HARAPAN YANG TIDAK PERNAH HILANG (Refleksi Roma 12:11-12)


Pdt. Gustav G. Harefa

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

23:18 Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

 

Saudara yang terkasih di dalam Kristus….

  • Kita bisa hidup sampai sekarang oleh iman kita mengatakan bahwa itu semua karena “Anugerah Tuhan”
  • Namun, di sisi lain tanpa kita sadari bahwa kita bisa menjalani hidup karena dalam diri kita selalu ada “Harapan”.
  • Harapan atau asa adalah dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan atau didapatkan yang  berbuah kebaikan di waktu yang akan datang
  • Setiap orang pasti memiliki harapan. Misalkan saja:
  • Mengapa orangtua kita mati-matian bekerja di sawah atau di ladang, tidak mengenal lelah, tidak mengenal sakit, tidak mengenal penderitaan? Karena dalam diri mereka ada “Harapan” bahwa hasil kerja mereka untuk kebutuhan keluarga termasuk biaya anak-anak
  • Mengapa seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta, melakukan berbagai cara (bersikap baik – rajin ibadah, bertutur kata baik, berpenampilan menarik – meski baju yang dipinjam J, rela berkorban materi tanpa berpikir apa dampaknya – meski uang dipinjam atau uang komite, uang asrama/kost dipakai dulu sebentar J, dll)? Itu semua demi sebuah “Harapan” mendapatkan hati gadis yang dia senangi.
  • Mengapa kita sebagai pelajar rela tidak tidur satu malam dalam mengerjakan tugas, rela menderita? Demi satu “Harapan”, mendapat nilai yang baik dan cepat lulus.

 

Saya teringat dengan sebuah kisah di abad pertengahan (antara tahun 600-1400) dimana gedung gereja dibangun secaa megah. Ada 3 (tiga orang) TUKANG BATU yang sedang memasang batu tembok sebuah gedung gereja. Kepada mereka diajukan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang anda lakukan?”

 

  • Tukang batu pertama tampak heran mendengar pertanyaan itu. Ia seolah berpikir, sudah jelas pasang batu tembok kok, masih ditanya lagi. Lalu ia menjawab, “Saya sedang meletakkan batu yang satu di atas batu yang lain”
  • Tukang batu kedua menjawab sambil senyum, “Saya sedang mencari nafkah?”
  • Tukang batu ketiga berpikir dulu bentar, lalu menjawab “Saya sedang memabangun katedral di mana nanti orang-orang akan berbakti dan nama akan Tuhan dimuliakan”.

 

Jawab manakah yang benar? Kalau kita diajukan pertanyaan yang sama sebagai tukang batu, apa jawaban kita?

 

  • Tukang batu yang pertama memberi jawaban yang REALISTIS. Betul, ia memang sedang meletakkan batu-batu. Itulah pekerjaannya. Sehingga yang ada adalah bosan dan melelahkan.
  • Tukang batu yang kedua memberi jawaban yang PRAGMATIS. Tiap orang perlu makan, sebab itu ia bekerja demi imbalan (upah). Akhirnya ketika ia bekerja, yang penting selesai dan dapat uang. Baik atau tidak itu urusan belakangan.
  • Tukang batu yang ketiga memberi jawaban yang IDEALISTIS. Jawabannya seperti membual (hanya mimpi, hanya angan-angan), namun dalam jawaban itu sebenarnya ada HARAPAN yang jauh ke depan. Ia bukan hanya sekedar bekerja. Ia juga bukan hanya mencari uang. Namun, ia ingin mendapatkan sesuatu dari hasil pekerjaannya, yang menjadi berkat dan dirasakan orang lain.

 

Saudara yang terkasih….

  • Sering kita berpikir seperti tukang batu pertama dan kedua. Berpikir realistis dan pragmatis. Mengapa kita belajar?
  • Jawaban kita adalah realistis, belajar dengan masuk kelas, kerjakan tugas, demi nilai.
  • Jawaban pragmatis kita, demi gelar atau selembar ijazah.
  • Namun, pernahkan kita memberi jawaban yang ideal? Demi masa depanku! Demi membahagiakan orangtua dan keluargaku! Demi melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama!
  • Renungan kita malam ini berbicara juga tentang Harapan akan masa Depan. Masa depan adalah hari yang belum kita lalui (esok, lusa, dst), namun pasti akan kita lalui selagi
  • Tuhan memberikan waktu kehidupan untuk kita. Ketika kita masuk di SMP Negeri 1 banyak harapan yang ada dalam hati. Namun, ketika masuk di dalam harapan tersebut ada yang makin bersemangat, namun ada yang patah semangat namun mengambil keputusan keluar dari SMP Negeri 1.
  • Dalam menggapai harapan kita di SMP Negeri 1 ini banyak tantangan yang kita hadapi, masalah ekonomi, masalah adaptasi lingkungan, tekanan tugas, ketidakhormat junior, , sering m embuat kita “pusing” dan “gegana”.
  • Dalam menggapai harapan tersebut ada pesan-pesan moral bagi kita.
  • Bersukacitalah dalam pengharapan. Ada kata bijak dalam Amsal, “Hati yang gembira adalah obat”. Ketika kita bersukacita maka semua bisa dijalani dengan damai.
  • Sabar dalam kesesakan – sekarang ini orang mau yang instan. Tidak perlu belajar, lulus. Tidak perlu kerjakan PR, dapat nilai baik. Tidak perlu sekolah, dapat ijazah. Justru di sini Paulus katakan kita harus sabar dalam kesesakan. Kadang kala pemikiran Tuhan berbeda dengan kita. Kata pepatah Nias, “Haniha zalio, onia banio, haniha zara, onia kara”. Namun, di dalam Tuhan dituntut kesabaran. Itu sebabnya selalu ada ungkapan, “orang sabar kasihan Tuhan”

Dalam kesabaran perlu kerja keras termasuk belajar keras.

  • Bertekunlah dalam doa. Doa adalah sarana komunikasi dengan Tuhan. Melalui doa kita sampaikan apa kelemahan dan kekurangan serta memohon petunjuk dari-Nya.

Saudara yang terkasih….

  • SEBENTAR LAGI BERPISAH? Ada ungkapan “Bukan Perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuan yang kusesali” Di dalam Tuhan kita tidak menyesali pertemuan – pertemuan menjadi awal persahabatan
  • Di dalam Tuhan tidak menangisi perpisahan – awal menuju kemandirian sekaligus menguji kesetiaan dalam persahabatan
  • Bagaimana sikap ketika ketika lulus HURA-HURA atau MENGUCAP SYUKUR?

 

* Bahan Renungan yang disampaikan pada Doa Restu Kelas 9, SMP Negeri 1 Gunungsitoli, 06 Mei 2016

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s