PEMANGGILAN YESAYA “INI AKU TUHAN, UTUSLAH AKU” (Refleksi Yesaya 6:1-8)


Banyak cara untuk memanggil seseorang untuk menjadi pegawai/karyawan  resmi sebuah perusahaan atau juga di pemerintahan. Misalnya, melalui iklan penerimaan pegawai baru,  brosur yang dibagikan, atau juga melalui informasi dari teman. Diterima atau tidak bisa dalam bentuk panggilan langsung, panggilan via telepon, melalui papan pengumuman atau juga via surat.

Setelah diterima, tidak langsung menjadi pegawai/karyawan tetap. Dia harus mengikuti masa training atau pelatihan dulu berhubungan dengan skill, integritas dan juga loyalitas dalam tugas yang diberikan. Setelah semuanya dijalani baru dia diterima secara resmi.

 Bagaimana juga dengan Iman, Nabi, Rasul, Raja yang dipanggil Tuhan menjadi “karyawan/pegawai-Nya” yang sering disebut hamba-Nya?. Dalam Alkitab menceritakan banyak cara yang dipakai oleh Tuhan. Misalnya, pemanggilan Musa di gunung Horeb melalui nyala api di semak duri (Kel. 3:1-3); Samuel dipanggil 3 kali ketika sedang mau tidur (I Sam. 3:1-10), Daud menjadi Raja Israel melalui “seleksi” terhadap ketujuh anak Isa oleh Samuel. Yeremia bahkan telah terpilih sejak dalam kandungan ibunya (Yer. 1:5). Yesus juga dalam pemilihan kedua belas rasul memiliki berbagai peristiwa dalam pertemuan dengan mereka. Bahkan pemanggilan Paulus justru ketika dia sedang dalam perjalanan membunuh orang Kristen, namun bertemu Yesus di Damsyik. Dan banyak lagi peristiwa yang lain.

Dalam Firman Tuhan ini, pemanggilan Yesaya memiliki keunikan tersendiri karena dalam bentuk visi (penglihatan) di Bait Suci. Pemanggilan Yesaya sendiri dalam konteks ketika orang Israel berada dalam “kekacauan” baik sosial, politik dan spiritual. Mereka sedang berada dalam keterpurukan karena sibuk berperang dengan bangsa seperti Asyur dan Babel. Juga mereka menjauh dari Tuhan dengan menyembah ilah lain. Dari kondisi ini membuat Allah marah kepada mereka (lebih jelasnya lihat Yes. 1:1-4)

Untuk itu dia memanggil seorang Nabi yang bisa menjadi “juru bicaranya” dalam menegur sekaligus menubuatkan kehancuran bagi Orang Israel/Yehuda karena telah berpaling dari Tuhan (Yes. 1:9-12).

Dalam proses pemanggilan tersebut, Allah didampingi oleh para malaikat Serafim. Serafim secara harfiah disebut dengan “malaikat yang menyala” sehubungan dengan kemuliaan yang mereka miliki disamping Allah. Mereka memiliki 6 sayap yang terdiri dari dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Sambil melayang mereka menyanyikan lagu pujian untuk Tuhan. Karena suara mereka yang luar biasa sehingga menggoyangkan Bait Allah (Yes. 6:2-4)

Melihat situasi ini, Yesaya menjadi takut karena menyadari dirinya pasti Celaka karena telah melihat Allah. Karena pemahaman pada saat itu, siapa yang melihat Allah pasti mati (bd. Kel 33:20). Dan dia menyadari sebabnya karena dia adalah orang yang berdosa atau “najis bibir” (Yes. 6:5).

Tetapi Tuhan mengampuni Yesaya dengan mengambil bara dari mezbah dan menyentuhkannya ke mulutnya sebagai tanda pengampunan (Yes. 6:6-7). Sekarang setelah hidup Yesaya dipulihkan, maka muncul pertanyan, “siapa yang diutus Allah menyampaikan maksud dan tujuannya”? Dengan segera Yesaya menjawab, “Ini Aku, Utuslah Aku” (Yes. 6:8). Kesediaan ini adalah berasal dari kesungguhan hati, kesetiaan yang tentu saja dengan segala konsekwensinya yaitu penderitaan, celaan, hinaan bahkan pembunuhan dari sesama sebangsanya. Namun Yesaya menerima semuanya itu, karena dia tahu bahwa Tuhan akan bersamanya.

Bagaimana dengan kita? Kita juga telah dipanggil Tuhan menjadi umat-Nya dengan proses yang mahal melalui “kematian Yesus di kayu salib”.  I Petrus 1:18-19 tertulis,  “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”

Tugas kita sekarang adalah memulai hidup baru di dalam Tuhan (II Kor. 5:17), dengan menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia (Mat. 28:19-20 dan Kis. 1:8), melalui seluruh eksistensi kehidupan kita dengan menjadi “garam” dan “terang” dunia (Mat. 5:13-16). Tentu menjadi pengikut Yesus banyak tantangan dan cobaan, tetapi kita tidak perlu takut, karena Yesus sendiri melalui kuasa Roh Kudus akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Ingat, “banyak yang terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s