Korupsi dan Keluhuran


Oleh Jansen Sinamo

Seorang profesor fisika, Pantur Silaban namanya, dosen kami dulu di Bandung, berkata bahwa alam tidak pernah korupsi. Elektron, misalnya, hanya bersedia menerima jatah energi yang sudah ditetapkan alam baginya sebesar kelipatan bulat konstanta Planck.

Alam bekerja dengan prinsip ”secukupnya”, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini sesuai pula dengan selarik doa klasik, ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan makanan lima tahun untuk pemilu berikutnya!

Ini mengejutkan seisi kelas pagi itu. Saat itu kami tidak sedang mengikuti kuliah Pancasila atau Agama atau Etika, tetapi kuliah Fisika Kuantum yang super-rumit.

Namun, pada titik inilah sesungguhnya sang profesor berhasil menampilkan fisika melampaui aspek teknisnya dan menonjolkan wajah keluhurannya yang mulia dan cemerlang. Di tangan dosen ini fisika yang kuyup dengan matematika canggih itu tiba-tiba bisa berubah menjadi kuliah keluhuran dan keagungan. Jelas teringat, hati kami selalu tergetar pada momen-momen ”intermeso” begini.

Sosok Silaban pasti tidak ada di benak B Herry Priyono, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta—ketika ia mengatakan dalam endorsement sebuah buku, ”Mendidik bukan pertama-tama urusan membuat murid pintar pelajaran matematika atau ekonomi, tetapi urusan kesetiaan menemani murid untuk menghasrati apa yang luhur dan memperoleh kebiasaan-kebiasaan hidup yang luhur. Pelajaran fisika ataupun geografi, sastra ataupun ekonomi, adalah sarana mendidikkan hasrat dan kebiasaan luhur itu.”

Tampaknya semua guru sejati sangat paham soal ini: sesudah materi yang teknis-matematis-faktual disajikan, sebuah mata pelajaran harus disublimasikan ke wilayah keluhuran sehingga para murid berkesempatan mencicipi nektar surgawi pelajarannya. Tanpa nektar ini pelajaran sekolah apa pun niscaya kehilangan madu-esensinya yang lezat, lalu hanya menjadi beban otak belaka, yang menjenuhkan dan segera terlupakan.

Serba berjemaah

Maka, kita sungguh kaget-tersentak oleh kisah nyontek berjemaah Mei lalu, yang justru difasilitasi oleh guru-guru di sebuah SD di Jawa Timur. Sungguh sebuah ironi apabila ditengok dari kacamata pendidikan dan keguruan yang telah menjadi sendi peradaban dunia sejak era Konfusius dan Sokrates.

Ironi ini segera berubah menjadi tragedi saat Alif dan ibunya, Siami, yang menolak mencemarkan diri dan coba tampil menjadi protagonis keluhuran itu justru dijahati oleh massa yang dimobilisasi para penikmat proyek nyontek massal itu. Kita mengurut dada, berduka, dan bertanya: Quo vadis pendidikan? Quo vadis keguruan? Quo vadis keluhuran? Quo vadis Indonesia?

Ini harus kita kita jawab dengan tuntas dan saksama karena profesi keguruan adalah bunda semua profesi pengelola bangsa: hakim, jaksa, pengacara, polisi, politikus, birokrat, pebisnis, dan lain-lain. Secara operasional kita tahu, negeri bernama Indonesia ini sesungguhnya diselenggarakan oleh ratusan profesi mulia pada berbagai cabang kenegaraan, di semua eselon administrasi dan tingkat operasi-birokrasi.

Akan tetapi, kalau bunda keluhuran dan bunda Indonesia ini, yakni kaum guru, dosen, pendidik, pengajar, widyaiswara, manggala, dan pembina, sudah rusak di hulunya, sangat mungkin terjadi bencana ”sarus-marus” (satu rusak, semua rusak) di negeri kita.

Saya memang curiga, profesi keguruan yang sejatinya harus jadi profesi utama dalam sebuah bangsa sejak Indonesia merdeka—terutama pada era Orde Baru—telah dipinggirkan secara sistematis jadi profesi yang marjinal dan miskin. Profesi keguruan dikudeta oleh politikus dan kemudian militer. Buahnya kita tuai sekarang: keguruan Indonesia rusak parah sejak lama, dan sebagai akibatnya di daerah hilir profesi-profesi yang mengelola negara ini juga ikut rusak berat.

Wujudnya adalah korupsi besar-besaran yang terjadi di semua lini negara: eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta berlangsung secara berjemaah, lintas profesi dan lintas sektor. Inilah sekarang yang disebut rezim kleptokrat.

Hidupkan keluhuran

Keluhuran, kemuliaan, dan keagungan adalah sublimasi kemanusiaan kita, yang di tingkat negara dirumuskan dalam Pancasila dan UUD 1945. Keluhuran ini adalah bentuk tertinggi hidup kita yang jasmaniah, material, dan intelektual.

Apabila keluhuran ini merosot, kehidupan di semua tingkat juga merosot, mendangkal, dan memburuk. Hidup menjadi serba sesak-sempit, didominasi hal yang material-komersial. Tak ada lagi pengorbanan, pelayanan, dan gotong royong. Hilang sudah kejujuran, keadilan, dan persaudaraan. Telah lenyap bela rasa, kebaikan, dan cinta kasih. Indonesia terancam menjadi negara gagal bukanlah kekhawatiran berlebihan.

Maka, keluhuran harus disemarakkan lagi dengan segera dan secara masif. Inilah tugas keguruan dan pendidikan sesungguhnya.

Kini Ibu Pertiwi memanggil semua guru. Bukan hanya mereka yang 3 juta di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional, melainkan semua guru dalam semua organisasi bangsa, termasuk guru jemaat, guru mengaji, guru piano, guru karate, dan guru menjahit, hingga semua guru besar formal di universitas.

Jansen Sinamo Direktur Institut Darma Mahardika, Tinggal di Jakarta

Harian Kompas, 21 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s