Siapakah Aku Ini Tuhan?

(Refleksi Keterpangilan Menjadi Pelayan Berdasarkan Yohanes 15:14-17)[1]

Oleh : Pdt. Gustav G. Harefa

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Siapakah Aku Ini Tuhan?

             Saya memulai renungan ini dengan pertanyaan di atas yang merupakan kutipan dari sebuah lagu penyembahan yang cukup familiar dinyanyikan dalam persekutuan-persekutuan doa. Lagu ini diciptakan oleh seorang hamba Tuhan yang memiliki bakat mencipta lagu-lagu rohani penyembahan, Pdt. Ir. Niko Njotoraharjo, pada tahun 1990, dengan judul “Kasih Setia-Mu”[2]. Lagu yang sebagian berasal dari Mazmur 8 ini, mengungkapkan bagaimana perasaan si pemazmur (pencipta lagu) terheran-heran dan kagum atas karya Tuhan di dalam hidupnya. Bagaimana Tuhan mengasihi dan memberkatinya, meskipun dia merasa bahwa dirinya adalah “hina” dihadapan Tuhan. Dalam syair lagu yang bersifat dialog ini, pelantun bertanya apa yang dapat dia lakukan sebagai balasan untuk segala kebaikan Tuhan ini? Lalu dia menjawab sendiri yaitu selain memuji juga menyembah Tuhan! Meskipun demikian, ada juga yang memplesetkan lagu ini sebagai lagu orang yang mengalami Amnesia, karena seakan-akan si penyanyi tidak mengenal dan mengetahui siapa dirinya sendiri, padahal konteksnya tidaklah demikian.

            Jika kita menghubungkan dengan diri kita sebagai pelayan[3] yang hadir pada pembinaan ini, tentu pertanyaan ini juga kita ajukan kepada Tuhan Yesus, “Sang Pemilik Pelayanan”, kenapa aku yang terpilih, ya Tuhan? Dalam Alkitab, di sepanjang sejarah keselamatan terungkap bahwa orang-orang yang dipilih Tuhan selalu mempertanyakan hal ini, misalnya Musa, Samuel, Elia, Yesaya, Yeremia, Amos, Yunus, bahkan murid-murid Tuhan Yesus sendiri. Mereka merasa tidak layak, tidak mampu, tidak bisa berbicara, tidak memiliki pengetahuan, takut ditolak, dihina, dll dalam menerima tugas dari Tuhan dalam menyampaikan Firman-Nya. Belum lagi apabila Firman yang disampaikan dalam bentuk hukuman atau kritikan kepada para penguasa atau orang yang melakukan kelalilam, wah, bisa gawat!

            Hal ini berlaku bagi kita yang telah terpilih dalam melayani di ladang Tuhan khususnya di Resort 45. Jikalau ditelusuri, mana ada di antara kita yang langsung menyodorkan diri untuk menjadi pelayan di jemaat tempat kita melayani? Meski sebenarnya kita mau tetapi masih ada perasaan “malu” (malu-malu tapi mau). Tentu masih ada pertimbangan dengan dalih, kenapa harus saya, kan masih ada orang lain? Saya tidak sanggup! Tempat tinggal saya jauh!  Saya tidak memiliki kendaraan! Saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Alkitab! dan berbagai alasan logis lainnya. Intinya kita kembali kepada pertanyaan tadi di atas, Siapakah Aku Ini Tuhan?

Tuhan Yesus Sendiri Yang Memilih Kita

            Renungan kita malam ini justru memberi penegasan bahwa Tuhan Yesus sendiri yang mengambil inisiatif untuk memilih kita menjadi sahabatnya dalam melayani (ay. 16a). Dalam teks ini, ketika Yesus memilih murid-Nya, Dia tidak melihat latar belakang sosial-budaya, ekonomi bahkan pribadi orang-orang yang dipanggilnya. Dia dengan kasih dan anugerah-Nya memanggil mereka untuk menjadi murid-Nya. Yang mengagumkan, Yesus menjadikan mereka sebagai  murid sekaligus sahabat.

Kata sahabat adalah ungkapan Yesus yang luar biasa, mengungkapkan bahwa dalam pelayanan itu berhubungan dengan kemitraaan, kebersamaan, kesatuan dalam suka dan duka bukan atasan-bawahan. Yesus memposisikan diri-Nya sebagai sahabat bagi murid-murid yang dipilih-Nya. Menjadi sahabat menurut Yesus sepertinya mengutip apa pesan dari salah seorang kakek buyutnya yang sangat bijaksana, Raja Salomo, dalam Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”.

Bukti nyata bahwa Yesus menjadikan mereka sebagai sahabat, selama kurang lebih 3 (tiga) tahun, Yesus mengajar, membimbing, memperhatikan, menemani dan menggembalakan mereka dalam segala bidang kehidupan. Yesus juga selalu tampil menjadi “benteng” bagi murid-murid-Nya dalam menghadapi tantangan dan cobaan. Meskipun kadang kala murid-murid-Nya kurang percaya, kurang peduli, kurang mendengar bahkan terakhir ada yang menyangkal, mengkhianati bahkan “menjual” diri-Nya sampai menderita di kayu salib, tetapi Yesus tetap menjadikan mereka sebagai sahabat dalam pelayanan dan rela berkorban untuk mereka. Pengalaman Yesus dan murid-Nya ini dapat disebut “Sekolah Pelayanan” yang dipimpin oleh Yesus sendiri.

Malam ini kita juga dipanggil dan dipilih Yesus menjadi murid sekaligus sahabat-Nya dalam pelayanan. Kita sungguh beruntung karena kita yang terpilih dan tidak semua orang memiliki kesempatan untuk itu. Yesus sendiri mengatakan dalam Matius  22:14 “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

 

Tugas Kita: Menghasilkan Buah Dan Saling Mengasihi.

