TETAP TEGUH DI BAWAH PERLINDUNGAN TUHAN (Refleksi dari Yeremia 11:18-20)


Menyuarakan Kebenaran Suatu Dilema!

Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua diperhadapkan dengan satu dilema antara menyuarakan kebenaran atau tidak. Sering sekali gereja (termasuk para hamba Tuhan) dituntut oleh umat (warga jemaat) untuk menyuarakan suara ke-Nabi-an. Persoalannya sekarang adalah ketika para hamba Tuhan berani menyuarakan sekaligus mengkritik perilaku setiap “oknum” yang melakukan satu tindakan tercela seperti pejabat yang korupsi, judi, miras, narkoba, membungakan uang (riba),  prostitusi, dll melalui khotbah baik di atas mimbar gereja atau dalam pertemuan-pertemuan pelayanan gereja lainnya (PA/PD), para pelayan tersebut dianggap menyinggung perasaan. Dampaknya lebih lanjut terkadang warga jemaat yang merasa terganggu dengan khotbah/renungan tersebut memarahi hamba Tuhan atau ketika oknum tersebut orang yang punya kepentingan lebih dalam gereja meminta majelis untuk memindahkan hamba Tuhan tersebut atau dia pindah ke gereja lain sambil menceritakan keburukan gereja yang selama ini dia berada.

Demikian juga dalam kehidupan berkeluarga, kadang kala orangtua susah menegur anaknya karena anaknya suka mengabaikan bahkan melawan nasehat orangtuanya. Juga dalam hidup bertetangga, ketika melihat ada ketidakberesan dengan sesama kita lalu menegur perilaku buruk tersebut dianggap mencampuri urusan orang lain. Intinya menyuarakan kebenaran bagaikan makan buah simalakama. Menyampaikan akan menyinggung orang lain, tetapi bila tidak hati nurani dan iman kita juga menegur diri kita sendiri.

Belajar Dari Pengalaman Nabi Yeremia

Firman Tuhan hari ini memberikan satu contoh sekaligus teladan yang berharga bagaimana seorang Nabi Tuhan menghadapi dilema dalam menyuarakan suara kebenaran dari Tuhan. Dia adalah Nabi Yeremia. Yeremia adalah seorang Nabi yang masih muda ketika dipanggil Tuhan. Bahkan luar biasanya Tuhan telah memilih Yeremia semenjak dari dalam kandungan (Yeremia 1:5-6). Yeremia berasal dari Anatot (Suku Benyamin), kurang lebih 3 km di sebelah Timur laut Yerusalem. Yeremia hidup pada masa akhir kerajaan Yehuda oleh Babel. Yeremia juga ikut serta dalam pembuangan tersebut.

Konteks Firman Tuhan hari ini berbicara tentang bagaimana Nabi Yeremia bernubuat tentang murka Tuhan yang luar biasa dahsyat kepada umat Israel baik Yehuda dan Yerusalem termasuk  saudara sekampungnya sendiri (11:2). Allah telah mengikat perjanjian dengan nenek moyang orang Israel (Abraham, Ishak dan Yakub) yakni akan menyertai mereka senantiasa sampai keturunan mereka dengan catatan orang Israel tetap setia mendengarkan suara Tuhan (11:4-5). Sayang sekali orang Israel sekarang mengingkari janji tersebut dan tidak mau mendengarkan suara Tuhan lagi. Justru mereka berbalik kepada ilah yang lain (11:8). Itulah sebabnya, Allah menyuruh Yeremia untuk menyampaikan berita penghukuman dan kutukan kepada orang Israel (11:3; 11).  Bagaimana sikap Yeremia dengan tugas maha berat ini? Apakah dia berani menyampaikan pesan “kutukan” ini kepada bangsa dan saudaranya sendiri?. Bagaimana sikap orang Israel mendengarkan pesan menakutkan ini? Lalu apa tindakan Tuhan dalam membantu Yeremia? Dari Firman ini ada beberapa hal yang menjadi pelajaran bagi kita.

