Semakin Ditindas, Semakin Percaya Kepada Yesus (Refleksi sederhana dari II Korintus 4:16-18)


(by. Pdt. Gustav Harefa). Saya terinspirasi dengan judul ini dari ungkapan salah seorang bapa Gereja mula-mula, Tertulianus, “semakin dibabat, semakin merambat”. Ungkapan ini ditujukan kepada orang Kristen mula-mula yang sungguh-sungguh menghadapi begitu banyak tantangan, cobaan dan rintangan dari luar terlebih penguasa Romawi dan juga dari pengaruh ajaran lain yang mempengaruhi iman mereka kepada Kristus (salah satunya gnostik yang menekankan kepada pentingnya pengetahuan dalam mencapai keselamatan). Meskipun demikian, mereka (orang percaya) semakin semangat dalam memberitakan Injil sehingga banyak orang yang menjadi “takjub” dengan iman mereka dan percaya kepada Yesus.

Bila dihubungkan dengan kehidupan sekarang ini, begitu sulitnya menyampaikan berita sukacita kepada orang lain. Terlebih di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sekuler, individualis dan terlalu bergantung kepada kecanggihan iptek, membuat berita Injil semakin sulit diterima.  Sekarang, jika kita ingin menegur suatu kesalahan teman, sahabat atau orang lain, mereka  marah dan berkata, “apa urusanmu dengan urusanku?”. Ada juga yang mengatakan, “Suka-sukakulah!. Yang hancur kan bukan dirimu”, “uangku juga yang habis, bukan uangmu”.  Tentu mendengar perasaan ini, perasaan kita menjadi sedih. Demikian juga ketika orangtua memberi nasehat kepada anak-anaknya, kadang-kadang anak menimpali dan berkata, “ah , pa/ma, ini kan udah zaman modern! Saya tidak perlu diatur, saya dah tahu kok dan bisa jaga diri”. Apalagi jika mengabarkan Injil, pasti kita dianggap, “orang sucilah”, “orang yang hanya masuk surgalah”, bahkan ada yang berkata, “saya udah mengerti, tidak perlu dikhotbahi lagi”, “saya lebih tahu dari kamu tentang Injil”, dll. Bahkan tidak sedikit, kita lihat  bagaimana orang-orang percaya di beberapa daerah di wilayah Indonesia, begitu susahnya beribadah karena tidak mendapat Ijin.  Melihat kondisi ini, bisa saja iman kita menjadi kecut, mundur dan tidak mau peduli lagi dengan kehidupan orang lain. Akhirnya kita menjadi bersifat eksklusif dan hanya memikirkan diri sendiri.

Lalu, sebagai orang percaya kepada Kristus, apa yang bisa kita lakukan? Melalui renungan ini, mari belajar kepada Paulus dalam pelayanannya yang penuh liku dan tantangan. Firman ini sebenarnya tidak terlepas dari ayat 1-15. Firman ini juga adalah nasehat Paulus kepada jemaat Korintus yang menghadapi begitu banyak tantangan karena iman mereka kepada Yesus. Pada bagian awal, Paulus menceritakan bagaimana mereka menerima pelayanan karena anugerah Tuhan (ay. 1). Tentu masih ingat bagaimana Yesus memanggil Paulus dalam perjalanan di damsyik. Pelayanan yang dimaksud adalah menyampaikan berita tentang sukacita tentang Yesus. Ayat 4 dikatakan, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah melupakan diri mereka sendiri karena Kristus. Bahkan menjadi hamba dari Yesus.

Sayangnya, dalam memberitakan Injil ini, banyak tantangan yang mereka hadapi. Di mana Paulus menyatakan bahwa tantangan itu adalah “maut” (kematian) yang senantiasa siap mengancam hidup mereka secara terus menerus (ay. 11). Dampaknya adalah  fisik Paulus dan teman-teman sepelayannya menjadi lemah, tidak kuat, karena  kecemasan dan ketakutan yang melanda hidup Paulus – tubuh lahiriah mereka menjadi merosot (ay. 16a). Tetapi dalam situasi demikian, mereka tidak kehabisan akal, karena Tuhan Yesus yang hidup dalam diri mereka, senantiasa memeberi kekuatan, sehingga tubuh batiniah mereka tetap percaya bahkan semakin kuat (dibaharui) dalam Kristus (ay. 16b).

Mengapa mereka tetap teguh kepada Yesus meski banyak penderitaan yang mendera mereka? Ayat 17 dan 18 memberi jawaban untuk itu. Paulus memiliki pengharapan yang teguh bahwa penderitaan yang dialami sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang diterima kelak. Meskipun pengharapan itu masih belum kelihatan, namun mereka yakin bahwa pengharapan di dalam Yesus membawa sukacita dan damai sejahtera (bnd. Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”).

Bagaimana dengan kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus?. Kita semua telah terpilih menjadi umat-Nya. Untuk itu kita semua adalah pelayan-Nya dalam menyampaikan Injil dari Yesus. Penyampaian Injil ini bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi dalam setiap gerak langkah kehidupan. Hidup dalam kehidupan yang berkepercayaan lain, tentu mengabarkan Injil yang hidup dan utama adalah “iman yang ditunjukkan dalam kasih (perbuatan)”. Pasti banyak tantangan yang akan kita hadapi, namun mari belajar kepada Paulus. Dia memberi kesaksian dalam ay. 8-9 dari perikop ini, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa”.

Kekuatan kita sama seperti Paulus adalah Yesus yang hidup dalam diri kita (bnd. II Kor. 5:17). Hidup dalam Dia akan membawa kepada pengharapan abadi. Kita seperti petani yang menanam padi di sawah.  Petani bekerja keras mulai dari membersihkan sawah, menanam bibit, menyiangi rumput, sampai menjaga padi ketika sudah menguning dari hama, tikus atau burung. Fisiknya memang lemah karena bekerja keras, namun itu semua tidak dipedulikan karena ada satu pengharapan bahwa kelak hasil panen padi ini akan membawa sukacita dalam hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s