            Untuk memberi pendekatan tentang tugas kita, saya ingin membagi sebuah kisah (yang mungkin sudah pernah kita dengar) bagi kita:

“Konon di sebuah Kerajaan, ada seorang Raja yang bijaksana memiliki 3 (tiga) orang putera. Dia bingung memilih siapa yang menjadi penggantinya, karena sudah berjanji tidak ada anak emas atau tiri. Akhirnya dia memanggil anaknya satu persatu secara terpisah dan memberi satu pertanyaan yang sama kepada mereka, “seberapa besar kasih sayangmu kepadaku, anakku?  tanya Raja. Anak pertama menjawab, “seperti seindah mutiara batu manikam di dasar laut, ayahanda”. Sang Raja pun senang dengan jawaban ini. Anak kedua menjawab, “seperti emas yang berkilauan ayahanda, demikian kasihku kepadamu”. Ayahnya juga senang dengan jawaban ini. Kemudian anak yang ketiga (bunggu) dipanggil dan memberi jawaban yang lain dari yang lain, “kasihku kepadamu ayahanda seperti garam dapur”. Mendengar jawaban ini, sang Raja kurang senang bercampur marah dan mengatakan, “engkau tidak pantas menjadi seorang Raja!”. Anak itupun pergi dengan hati yang sedih. Tetapi sang koki (juru masak) kerajaan sempat mendengar jawaban anak bungsu ini.

Suatu ketika, juru masak menghidangkan makanan dengan tidak membubuhi garam. Akhirnya sang Raja tidak selera makan. Sementara emas dan mutiara tidak bisa dimakan!. Demikian juga ketika mengalami gangguan pencernaan, dan sang tabib kerajaan kebetulan sedang keluar daerah, maka si bungsu tampil dengan membawa LGG (larutan garam-gula). Juga ketika menghadapi binatang berbisa yang berkeliaran di taman bunga istana, maka si bungsu menaburkan garam di sekeliling taman itu, sehingga binatang berbisa menjauh. Akhirnya sang Raja baru mengerti bahwa meski sederhana, namun nilai kasih si bungsu sungguh luar biasa baginya. Sehingga si bungsu yang terpilih menjadi Raja”.

Tuhan telah memilih kita sebagai sahabatnya dalam melayani, tugas kita sekarang adalah pergi untuk menghasilkan buah yang menetap. Itu adalah perintah Yesus (ay. 16b). Tentu kita berkata, saya tidak memiliki harta (emas dan mutiara) yang banyak dalam melayani warga jemaat. Bukan itu yang paling utama dikehendaki Yesus dari kita. Buah yang menetap itu nampak ketika kita menjadi “garam” bahkan menjadi terang di tengah-tengah dunia (band. Mat. 5:13-16). Menjadi “garam” terwujud dalam sikap, perbuatan dan tutur kata kita yang menjadi berkat dan menjadi “penyembuh” bagi orang lain yang mengalami berbagai persoalan dan pergumulan hidup[4].

Melalui “garam” dalam bentuk iman, doa, kesetiaan dan ketulusan kita dalam melayani dapat juga menjadi alat yang ampuh dalam menghadang segala cobaan dan godaan dari berbagai ajaran yang menyesatkan warga jemaat yang menjadi tanggungjawab kita dalam pelayanan. Tugas ini tidak dapat dikerjakan sendiri-sendiri, melainkan perlu kerjasama yang saling menerima kelebihan dan kekurangan antar sesama pelayan. Disinilah perlu saling mengasihi (ay. 17).

Imanuel : Tuhan Beserta Kita

            Tugas pelayanan yang kita emban memang berat dan menguras energi, tenaga, pikiran bahkan materi. Kadang kala kita juga harus rela meninggalkan kepentingan pribadi dan keluarga demi pelayanan. Tetapi Yesus memberi satu jaminan bahwa Dia akan beserta dengan kita sekaligus memenuhi apa yang menjadi permintaan kita (ay. 16c). Tentu saja dengan catatan kita tetap patuh dan setia kepada perintah-Nya (ay. 14-15). Sekarang kembali kepada kita apakah masih terus bergumul dengan pertanyaan, Siapakah aku ini Tuhan? Atau justru sebaliknya kita kembali dari pembinaan ini dengan satu komitment seperti apa yang dikatakan Nabi Yesaya kepada Tuhan, “Inilah Aku, Utuslah Aku” (Yes. 6:8)?


[1] . Renungan yang disampaikan pada Ibadah Pembukaan Pembinaan Majelis se- Resort 45 BNKP, Jakarta, 16 Agustus 2011

[2] Syair lagu ini secara lengkapnya yakni Kasih setiaMu yang kurasakan, Lebih tinggi dari langit biru, KebaikanMu yang tlah Kau nyatakan, Lebih dalam dari lautan, BerkatMu yang telah kuterima, Sempat membuatku terpesona, Apa yang tak pernah kupikirkan, Itu yang Kau sediakan bagiku. Reff..Siapakah aku ini Tuhan?, Jadi biji mataMu, Dengan apakah kubalas Tuhan ?, Selain puji dan sembah Kau.  

[3]. Pelayan yang saya maksudkan adalah semua yang terlibat dan ambil bagian dalam pelayanan gereja di Resort 45. (Pendeta, SNK, Majelis Jemaat, BPMR – BPMJ, Pengurus Komisi, Pengurus Badan, Guru SM, dll).

[4]  Gereja-gereja yang tergabung dalam Lutheran World Federation (LWF) juga selalu mengumandangkan tugas panggilan menjadi penyembuh dunia (for the healing of the World).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s