MERUNTUHKAN “DINDING” PEMISAH (Refleksi dari Kisah 11:15-18)


Pdt. Gustav Harefa

Ada “Dinding Yang Tinggi” di Antara Hatiku dan Hatimu

wall(1)Saya yakin dan percaya, kita semua pasti tahu dengan lagunya “Hatimu-Hatiku”, yang dipopulerkan oleh duet suami-istri, Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora. Sejak lagu ini mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an, langsung booming hingga sekarang. Tua-muda, pasti senang dengan lagu ini dan sering dinyanyikan dalam berbagai acara seperti pernikahan, temu-pisah, pertemuan formal-informal, dll. Lagu ini mengungkapkan bagaimana perasaan dua sejoli yang sedang jatuh cinta dan ingin bertemu, namun dibatasi oleh satu dinding yang sangat tinggi. Jelasnya dalam syair bagian reffnya dikatakan, “Diantara hatimu hatiku. Terbentang dinding yang tinggi. Tak satu jua jendela disana. Agar ku memandangmu”.

Tidak jelas terungkap, apa “dinding” yang memisahkan kedua sejoli ini. Namun, logisnya dinding itu bisa berupa, tradisi atau adat istiadat yang berbeda, orang tua yang tidak menyetujui hubungan mereka, tempat yang berjauhan, perbedaan strata sosial, ekonomi, agama dll. Hal itu didukung oleh kondisi sosial budaya pada tahun itu yang menyulitkan pertemuan seorang perempuan dan laki-laki secara bebas seperti sekarang ini. Meskipun ada “dinding” yang tinggi itu, namun kedua sejoli ini tetap mempertahankan cinta karena selalu teringat akan “senyum” yang selalu membayang. Hal itu terungkap dalam bait kedua syair lagu tersebut, “Ada suatu antara kita. Yang tak dapat ku mengerti. Hanya senyummu selalu membayang. Membuat ingin bertemu”. Dalam pengertian, mereka akan berupaya meruntuhkan “dinding” tersebut dengan cinta mereka yang tulus.

Ada “Dinding” Yang Memisahkan Antara Yahudi dan Non Yahudi

Konteks Firman Tuhan ini juga menunjukkan ada “dinding” di antara yang percaya kepada Yesus khususnya yang berlatar belakang Yahudi dan non-Yahudi. Persoalan ini muncul ketika Petrus membaptis Kornelius, seorang non Yahudi (pasal 10). Hal itu terungkap ketika Petrus tiba di Yerusalem, dia didebat oleh orang Kristen dari latar belakang Yahudi. Kisah 11:2-3 tertulis,  “Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Apa masalahnya Petrus ke rumah Kornelius dan makan bersama dengan dia? Di sinilah “dinding pemisah” tersebut muncul. Ada beberapa faktor antara lain Pertama, persoalan tradisi atau adat istiadat. Orang Yahudi yang menekankan sunat, tidak suka dengan non Yahudi yang tidak mengenal sunat. Kedua, persoalan politis. Orang Romawi pada saat itu yang memerintah daerah Yerusalem. Sehingga mereka tidak suka dengan mereka. Hal ini ditambah Kornelius adalah seorang perwira (Kis. 10:1). Ketiga, persoalan kepercayaan. Orang Yahudi selalu menganggap diri mereka benar karena bangsa pilihan. Sementara bangsa lain adalah kafir.

Menjawab persoalan ini, Petrus memberikan beberapa penekanan bahwa semuanya itu adalah pekerjaan Roh Kudus (ay. 15). Mengapa? Pertama, Kornelius adalah seorang pribadi yang saleh dan setia kepada Tuhan serta mengasihi orang Yahudi.  Dalam Kis. 10:2 ditegaskan a) Ia saleh, b) ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan c) ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan d). senantiasa berdoa kepada Allah. Kedua, melalui malaikat Allah, menyampaikan bahwa Allah senang dengan sikap Kornelius dan mendengar doanya (Kis. 10:4). Ketiga, Roh Allah yang menuntun Petrus pergi ke rumah Kornelius (Kis. 10:19). Keempat, bahwa dengan kuasa Roh Kuduslah, Petrus membaptis Kornelius (Kis. 11:16). Kelima, bahwa kuasa Roh Kudus hadir untuk setiap orang yang percaya kepada Tuhan (Kis. 11:17). Mendengar penjelasan ini, akhirnya setiap orang Yahudi memahami dan meruntuhkan “dinding pemisah” yang ada di dalam hati mereka selama ini sambil mengatakan, “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (Kis. 11:18).

Tentang baptisan Kornelius sendiri dalam “The Catholic Encyclopedia” memberi ringkasan pentingnya baptisan Kornelius sebagai berikut: “Baptisan Kornelius merupakan peristiwa penting dalam sejarah kekristenan. Pintu gereja, yang saat itu hanya terbuka untuk orang-orang yang bersunat (orang-orang Yahudi) dan menuruti 613 Mitzvot (hukum) Taurat Musa, sekarang terbuka untuk orang-orang non-Yahudi yang tidak bersunat, tanpa harus melalui upacara masuk menjadi orang Yahudi”[1]

“Dinding Pemisah” Di Tengah Persekutuan Orang Percaya

Tanpa kita sadari juga dalam persekutuan kita sebagai orang percaya, ada “dinding-dinding” yang memisahkan antara kita dengan yang lain. Misalnya saja di dalam gereja, kadang kala melihat status sosial dan ekonomi. Jikalau orang tersebut memiliki jabatan, kuasa atau seorang kaya, maka gereja lebih memberi perhatian lebih kepada mereka. Sementara orang yang miskin, tidak dianggap sebagai bagian dari persekutuan dalam gereja. Belum lagi, ketika di dalam ibadah ada kalanya jemaat yang satu dengan yang lain tidak bertegur sapa. Belum lagi majelis yang tidak serasi dalam pelayanan.

Dalam teks ini memberi penekanan bahwa di dalam Tuhan kita semua sama. Justru sebagai orang percaya saling merindukan, mendukung, menopang, mengasihi satu dengan yang lain dan tidak dibatasi oleh dinding-dinding yang memisahkan. Tugas kita sekarang, kembali kepada lagu “Hatimu-Hatiku”, mari kita membuka “jendela hati kita” sehingga dapat melihat sesama kita yang lain dan bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan.

Apalagi kita yang telah ditebus oleh Tuhan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, maka kita bersama-sama dengan orang percaya mempunyai hidup yang baru seperti nama minggu kita Kantate, yang berarti “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus” (Mazmur 98:1).


[1]  F. Bechtel, Catholic Encyclopedia, 1908, Wikipedia, entri kata “Kornelius”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s