BELAJAR DARI ANAK YANG HILANG (Sebuah Refleksi Sederhana Dari Lukas 15:11-32)


Anak Yang HilangOleh : Gustav Harefa

Firman Tuhan ini adalah bagian dari perumpamaan Yesus tentang hal Kerajaan Sorga. Dalam pelayanan-Nya, Yesus selalu memakai perumpamaan dari kehidupan sehari-hari pada zaman tersebut agar setiap orang yang mendengarkan dapat mengerti apa makna di balik ucapan-Nya (bnd. Mark. 4:33-34). Konteks Firman ini adalah Yesus ingin memberi jawaban terhadap orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang selalu bersungut-sungut karena Yesus selalu bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa (Luk. 15:1). Untuk itu, Yesus memakai satu perumpaan yang sangat terkenal hingga saat ini yaitu “perumpamaan tentang anak yang hilang”. Teks ini hanya diketemukan di Injil Lukas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ini berasal dari kesaksiannya sendiri tentang Yesus.

Prinsip “3 TA” TAHTA, HARTA, DAN WANITA

Dalam kehidupan sehari-hari minimal ada 3 hal yang selalu menggoda hidup manusia sehingga dapat menyebabkan dirinya jatuh ke dalam keinginan daging. Ketiga hal tersebut yaitu ambisi untuk memiliki kuasa (Tahta) dengan menghalalkan segala cara, keinginan yang kuat memiliki harta yang banyak meskipun dia sudah memiliki banyak materi (Harta), dan khususnya bagi kaum laki-laki kurang puas jika tidak menghamburkan hartanya untuk keinginan mata termasuk jatuh ke dalam pelukan “wanita” yang bukan istri atau pasangannya yang sah.

Mengapa orang bisa korupsi, padahal dia sudah memiliki segala sesuatu? Karena tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Dalam satu keluarga, bisa saja terjadi pertikaian hanya karena warisan harta orang tua. Dan, orang berselingkuh karena tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Dalam PL, kejatuhan Raja Salomo pada akhir pemerintahannya juga karena ketiga hal ini. Itulah sebabnya Yesus memberi peringatan dalam Mat. 6:21 “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”.

Pada teks ini, Yesus mencoba memakai pendekatan yang lain dalam menjelaskan ketiga hal di atas melalui sebuah perumpamaan seperti dalam teks ini. Perumpamaan ini dibuka dengan menceritakan sebuah keluarga  yang memiliki 2 orang anak laki-laki (ay. 11). Dalam teks ini tidak dijelaskan secara rinci apakah keluarga ini memiliki anak perempuan, namun secara tersirat melihat kepala keluarga yang sangat kaya raya dipastikan dia juga memiliki anak perempuan. Sayangnya, tidak disebutkan karena yang berhak disebut anak dan menerima warisan hanya anak laki-laki.

Tidak terduga, tiba-tiba anak bungsu meminta bagian harta warisan dari ayahnya (ay. 12). Sebenarnya ini sudah hal yang lazim. Tapi, sepertinya anak bungsu ini tidak sabar dalam pembagian harta. Dia takut dengan abangnya yang sebenarnya memiliki hak pertama dan lebih dalam pembagian harta. Namun, anak bungsu ini ingin merebut hak “TAHTA” tersebut. Karena kasih sayang ayahnya, dia memberikan bagiannya. Sepertinya harta yang diberikan dalam bentuk tanah atau ternak, karena setelahnya dia menjualnya kembali dan pergi ke negeri orang lain (ay. 13). Di sana dia berfoya-foya dengan harta yang banyak, miliknya. Sayangnya, di daerah tersebut bencana kelaparan datang sehingga ketika hartanya habis, dia tidak memiliki apa-apa. Bahkan, dia menjadi seorang upahan menjaga babi di ladang dan hidupnya sangat menderita (ay. 13-16). Kalau boleh dikatakan, hidupnya “sudah jatuh, ketimpa tangga pula”.

Lebih Baik Terlambat, Dari Pada Tidak Datang Sama Sekali

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Ini juga yang terjadi dengan anak bungsu ini. Dia merasa dirinya menjadi hina, kotor dan tidak berguna. Akan tetapi, dalam penyesalannya yang paling dalam, dia bangkit dan kembali ke rumah ayahnya. Apapun yang akan dikatakan ayahnya, dia siap menerima konsekuensinya. Yang penting bagi dirinya, dia mengakui kesalahnnya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi (ay. 17-21).

Kasih Setia BAPA Sepanjang Masa

Luar biasanya di luar dugaan anak bungsu ini, ayahnya justru menerimanya dengan penuh kasih dan sukacita. Ia mengadakan pesta besar dalam penyambutan anaknya tersebut. Karena ia merasa bahwa, ia tidak akan pernah bertemu kembali dengan anaknya yang bungsu itu karena tidak pernah ada kabar semenjak pergi dari tengah-tengah keluarga. Sehingga ia anggap sudah mati. Nyatanya, anaknya itu masih hidup dan kembali dengan penuh perasaan penyesalan. Inilah yang membuat ia bahagia (ay. 22-24). Ayah anak bungsu ini saja sangat mengasihi anaknya yang telah pergi, meskipun banyak kesalahan, terlebih Bapa kita yang di Sorga, Ia senantiasa menunggu diri kita kembali kepada-Nya.

Mari Kembali Kepada Tuhan Selagi Ada Waktu

Setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Untuk itu selagi masih ada waktu, mari kita kembali ke jalan Tuhan dan mengikuti semua petunjuk-Nya. Semua yang kita miliki di dunia ini hanya sementara dan itu hanya berakhir di pintu kematian. Setelah itu, kita akan diuji sesuai dengan iman, kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Memulai hidup baru di dalam Tuhan pasti sulit. Selain, berusaha meninggalkan kebiasaan buruk kita di masa lalu, kita juga harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak senang dengan hidup baru kita. Bisa saja itu adalah orang dekat kita seperti anak yang sulung, yang tidak senang dengan penyambutan ayahnya yang sungguh luar biasa kepada adeknya. Namun, mari kita siap menghadapinya sambil terus membuktikan pada Tuhan dan orang lain, bahwa memang kita benar-benar sudah tidak menjadi “Anak Yang Hilang Lagi”.

Kembalinya kita akan membawa sukacita kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk. 15:31-32).

One thought on “BELAJAR DARI ANAK YANG HILANG (Sebuah Refleksi Sederhana Dari Lukas 15:11-32)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s