Serrafona: Tuhan, Beri Aku Waktu Satu Jam Saja (Sebuah Refleksi Menyambut Paskah)


Selesai mengikuti ibadah di salah satu gereja BNKP di Jakarta, seorang ibu mendatangi saya dan menyodorkan sebuah buku. Ibu tersebut berkata, “ini saya hadiahkan buat pak Pendeta, bukunya sangat bagus, saya sangat terberkati”. Judul buku tersebut “Serrafona : Tuhan, beri aku waktu satu jam saja” karya Vanny Krisma W. Buku ini berisi kisah-kisah inspirasional seputar kehidupan sehari-hari.

Serrafona hanya salah salah satu kisah dari 65 kisah lainnya dalam buku ini. Namun bagi penulis buku ini kisah Serrafona menjadi pusat dari seluruh kisah lainnya. Mungkin ada di antara pembaca yang pernah membaca dan mendengar kisah ini, namun tidak berkesalahan dalam tulisan ini saya mengisahkan kembali. Hitung-hitung bagi berkat bagi yang belum mendengar dan mengingatkan bagi yang pernah membaca. Kisah ini terjadi di Los Felidas, nama sebuah jalan di ibu kota sebuah Negara di di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Sebuah keluarga (profesi dokter) yang kaya mengadopsi seorang gadis kecil 2 (tahun yang mereka dapatkan dari sepasang suami istri. Suami istri ini sendiri adalah bukan orangtua gadis ini, melainkan mereka mengambilnya dari tangan orangtua aslinya. Keluarga barunya ini  memberi nama gadis itu Serrafona. Mereka sangat memanjakannya dengan amat sangat. Di antara kemewahan istana itu, gadis kecil itu tumbuh dewasa dan belajar kebiasaan-kebiasaan orang jetset, seperti merangkai bunga, menulis puisi, bermain piano, pesta dansa dan berkendara mobil mewah. Intinya gadis ini hidup dalam kelimpahan dan kemewahan yang sangat luar biasa.

 Tapi umur 27 tahun, semuanya berubah. Dia menemukan sebuah foto kecil dirinya yang digendong sepasang suami istri yang lusuh. Hal ini menyentakkan ingatannya. Ia mulai berusaha mencari ibunya dan berdoa, “Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama….”Tapi semuanya menjadi sangat sulit. Dia tidak bertemu dengan ibunya. Kemudian dia berdoa, “Tuhan, beri saya sebulan saja…”. Masih sulit!. “Tuhan, kalaui sebulan terlalu banyak, cukup beri saya waktu seminggu untuk saling memanjakan”.

Akhirnya, Serrafona terdampar di sebuah jalanan yang sangat kumuh, di depan puing-puing sebuah took, di antara onggokan sampah dan kantong-kantong plastic, di tengah-tengahnya terbaring sosok wanita tua dengan pakaian hitam jelaga, tidak bergerak-gerak. Hatinya sangat sedih dan menangis. Dia berdoa, “Tuhan, beri kami waktu sehari. Biarlah mama mendekap saya dan saya akan memberi tahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia…”

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih sangat muda. Inilah setangkup wajah yang sangat dirindukannya selama 25 tahun. Ia tersenyum dan dengan seluruh kekuatannya berusaha menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

“Mama, jangan pergi dulu. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin tamasya, apapun bisa kupenuhi. Mama jangan pergi dulu, Mama…mama…mama…”

Saat telinga Serrafona menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan, “Tuhan maha pengasih dan pemberi. Tuhan, beri saya waktu satu jam saja, satu jam saja…”

 

Kisah Serrafona mengingatkan kita kepada Yesus yang sebentar lagi kita ingat bagaimana penderitaan-Nya di kayu Salib hanya untuk menebus dosa-dosa kita. Kita dapat hidup dengan bahagia, sukacita hingga saat ini hanya karena anugerah-Nya kepada kita. Hubungan kita dengan Tuhan diperbaiki. Kita yang sebenarnya mendapatkan hukuman, namun Yesus menggantikan diri kita. Nabi Yeremia dengan jelas memberi gambaran hidup Yesus dalam pasal 53:2-7 “2) Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. 4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Beberapa hari lagi kita merayakan Paskah, apa yang kita berikan kepada Tuhan? Pertama, merenungkan perjalanan kehidupan kita apa sudah sesuai dengan ajarannya? Kedua, menjalankan kasih-Nya kepada mulai dari keluarga, sesama dan juga kepada Tuhan?. Tiga, memberi hidup dan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Serrafona hanya memiliki waktu satu jam untuk membahagiakan mamanya. Kita masih ada waktu banyak selama diberi oleh Tuhan untuk mengasihi Dia.

Selain itu kisah ini memberi pelajaran bagi kita untuk mengasihi orangtua kita sepanjang mereka masih hidup, apapun adanya mereka. Selamat mempersiapkan diri menyambut Paskah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s