Psikoterapi Masyarakat Pascabencana


Oleh : THOMAS KOTEN

Berbagai macam bencana terus menge­pung negeri ini, dari darat, laut, dan udara. Korban jiwa dan kerugian materi pun tidak terhitung lagi banyaknya. Karena itu, ada sebuah persoalan serius yang perlu dicatat karena kerap terabaikan adalah bagaimana menghadapi ma­syarakat pascabencana yang disebut sebagai masyarakat traumatik.

Masyarakat traumatik adalah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan akibat pengalaman tragis saat bencana. Pengalaman tragis itulah yang kemudian mencuatkan perilaku sindrom atau fenomena kejiwaan abnormal yang selalu membelenggu pe­rasaan para korban bencana.
Fenomena kejiwaan abnormal yang ditimbulkan saat goncangan bencana, kemudian diperparah lagi oleh situasi pascabencana akibat kehilangan sanak keluarga dan harta benda, membuat para korban dibekap perasaan traumatik yang mengerikan. Trauma adalah suatu fenomena perilaku kehidupan individu atau masyarakat yang tidak biasa­nya, alias tidak normal. Perasaan traumatik ini kemudian membundel menjadi perasaan ketidaktegaran atau keputusasaan dalam menghadapi berbagai masalah.
Faktor-faktor psikologis itulah yang jika tidak dita­ngani secara cepat dan tepat akan berujung pada sikap tra­gis, seperti mengakhiri hidup dengan aksi bunuh diri. Publik masih ingat kasus bunuh diri yang dilakukan Mardi, warga Gunung Manuk, Salam, Pathuk, Gunung Kidul, pascagempa Yogyakarta 2006. Mardi tidak sendirian karena banyak orang yang juga melakukannya pascakrisis dan pascabencana.
Dan, fenomena kejiwaan abnormal publik pascabencana ini jika dibiarkan akan dapat melahirkan aneka pe­nyakit sosial atau kerentanan moral kolektif. Sebagaimana kerap pula terdengar peng­ung­si kerusuhan atau korban bencana yang terus-menerus ke­ta­kutan dan berperilaku abnormal. Meski sudah direlo­kasi ke tempat aman, mereka masih te­rus menunjukkan sindrom ke­takutan yang berkepanjangan.

Kehidupan Traumatik Massal

Fenomena traumatik atau perilaku sindrom yang dialami masyarakat traumatik pasca­bencana tidak bisa hanya dilihat dalam aneka perilaku individual melainkan suatu fakta sosial keterpurukan ma­sya­ra­kat yang tidak berdaya menghadapi penderitaan. Ka­sus ke­matian Mardi dan aneka kasus bunuh diri lainnya ada­lah ano­mic suicide, korban kegalauan sosial masyarakat saat masing-ma­sing korban bencana tidak tahu lagi apa yang bisa dilaku­kan, ketika harmoni siklus hi­dup yang normal-mekanistis tiba-tiba disergap guncangan yang hebat dan sulit dikendalikan.
Akibat guncangan hebat pada saat bencana berlangsung dan realitas “kekosong­an” hidup akibat kehilangan banyak hal; sanak keluarga dan harta benda pascabencana, individu-individu tidak mampu lagi mengontrol kondisi riil yang terjadi di luar dugaan itu. Inilah yang menggiring para korban bencana ke dalam realitas psikologis, seperti yang diungkapkan di atas, yakni kehilangan keseimbangan psikologis dan dapat mencuatkan perilaku sindrom, bahkan dapat tergiring kepada suatu kondisi psikologis yang parah yang dapat disebut sebagai sakit jiwa serius.
Sakit jiwa masyarakat korban bencana terjadi karena di samping masyarakat umumnya tidak pernah siap disergap bencana yang datang selalu ti­dak terduga, juga karena sebe­lum bencana, mereka sudah menerima aneka macam pengalaman hidup yang menyakitkan, seperti beban kesulitan ekonomi yang demikian berat.
Kondisi masyarakat yang hidup serbakesulitan sebelum disergap bencana memang da­pat memperkuat mental ma­sya­rakat dalam mengha­dapi bencana hebat. Sebaliknya, keadaan ini dapat menjerumuskan mereka ke dalam kondisi psikologis yang semakin rentan karena mereka tidak sanggup lagi menerima ke­ada­an hidup yang lebih berat. Na­mun dalam realitasnya, itulah yang terjadi dan menggiring mereka ke dalam keputus­asa­an yang parah. Aneka kasus bunuh diri pascabencana terjadi karena para pelaku mera­sa tertekan beban yang tidak dapat lagi dipikul.
Dan, yang jelas, kehidupan para penderita trauma pascabencana dikuasai struktur addiction, avoidance, dan violence, yang sewaktu-waktu mencuat ke permukaan diri dan sulit dikendalikan oleh alam bawah sadar yang mewadahi kekuatan diri. Dalam istilah Sigmund Freud, ego traumatik telah kehilang­an aspek rasional dari kesa­daran yang dimiliki ego normal sehingga sulit dikontrol lagi oleh sang korban. Inilah yang menimbulkan problem psikologis, sakit jiwa, hubungan interpersonal, hubungan sosial, dan perilaku menyimpang di tengah masyarakat, yang kemudian berujung pada lahirnya kerentanan moral kolektif hingga mencuatkan aneka kriminalitas.
Dan, kriminalitas merupa­kan perilaku abnormal masya­rakat di mana itu sebenarnya disebabkan oleh tidak terselesaikannya aneka persoalan ma­sa lalu yang kemudian men­jadi sumber bayangan pa­ra korban dalam kehidupannya.