1.             Yeremia Lebih Setia Kepada Pesan Tuhan (Ay. 18)

Sering sekali dalam kehidupan kita, kita lebih takut kepada atasan atau orang yang kita hormati daripada Tuhan. Sehingga ketika mereka melakukan kesalahan atau tindakan yang melanggar kehendak Tuhan, kita terdiam dengan dalih “perasaan” atau “asal bapak senang” (ABS). Namun dalam Firman ini, meskipun Yeremia menghadapi dilema dengan tugas dari Tuhan ini, namun dia mengambil tekad bahwa setia serta patuh kepada Allah yang mengutusnya. Dia berani menyuarakan suara Tuhan dengan mencela bangsanya sendiri meskipun resikonya adalah nyawanya sendiri.

 2.             Yeremia Menghadapi Ancaman (Ay. 19)

Konsekwensi dari apa yang disampaikan oleh Yeremia kepada bangsanya telah menimbulkan kebencian, kemarahan dari sebangnya. Bahkan ada keinginan besar membunuh Yeremia. Yang pertama sekali ingin mencelakai Yeremia adalah saudaranya sendiri yang ada di Anatot (ay. 21). Melihat kondisi ini rasa kemanusiaan Yeremia muncul yaitu ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan. Dia merasa seperti “anak domba jinak” yang siap untuk disembelih. Hal ini memberi penjelasan bahwa Yeremia akan dijadikan sebagai tumbal atau korban persembahan kepada ilah-ilah yang telah dihina oleh Yeremia sendiri. Dia juga mengumpamakan dirinya seperti “pohon yang akan ditebang beserta buahnya”. Hal ini menunjukkan bahwa Yeremia beserta dengan orang-orang yang percaya dengan perkataannya akan dibunuh sehingga mereka tidak ada lagi di dunia ini.

Apa yang dialami oleh Yeremia ini juga seperti gambaran yang terjadi dalam diri Yesus Kristus di PB. Yesus sebelum menghadapi penangkapan, penyiksaan dan penyaliban yang membawa kepada kematian mengalami ketakutan. Hal itu nampak dari ungkapan perasaannya kepada Bapa-Nya di Sorga lewat Doa di Taman Getsemani agar cawan yang akan diminum-Nya biarlah berlalu. Namun demikian Yesus memberi keputusan terakhir kepada kehendak Bapa-Nya di Sorga. Meskipun sakit dan perih, tetapi Yesus tetap taat kehendak Tuhan   (lih. Lukas 22:42-44).

Kembali kepada Yeremia, dia juga menyerahkan sepenuhnya kehidupannya kepada Tuhan. Dia yakin dan percaya akan janji Tuhan bahwa akan senantiasa menyertai dia kemanapun melangkah (lih. Yer. 1:8). Itulah sebabnya dia menyampaikan keluhannya kepada Tuhan.

3.             Yeremia Mengeluh Hanya Kepada Tuhan (Ay. 20)

Bila kita dalam posisi Yeremia apa yang dilakukan? Sering sekali yang terjadi adalah mundur, mengalah atau bahkan kompromi dengan orang yang ingin berbuat jahat dengan kita. Ada kalanya juga muncul niat melarikan diri dari kenyataan atau bisa saja merusak diri sendiri (stress). Atau justru kita melawan fisik dengan fisik. Namun Yeremia dalam posisi yang terjepit, tidak ada jalan lain baginya selain mengeluh hanya kepada Tuhan. Keluhan dalam bentuk pengakuan ini adalah yang pertama dari keluhan-keluhan Yeremia lainnya seperti dalam Yer. 12:1-6; 15:10-21; 17:14-18; 18:18-23; 20:7-13; 20:14-18. Biasanya keluhan Yeremia ini terbagi dalam dua bagian yaitu keluhan Yeremia dan jawaban dari Allah sendiri.

