu adalah buku,” paparnya. Dia mengetahui jika pusat perawatan itu telah memiliki perpustakaan namun tak ada satu pun buku yang berada di sana.

“Saya meminta setiap orang yang saya kenal untuk menyumbangkan buku dan saya juga meminta mereka memberi tahu teman-temannya yang lain,”ungkapnya.Dia juga menginformasikan ini dengan cara mengirimkan pesan di pamflet di setiap kotak surat, surat kabar, dan meluncurkan situs. Dia menargetkan mampu menyumbangkan sekitar 300 buku tapi ternyatajumlahnya meledakhingga 3.000 buku.

Selain memperhatikan anak-anak yang sedang sakit,dia juga memperluas perhatiannya ke anak-anak jalanan dan ke pusat perawatan anak-anak korban kekerasan. Dengan membaca,Bearup merasa “hidup” dan menemukan dunianya yang telah lama hilang. Seolaholah dia tidak lagi merasa kesakitan yang sangat parah.

“Membaca bukan hanya kita bisa melompat ke kehidupan yang lain tapi kamu juga bisa belajar banyak. Dan ini sangat penting bagi anak-anak jalanan dan korban kekerasan, ”jelasnya. Sejak 2007 Beaurup berhasil mengumpulkan lebih dari 38.000 buku untuk anak-anak jalanan dan korban kekerasan di enam negara. Dengan bantuan dari ibunya, remaja ini meluncurkan organisasi nirlaba bernama Sheltering Books pada 2009.

Hingga saat ini dia telah mengirimkan buku-buku itu ke perpustakaan dan rumah baca di 27 tempat penampungan. Meski sumbangan terus berdatangan, Bearup dan ibunya tetap mengumpulkan berbagai buku di pinggiran kota Atlanta. Dengan bantuan dari saudaranya, yakni Alex, 14, dan Benjamin, 11,Bearup menyortir buku menjadi beberapa kategori, seperti usia, jenis kelamin,dan minat.

Meski hingga saat ini sakitnya tak kunjung sembuh, dia tetap ingin menyalurkan buku ke berbagai perpustakaan, sekolah, maupun tempat penampungan anak-anak jalanan dan korban kekerasan lainnya. Gadis belia ini meyakini sepenuhnya bahwa kehadiran sebuah buku bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan kesedihan apa pun yang dialami anak-anak di dunia. (susi)

(SEPUTAR INDONESIA, 03 September 2010, hlm. )

Dapat diakses di http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/348884/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s