Psikoterapi Publik

Kekuatan hitam traumatik (the dark power of trauma) pascabencana yang telah begitu membelenggu masyarakat ti­dak bisa dianggap sepele. Se­bab, fenomena masyarakat trau­­matik bukan saja akan me­­lahirkan publik bangsa yang abnormal, yang dapat mem­bun­cah ke dalam perilaku kri­mi­nalitas atau penyakit so­sial lainnya yang mengerikan, me­lainkan membuat bangsa kehilangan produktivitas ker­ja. Ma­ka, penyembuhan atau psi­ko­te­rapi masyarakat traumatik ini menjadi suatu keha­rusan dan telah mencapai titik urgensinya.
Dalam hal ini, perlu segera dilakukan, pertama, penelitian publik untuk menakar sejauh mana gangguan mental yang dialami masyarakat pascabencana, kemudian diikuti dengan identifikasi yang jelas. Kedua, upaya pendampingan berupa dukungan, percakapan penguatan hingga penyelesaian masalah. Ini dapat termasuk dalam tindakan konseling, terapi publik dan pendampingan rohani sebagai umat beragama, di mana Sang Pencipta atau Al-Khalik menjadi sandaran utama dan sumber kekuatan hidup.
Segala peristiwa baik dan buruk atau mengerikan dan menggembirakan tidak terle­pas dari campur tangan Sang Pencipta sehingga harus dilihat juga dalam kacamata iman atau hikmah iman yang ter­sem­bunyi, blessing in disguise.
Dengan demikian, masya­ra­kat traumatik dapat diarahkan kepada keserasian jasmani-rohani, dapat mengarah kepada kesadaran diri psikologis dan kesadaran publik sosial (social self-awareness) hingga ke derajat ekuilibrium menuju tahap penyembuhan total. Dengan bertolak dari itu, individu yang semula hanya berkutat pada persoalan pribadi yang mencekam nyawa dapat memperluas dirinya ke tataran pergaulan sosial.

Menurut sejumlah ahli psi­kologi dan sosiologi seperti Emile Durkheim, berbagi peng­alaman antaranggota masya­rakat traumatik menjadi salah satu bentuk penyembuh­an luka-luka batin yang am­puh. Karena, sakit jiwa indivi­du hingga aksi bunuh diri umum­nya disebabkan oleh tenggelamnya individu ke da­lam egoistic suicide akibat rendahnya tingkat integrasi sosial yang membuat individu sema­kin tertekan secara psikis yang sulit dikendalikannya sendiri.

Penulis, Direktur Social Development Center

Sinar Harapan, 27 November 2010

http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/psikoterapi-masyarakat-pascabencana/?tx_ttnews%5Byears%5D=2010&tx_ttnews%5Bmonths%5D=11&tx_ttnews%5Bdays%5D=27&cHash=86c269ded9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s