Yeremia yakin bahwa Tuhan adalah pemilik semesta alam ini beserta segala isinya. Seluruh kehidupan berasal dari pada-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Jadi manusia tidak punya kemampuan untuk mengambil kuasa Tuhan atas hidup sesamanya di dunia ini. Yeremia juga meyakini bahwa Tuhan adalah seorang hakim yang adil. Dia bisa melihat kedalaman hati setiap manusia mana yang benar dan tidak. Sehingga Yeremia yakin dengan tindakannya dan percaya bahwa Tuhan pasti berpihak kepadanya. Yeremia juga menyadari dirinya hanya bagian dari ciptaan Tuhan sehingga tidak membalas dendam kepada orang yang ingin membunuhnya. Justru keputusan akhir dia serahkan kepada Tuhan sendiri. Biar Tuhan sendiri yang mengadakan pembalasan (bnd. Mazmur 9:9)

Bagaimana jawaban Tuhan dengan keluhan Yeremia ini? Bila kita membawa ayat 21-22 jelas mengungkapkan bahwa Tuhan tidak membiarkan Yeremia sendiri dalam menghadapi musuh yang ingin membunuhnya. Tuhan tampil menjadi benteng yang kokoh bagi Yeremia. Dia juga langsung turun tangan dengan memberi pelajaran (hukuman) kepada orang yang ingin berniat tidak baik kepada Yeremia. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN ITU MELINDUNGI SETIAP ORANG YANG SETIA KEPADA-NYA.

Tugas Panggilan Kita Menyuarakan Suara Kebenaran

Membaca dan mendengar Firman Tuhan ini, sekarang kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Tuhan dan menjadi percaya kepada-Nya terpanggil untuk menjadi saksi-Nya dimanapun kita berada (bnd. Kis. 1:8). Di tengah bangsa kita yang mengalami krisis moral, adakah keberanian dalam diri kita menyuarakan suara Tuhan mengecam ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum lemah, mengecam prostitusi, narkoba, miras, judi yang dapat merusak moral generasi muda? Sebagai hamba Tuhan juga apa kita berani menegur para “oknum pejabat” yang nota bene sebagai warga jemaat tempat kita melayani yang melakukan KKN, ketidakjujuran, kebohongan dalam tugasnya?. Adakah kita berani menyampaikan suara kenabian di lingkungan kita?   Saya yakin bahwa ini tugas berat.

Mudahan kita masih ingat peristiwa tahun lalu yang terjadi di daerah Surabaya (Jawa Timur) ketika seorang anak Sekolah Dasar dengan polos dan jujur melaporkan kepada orangtuanya  adanya indikasi contek masal pada saat Ujian Akhir Nasional di sekolahnya? Kemudian orangtuanya melaporkan kepada pejabat setempat kasus ini. Apa yang terjadi bukannya didukung oleh orangtua yang lain, justru anak ini dan keluarganya diusir dari rumah dan dari kampung halaman mereka. Namun mereka tetap teguh pada prinsip kejujuran. Dampaknya, orang sekampungnya sadar dan meminta mereka kembali ke kampong. Ini menunjukkan mahalnya nilai kejujuran dan kebenaran.

Demikian juga halnya dengan kita. Dengan belajar kepada Yeremia dari Firman ini dapat menjadi kekuatan bagi kita dalam menjalankannya. Tentu saja terlebih dahulu kita melihat diri kita apa sudah mampu menjalankan apa yang kita sampaikan atau belum.  Ada juga kecenderungan orang lebih senang untuk menegur orang lain, padahal dirinya sendiri berbuat hal yang sama. Itu sebabnya Yesus dalam Mat. 7:3-5  “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”. Intinya menyuarakan kebenaran tentu dengan memulai dari diri sendiri.

Dalam menyuarakan suara kebenaran pasti ada tantangan yang kita hadapi. Jangan mundur seperti Yeremia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Keyakinan dan kepercayaan kita kepada Tuhan akan membantu diri kita sendiri bahwa Tuhan akan setia kepada janji-Nya untuk menyertai kita. Selamat Menyuarakan Suara Kebenaran!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s