PERSEMBAHANKU (ROMA 12:1)


Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Dalam kehidupan bergereja dewasa ini, sering warga Jemaat kurang memahami apa nilai dan untuk apa persembahan. Sebagian besar warga jemaat melihat persembahan dari segi materi dimana persembahan dinilai dari “mata uang/rupiah” dan benda yang diberikan. Kadang kala warga jemaat melihat persembahan dari segi para pelayan, dalam arti merasa malas untuk memberikan persembahan, oleh karena menduga persembahan dalam bentuk “uang” adalah semua untuk kebutuhan Pendeta. Kadang kala juga, melihat dari segi besar kecilnya, dimana persembahan yang telah diberikan menjadi “keangkuhan” tersendiri dengan besar persembahan yang diberikannya. Kadangkala juga warga jemaat melihat dari segi sukacita. Dalam arti memberi persembahan hanya ketika ada sukacita yang diterima misalnya: Kelahiran anak, pernikahan, promosi pekerjaan, keberuntungan, dll. Bahkan ada juga warga gereja melihat dari segi pengampunan dosa. Dalam arti memberi persembahan sebagai “alat suap” untuk Tuhan demi pengampunan dosa-dosa yang dilakukannya seraya memohon berkat yang melimpah…dengan dalih “ah, semua bisa diatur dengan uang”!!. Untuk yang terakhir ini, kasihan juga Tuhan ya? Bisa disuap!!!..(Yes. 1:10-20; Amos 5:21-24).

Benarkah nilai persembahan diukur dari semua hal di atas? Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Nats ini adalah teguran Paulus kepada jemaat di Roma dimana sering terjadi pertikaian di antara mereka yang salah salah satunya berdasar kepada nilai persembahan, dengan melihat salah satu dari segi di atas. Namun, Paulus mengatakan bahwa yang utama dalam persembahan adalah tubuh kita sendiri. Tubuh adalah keseluruhan anggota badan yang diciptakan Tuhan begitu indahnya buat kita. Dan inilah yang kita berikan. Tentu hasil dari “gerakan anggota badan itu” seperti mata, mulut, tangan, kaki dsb, kita pergunakan untuk bekerja yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada akhirnya “gerakan-gerakan” anggota tubuh kita tersebut menghasilkan berkat seperti pekerjaan, harta benda, keluarga dll. Nah,..berkat dari gerakan anggota tubuh kita itu sekarang kita kembalikan menjadi ucapan syukur kepada Tuhan yang kita sebut dengan persembahan.

Lalu pertanyaan muncul, bagaimana kita memberikan persembahan tersebut untuk Tuhan, padahal Tuhan tidak ada dalam bentuk wujud nyata?. Ya…tentu saja melalui para pekerja diladang Tuhan dan juga untuk semua pekerjaan pelayanan Tuhan di dunia ini. I Korintus 9:14 berkata “Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu”. Jalan persembahannya dengan memberi yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Kita bukan memberi dengan “kekuatan pikiran” kita sendiri, tetapi diberi dengan hati yang tulus. Kita teringat dengan persembahan janda miskin di Lukas 21:1-4. Orang lain memberikan “sedikit” dari “banyaknya harta” yang mereka miliki. Namun janda miskin ini memberikan “semua” dari harta yang dimilikinya. Akhirnya Yesus memuji tindakan janda tersebut dan menghargai persembahannya. Inilah ibadah yang sejati itu!!!…kata Paulus menutup Roma 12:1.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s